Selamatkan Tuntong Laut dari Kepunahan
Tuntong masuk ke dalam spesies kura-kura air tawar yang lokasi persebarannya terletak di wilayah Sumatera, Kalimantan, Malaysia dan Thailand.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tuntong (Batagur borneoensis) atau tuntung sebutan masyarakat di Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang masuk dalam daftar satwa terancam punah dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), sebuah organisasi lingkungan global terbesar dan tertua di dunia.
Berdasarkan rilis yang dikeluarkan IUCN, tuntong laut berada di urutan ke-25 dari 327 species di dunia yang termasuk kategori critical endangered.
Tuntong masuk ke dalam spesies kura-kura air tawar yang lokasi persebarannya terletak di wilayah Sumatera, Kalimantan, Malaysia dan Thailand.
Spesies kura-kura ini hidup di air payau sekitar area pantai dengan memakan tumbuh-tumbuhan maupun juga buah-buahan yang terdapat di hutan bakau sekitar pantai. Ketika musim bertelur tiba, pada Bulan Oktober hingga Februari, betina akan mencari tempat di pantai untuk menetaskan telurnya.
Saat ini keberadaan tuntong sudah jarang sekali ditemui. Pemicunya perburuan liar untuk menjadikan tuntong sebagai
hewan peliharaan (pet) maupun juga dikonsumsi, di mana telurnya sangat disukai sebagai salah satu bahan pembuat makanan tradisional lokal, yang dikenal dengan nama tengulik.
"Di kalangan penggemar hewan, jenis tuntong dewasa berumur delapan tahun dapat dihargai dengan kisaran harga Rp 8 juta," kata Joko Guntoro, peneliti dan sekaligus pendiri Yayasan Satu Cita Lestari (YSCL) di Jakarta belum lama ini.
Organisasi ini melakukan upaya konservasi Tuntong Laut di wilayah Rantau, Aceh Tamiang dengan bekerjasama Pertamina EP, Field Rantau.
Disebutkan, perburuan besar-besaran di tahun 90-an guna memenuhi permintaan hewan peliharaan (pet) di Malaysia, Thailand maupun Tiongkok menjadi pemicu utama kepunahan tersebut. Dampaknya, ekosistem menjadi terganggu.
"Tingkat perburuan yang masif tidak diimbangi oleh daya dukung alam terhadap kemunculan tuntong-tuntong baru," katanya.
Di sisi lain, proses pertumbuhan tuntong dari telur hingga dewasa tidaklah sebentar. Dibutuhkan waktu 8 tahun hingga seekor tuntong siap bereproduksi dengan menghasilkan 12 hingga 24 telur setiap kali bertelur.
"Selain itu, dibutuhkan suhu yang stabil di kisaran 26 hingga 32 derajat celcius supaya telur tersebut benar-benar dapat menetas. Fakta tersebut memperlihatkan bahwa untuk membesarkan seekor tuntong tidaklah mudah," kata Joko.
Kondisi kepunahan yang ada mendorong Pertamina EP Field Rantau, melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), melakukan upaya penyelamatan dengan menggandeng YSCL sebagai mitra.
Pada Bulan Oktober 2013, telah dilakukan pelepasan sebanyak 77 ekor tuntong di Pantai Sungai Gelung, Kecamatan Seruai. Jumlah tersebut diperoleh dari 128 telur yang berhasil ditangkarkan.
Dari 79 butir yang menetas, sebanyak 77 ekor berhasil hidup untuk dilepaskan kembali ke alam liar. Sedangkan pada tahun 2012, terdapat 56 ekor tuntong yang berhasil dilepaskan ke habitat aslinya.
Jufri, Assistant Manager Legal & Relation, Pertamina EP, Field Rantau mengatakan langkah perhatian terhadap binatang ini dimaksudkan agar generasi muda kelak tetap dapat melihat tuntong di Rantau.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20140719_172256_tuntong-satwa-terancam-punah-di-aceh.jpg)