Perkelahian Antar Kampung Sudah Meresahkan dan Membuat Takut Warga
Perkelahian antar kampung sudah meresahkan dan membuat takut warga yang tinggal di pemukilan kedua kelompok bertikai tersebut.
TRIBUNNEWS.COM.MANADO - Perkelahian antar kampung (tarkam) di Kelurahan Sindulang Dua, tepatnya Lorong Lumba-Lumba (Lingkungan II) dan Kampung Sanger (Lingkungan III) sudah meresahkan dan membuat takut warga yang tinggal di pemukilan kedua kelompok bertikai tersebut.
Pantauan Tribun Manado, Sabtu (4/10/2014), pasca aksi serang antar dua kelompok massa, bebatuan, botol kaca, kayu dan benda tumpul lainnya berserakan di sekitar rumah warga dan jalan utama lokasi tersebut.
Beberapa warga mulai membersihkan halaman rumah dan jalan tepatnya Boulevard II yang berserakan dengan batu dan pecahan botol. Beberapa polisi juga terlihat berjaga-jaga memantau di lokasi.
Ulin warga Sindulang Dua merasa tidak aman dilokasi tempat tinggalnya, karena hampir setiap kali aksi baku lempar terjadi ada saja yang menjadi korban, termasuk ada rumah warga yang rusak. "Hampir setiap hari bagini. Akibat perlakuan orang tidak bertanggungjawab terjadi tarkam," ujar ibu yang saat itu memakai daster.
Sebagai warga setempat dia mengaku terancam saat bepergian keluar rumah, "keributan sering juga terjadi pada malam hari, pernah satu hari tidak tidur karena tarkam ini," keluhnya.
Sedangkan John, warga Sindulang Dua lainnya mengaku sudah tidak aman, karena sering terjadi tarkam. "Saya bilang ke keluarga kalau sudah malam tidak usah keluar, karena mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan," tuturnya.
Diapun mengakui dari pihak pemerintah dan kepolisian sudah berupaya maksimal untuk mengamankan daerahnya, tapi masih saja adanya orang-orang tidak terdidik yang melakukan.
Pasca tarkam kepolisian dari Polresta Manado tetap berjaga dan melakukan pengamanan.
Kapolres Manado, Kombes Pol Sunarto mengatakan, saat terjadi tarkam Jumat (3/10/2014), dari hasil penyisiran ditemukan sajam dan alat yang digunakan yakni pelontar batu, besi, puluhan panah wayer, pelontar panah wayer, tombak, parang, gunting dan pisau badik. "Kami sudah mengamankan barang bukti saat melakukan penyisiran di lokasi kejadian," tutur Sunarto kepada Tribun Manado.
Hingga Sabtu (4/10/2014), kepolisian dari Polresta Manado masih berjaga-jaga. "30 anggota kami kerahkan ke lokasi untuk berjaga mengingat untuk mengantisipasi terjadinya kejadian yang tidak dikehendaki, '' ujarnya menambahkan.
Sunarto menambahkan, kepolisian sudah berupaya mendamaikan tapi tidak digubris warga."Batas kesabaran kami sudah habis," tutup Sunarto.
Sedangkan Kapolda Brigjen Jimmi Palmer Sinaga, melalui Kabid humas AKBP Wilson Damanik SH, mengatakan, anggotanya setiap saat terjun ke lapangan dan menyisir Kota Manado. ''Patroli dilakukan bertujuan mengurangi tindak kriminalitas yang acap kali terjadi, '' ujar Damanik.
Baginya orang yang sering membawa sajam saat beraktifitas termasuk ketika jalan merupakan orang yang tidak percaya diri dan selalu merasa ada musuh.
Damanik pun mengimbau, jika berhadapan dengan orang yang telah dipengaruhi miras dan mulai mencari kesalahan orang lebih baik menghindar. Begitu juga saat berjalan dan melalui daerah rawan diharapkan berhati-hati, bahkan sebaiknya menghindari lokasi rawan.
"Kita tetap meningkatkan patroli. Hanya apalah arti patroli kalau tidak didukung masyarakat. Sekarang jaman teknologi, sudah difasilitasi, nonmor telepon kepolisian ada di media, kalau ada kekacauan ancaman kerawanan mengganggu keamanan dan laporkan ke aparat kepolisian terdekat, '' ujar Damanik menambahkan.
Begitu juga dengan minuman keras, akibat mengkonsumsi minuman keras tindak kriminalitas yang tidak dikehendaki akan terjadi. "Tidak menutup kemungkinanan pabrik miras akan ditutup. karena tindak kriminalitas terjadi akibat mengkonsumsi minuman keras, '' ujar Damanik.
" Kepada masyarakat disamping mengamankan diri sendiri, jangan menyembunyikan pelaku kriminal. Perselisihan yang terjadi diduga adanya terprovokasi, Jadi jangan mudah terprovokasi." Katanya.
Dia juga menyatakan, polisi tidak menghendaki tembak di tempat, karena ancaman kerawaanan dan anarkis, melainkan itu menjadi alternatif terakhir dengan pertimbangan mengancam jiwa orang lain atau petugas. ''Kalau memang sudah terjadi demikian aparat kepolisian terpaksa tembak ditempat, '' ujarnya.
Damanik menegaskan, jajaran kepolisian akan terus melakukan razia sajam termasuk panah wayer. ''Ketahuan bawa panah wayer ditahan! Ketahuan membawa sajam masuk!'' ujarnya agak kesal.
Dia juga menyayangkan yang terlibat panah wayer sebagian besar berusia mudah.
'' Saya heran semua yang terlibat panah wayer berusia muda. Jadi sosialisasi pengamanan hendaknya mulai dari keluarga, sekolah dan melibatkan juga tokoh masyarakat serta tokoh agama, '' ujar Damanik mengakhiri perbincangan.(fer)