Harga BBM Naik, Sopir Angkot Resah
Meski pemerintah belum menaikkan harga BBM, mayoritas sopir angkutan kota (angkot) di Kota Batu sudah resah
Laporan Wartawan Surya, Iksan Fauzi
TRIBUNNEWS.COM – Meski pemerintah belum menaikkan harga BBM, mayoritas sopir angkutan kota (angkot) di Kota Batu sudah resah. Pasalnya, dengan kenaikan BBM nanti, mereka memprediksi jumlah penumpang bakal turun drastis.
Dengan naiknya harga BBM, otomatis sopir angkot bakal menaikkan tarif. Kondisi ini diperparah lagi jika masyarakat lebih memilih naik sepeda motor. "Belum lagi setoran dan onderdil, apalagi sekarang waktunya tahun ajaran baru anak sekolah, tambah puyeng," ujar Majid, sopir angkot jurusan Batu-Junrejo-Landungsari, di terminal Kota Batu, Rabu (19/6/2013).
Saat ini, kata Majid, dirinya masih bisa membawa uang antara Rp 25 ribu - Rp 30 ribu. Itupun sudah dipotong untuk setoran kepada pemilik angkutan sebesar Rp 50 ribu/hari. "Sebagian besar penumpang saya adalah anak-anak sekolah," tambahnya.
Ketua Aliansi Pengemudi Mobil Penumpang Umum (APMPU) Kota Batu, Heri Junaedi mengatakan menghadapi kenaikan BBM ini, pihaknya sudah membuat ancang-ancang menaikkan tarif per jalur angkutan. "Di Kota Batu ada sembilan jalur, 350 mobil angkutan, dan 1.000 sopir," urainya.
Ia menambahkan, kenaikan tarif bervariasi, antara Rp 500 hingga Rp 1.000/penumpang. Untuk jalur yang memiliki medan menanjak, seperti ke Batu-Pujon naik Rp 1.000. Saat ini, tarifnya Rp 3.500. "Kenaikan BBM otomatis menurunkan pendapatan bersih hingga 10 persen. Untuk setoran biasanya naik Rp 5.000. Kalau tarif angkutan mahal, penumpang nanti memilih naik sepeda," tukasnya.
Heri berharap, pemkot membantu mengatasi kesulitan pada sopir angkutan ini dengan cara merealisasikan rest area (tempat istirahat), bagi wisatawan yang berkunjung di Batu. Pihaknya bersedia bekerja sama dengan pemkot untuk mempermudah pengangkutan wisawatan ke obyek wisata. "Kalau ada rest area, penumpangnya jelas. Kami bekerja sama dan memperbarui angkutan kami," pungkas Heri.