Bayi yang Tewas Tersedak Susu Baru Dua Minggu Dititipkan di TPA
Di sudut garasinya masih berjejer sejumlah pakaian bayi yang tampak mengering setelah beberapa hari dijemur.
Laporan Wartawan Tribun Bali, Edi Suwiknyo dan Eka Mita Saputra
TRIBUNNEWS.COM, DENPASAR - Sebuah rumah sederhana yang terletak di Perumahan Dalung Permai Blok AA No 06 Banjar Campuhan Asri, Kuta Utara, Kabupaten Badung, tampak sunyi.
Di sudut garasinya masih berjejer sejumlah pakaian bayi yang tampak mengering setelah beberapa hari dijemur.
Rumah tersebut merupakan kediaman dari pasangan Agus Budi dan Jero Budi (35), orangtua dari GKAS, bayi yang baru berusia 6 bulan 6 hari yang meninggal karena tersedak susu, Rabu (6/5/2015), saat dititipkan di tempat penitipan anak (TPA), tidak jauh dari kediamannya. (Bayi Tujuh Bulan Meninggal, Tersedak saat Diberikan Susu)
"Sabtu lalu, tepatnya saat Hari Raya Saraswati dia (GKAS) melaksanakan upakara (upacara) otonan (hari ulang tahun umat Hindu) 6 bulanan. Ibunya tampak sangat bahagia saat itu, banyak keluarga yang datang ke rumah. Tapi saya tidak menyangka sekarang kejadiannya malah seperti ini," ujar I Gusti Ngurah Sujendra (50), Ketua Blok AA, sekaligus tetangga Jero Budi yang tinggal tepat di depan kediamannya, Jumat (8/5/2015) malam.
Ngurah Sujendra menceritakan, tetangganya tersebut merupakan keluarga yang lumayan sibuk.
Agus Budi, ayah dari AS bekerja di kapal pesiar yang berlayar sejak 28 Maret 2015 lalu. Sedangkan istrinya merupakan pegawai sebuah garmen di daerah Padang Sambian yang bekerja sedari pagi hingga sore.
Kedua pasangan ini dikaruniai dua buah hati, yakni AN, anak perempuan berusia (3,5) dan GKAS, bayi laki-laki yang meninggal akibat tersedak susu.
"Biasanya Jero Budi berangkat kerja jam 9 pagi, dia langsung menitipkan kedua anaknya di TPA, dan pulang jam 5 sore sekaligus langsung mengambil kedua anaknya di TPA tersebut," terang Ngurah Sujendra.
Sepengetahuan Ngurah Sujendra, GKAS baru sekitar dua minggu dititipkan di TPA tersebut.
Sebelumnya ia diasuh oleh neneknya. Namun, karena kakak dari neneknya tersebut sakit dan harus ada yang menungguinya di rumah sakit, terpaksa si nenek harus meninggalkan kedua cucunya tersebut.
"Banyak tetangga yang sudah menasihati Jero Budi agar mengurangi bekerja dan sebaiknya mengasuh bayinya yang masih kecil. Namun, ia lebih memilih menitipkannya. Banyak tetangga yang terpukul dan sedih dengan kejadian ini. Karena Jero Budi dan keluarganya dikenal sangat baik di kalangan tetangga," terangnya dengan raut wajah iba.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, jenazah GKAS rencananya akan langsung diadakan upacara ngelungahin (ngaben pada bayi) yang akan dilaksanakan pada 10 Mei di kampung halamannya di Negara, Jembrana.
"Upacara dilakukan tanggal 10 karena menunggu kedatangan ayahnya yang sudah dalam perjalanan untuk bertolak dari luar negeri dan langsung pulang ke Bali," tambah Ngurah Sujendra.
Ia menambahkan, sejak kejadian itu banyak orangtua yang langsung menarik anaknya dari tempat penitipan anak tersebut, bahkan tidak lagi berani menitipkan anak-anaknya di TPA. (Polisi Periksa Tiga Saksi Kasus Bayi Meninggal Tersedak Susu)
"Informasi di lingkungan di sini, TPA tersebut memang sangat tertutup. Tidak banyak yang tahu aktivitas di dalamnya. Entah apakah itu TPA ada izinnya? Saya sendiri kurang paham," terang Ngurah Sujendra.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-bayi-mungil_20150430_202705.jpg)