Kamis, 9 April 2026

Mahasiswa STIKOSA-AWS Tuntut Pembantu Ketua I Mundur

Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) sepekan terakhir bergolak.

Editor: Sugiyarto
tribun timur/muhammad abdiwan
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA – Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) sepekan terakhir bergolak.

Berbagai aksi mahasiswa digelar untuk menuntut turunnya Pembantu Ketua I (PK I) Bidang Akademika Ratna Amina yang sebelumnya menjabat sebagai PK III Bidang Kemahasiswaan.

Jumat (31/10/2014) puluhan mahasiswa kembali menggelar aksi unjuk rasa. Mereka mengusung keranda sebagai simbol matinya demokrasi pada proses pemilihan ketua Stikosa-AWS.

Mereka juga menggelar spanduk putih untuk menggalang tanda tangan mahasiswa, dosen dan karyawan sekolah komunikasi tertua di Surabaya dan Indonesia Timur itu. Selain pemecatan Ratna Amina, transparasi keuangan juga dituliskan di spanduk.

Dosen senior Stikosa-AWS, Zaenal Arifien Emka ikut menuliskan pesan pada selembar spanduk itu.

"Ingat! Gaji dosen/karyawan dari tetesan keringat mahasiswa!," tulis Zaenal yang kini mengajar mata kuliah Agama Islam. Zaenal merupakan wartawan senior.

Sebelumnya, mahasiswa mengikuti ujian tengah semester (UTS) yang pada Senin lalu (27/10/2014) ditunda karena mahasiswa memilih berunjuk rasa yang disertai penyegelan dan pendudukan kampus.

Meski melaksanakan ujian, mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tetap menyuarakan perlawanan ke yayasan.

Selain mengenakan jaket almamater yang dipakai demonstrasi, mereka mengenakan ikat kepala putih bertuliskan Bubar.

"Kami tidak ingin aksi menuntut Ratna Amina mundur ini merugikan mahasiswa dari sisi akademik," kata Presiden BEM Stikosa-AWS Dhidin Abdiansyah di sela unjukrasa.

Hendriansyah, koordinator aksi mengatakan, tuntutan mereka hanya satu, Ratna mundur. “Kami tidak ingin kalau hanya dipindah dari PK 3 menjadi PK 1. Itu sama saja,”katanya.

Menurutnya, selama tiga tahun menjabat PK 1, Ratna telah melakukan dosa terhadap mahasiswa. Diantaranya telah memangkas dana orientasi mahasiswa (Ospek) dari Rp 48 juta menjadi Rp 4 juta.

Selain itu, Ratna juga tidak mampu memberikan fasilitas yang memadai untuk mahasiswa.

“AWS ini kampusnya calon wartawan, masak kamera saja tidak ada di laboratorium foto. Interaksi dia dengan mahasiswa juga tidak baik,”kata mahasiswa semester 9 jurusan Jurnalistik.

Hendriansyah atau yang biasa dipanggil keceng ini mengancam akan menggelar aksi yang lebih besar Senin depan (2/10/2014) jika tuntutannya tidak dihiraukan kampus dan yayasan.

Seorang asisten dosen Stikosa-AWS, Alfadila Ema Yunita mengaku prihatin atas mandegnya kuliah dan demo mahasiswa yang berkepanjangan.

"Semoga masalah bisa segera selesai, aktivitas kampus berjalan seperti sediakala," tutur pengajar mata kuliah praktikum media cetak dan online ini.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved