Kisah Sahabat Lama Menteri yang Menjadi TKI Lalu Beternak Ayam
Buruh migran atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tak selamanya berpendidikan rendah
Laporan Wartawan Surya, Yuli Ahmada
TRIBUNNEWS.COM – Buruh migran atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tak selamanya berpendidikan rendah. Muhammad Tanwirul Fathoni contohnya. Dia bergelar sarjana teknik mesin dari Universitas Darul Ulum, Jombang, persis teman seasramanya dulu, Helmy Faishal Zaini yang kini jadi Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal.
Irul atau Ithung, nama panggilan Tanwirul, hidup seasrama dengan Helmy Faishal saat masa Orde Baru, hingga ia lulus tahun 1997. Mereka pernah sama-sama terlibat penelitian ihwal nasib para pejuang Revolusi Kemerdekaan di masa Orde Baru.
“Kami jadi sering bertemu Gubernur Jatim saat itu, Pak Basofi Sudirman. Zaman itu, kami pernah dikasih uang Rp 300.000. Uang yang cukup besar bagi mahasiswa,” kenangnya.
Namun selepas kuliah Ithung tak lagi tertarik urusan politik, karena berpikir kebutuhan perut. Ini beda dengan koleganya, Helmy Faishal yang lantas berkarir di politik.
“Tapi sejak dulu kami memang beda nasib, dia anak kiai kaya dari Cirebon, saya orang biasa,” kata Ithung, warga Kelurahan Dandong, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, kepada Surya (Tribunnews.com Network), Minggu (10/11/2013).
Beda trah atau keturunan itu rupanya membedakan pilihan hidup. Jika Helmy merintis jadi politisi, Ithung merantau ke Bali. “Di sana kerja jadi teknisi mesin di tambak udang,” kenangnya.
Ithung bertahan 5 tahun di Bali, kemudian merantau sebagai buruh migran legal ke Malaysia. “Di sana, ijazah saya tak terpakai, wong kerjanya operator backhoe di Bukit Sri Alam, Johor Bahru,” kenangnya.
Masa merantau di Malaysia itu dilakoninya sejak 2003 hingga 2009. Selama 6 tahun di Malaysia itu, dia membangun mimpi untuk berwirausaha setiba di Tanah Air. Pada 2009, dia pulang membawa modal yang menurut perkiraannya cukup besar. Maka, mulailah dia beternak ayam petelur. “Ternyata modal dari Malaysia kurang,” ujarnya lalu tertawa.
Ithung kemudian memutuskan bekerja lagi di Malaysia, sedangkan ayamnya yang masih sedikit diurus ayah dan adiknya. “Saya bertekad menambah modal selama 2 tahun saja di sana,” ujarnya.
Sebagai buruh migran legal, dia beruntung, karena dapat bekerja dan bergaji layak. Pada 2011, dia pulang lagi dan modalnya sudah bertambah. Ia tidak ingin seperti banyak temannya sesama buruh migran yang terus-menerus bekerja di negeri orang.