Pupuk Bersubsidi di Ponorogo Minus 15.000 Ton, Petani Menjerit
"Kan subsidi dan non subsidi. Yang non subsidi memang mahal sampai Rp 5.000 per kilogram karena memang bukan pupuk bersubsidin" tukasnya.
TRIBUNNEWS.COM,PONOROGO- Kebutuhan pupuk bersubsidi untuk wilayah Kabupaten Ponorogo minus 15.000 ton.
Ini menyusul, jatah pupuk yang seharusnya dipasok 35.365 ton Tahun 2014, hingga Agustus ini baru dipasok sebanyak 20.000 ton.
Jatah sebanyak itu, hanya cukup hingga awal Agustus 2014.
Kondisi inilah yang memicu kelangkaan pupuk bersubsidi terutama jenis Urea dan ZA di wilayah Ponorogo.
"Sampai Agustus produsen hanya mendistribusikan pupuk ke Ponorogo hanya 20.000 ton. Masih kurang sekitar 15.000 ton," terang Kepala Dinas Pertanian Pemkab Ponorogo, Harmanto kepada Surya, Selasa (19/8/2014).
Selain itu, Harmanto tidak membantah adanya kelangkaan pupuk di wilayah Ponorogo lantaran kekurangan pasokan stok pupuk itu.
"Untuk pupuk bersubsidi di Kabupaten Ponorogo memang sudah kosong mulai Agustus 2014. Karena stok yang didistribusikan hanya cukup sampai Agustus," imbuhnya.
Harmanto membeberkan kebutuhan pupuk di Kabuapten Ponorogo sebanyak 35.365 ton itu, berdasarkan luas lahan area Pertanian Ponorogo mulai Urea, SP, ZA, NPK dan pupuk organik.
"Jumlah itu harus dipenuhi di Ponorogo, akan tetapi kenyataannya Tahun 2014 sudah kehabisan stok pupuk. Dari hitungan kami Ponorogo kekurangan pupuk 15.000ton. Kekurangan sudah kami ajukan ke pusat serta Dirjen Kementerian dan Propinsi Jatim. Tidak lama lagi 15.000 ton akan segera dikirim," paparnya.
Kelangkaan itu, kata Harmanto disebabkan pupuk Urea dan ZA banyak dibutuhkan petani Ponorogo. Menurutnya, kekurangan pasokan 15.000 ton terbesar kekurangan pupuk jenis Urea dan ZA.
"Kami minta untuk Urea dan ZA harus lebih banyak jumlah kekurangan 15.000 ton itu," tegasnya.
Sementara terkait mahalnya pupuk urea produk Cikampek karena bukan merupakan pupuk bersubsidi.
Sedangkan yang dicari petani dengan harga murah adalah pupuk bersubsidi.
"Kan subsidi dan non subsidi. Yang non subsidi memang mahal sampai Rp 5.000 per kilogram karena memang bukan pupuk bersubsidin" tukasnya.
Untuk melihat pupuk bersubsidi atau non subsisi bukan dilihat dari warna pupuk, tetapi warna pink dan kemasannya bertuliskan bersubsidi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20131217_164822_pupuk-bersubsidi.jpg)