Kamis, 9 April 2026

Kanker Serviks, Dokter Belanda Sarankan Wanita Indonesia Protes ke Presiden

Jawa Timur darurat kanker serviks. Banyak wanita yang terkena penyakit kanker serviks sehingga dua dokter asal Belanda pun ke Surabaya.

Editor: Sugiyarto

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Jawa Timur darurat kanker serviks. Banyak wanita yang terkena penyakit kanker serviks sehingga dua dokter asal Belanda pun ke Surabaya.

Keduanya Prof Lukas Stalpers dan Prof Marten. Mereka memberikan pelatihan dan pembekalan ilmu terkait di bidang Onkologi dan Ginekologi.

Keprihatinan keduanya membawa dampak positif di kalangan dokter RSUD Dr Soetomo, khususnya bidang penanganan kanker serviks.

Prof Lucas mengatakan, dokter di Surabaya untuk penanganan kanker serviks sudah bagus. “Masalahnya di sini itu kekurangan alat. Mereka (pasien) harus menunggu lama dan antri ketika harus periksa dengan alat radiasi,” terangnya, ketika ditemui di RSUD Dr Soetomo.

Menurut dia, di Belanda tidak perlu mengantri hingga berhari-hari untuk memeriksakan diri. Namun, di Surabaya antri lebih dari sehari itu sungguh perlu perhatian khusus.

“Mau nunggu pasien itu meninggal dunia dulu baru bisa periksa? Kan kasihan,” tambahnya.

Seharusnya, lanjut Prof Lucas, perbandingan alat dengan penduduk ialah satu alat untuk 30 orang. Namun hal itu sungguh jauh berbeda di Surabaya, yakni satu alat untuk satu juta penduduk. “Sunggu tidak adil,” tandasnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Prof Marten.

“Seharusnya alat itu diperbanyak. Orang yang terkena kanker butuh perhatian khusus,” tuturnya.

Dokter yang sudah bertahun-tahun menangani penyakit kanker serviks ini juga menyarankan, setiap orang harus melakukan vaksinasi.

“Lakukan vaksin. Dan perbanyak alat serta ahli di bidang penanganan kanker serviks,” tandas Marten.

Ia juga menambahkan, wanita harus memperjuangkan haknya untuk mendapatkan pelayanan yang layak.

“Wanita seharusnya protes ke presiden agar lebih ditingkatkan kepedulian terhadap penyakit ini,” ujarnya.

Sementara, Prof Diah, ahli radioterapi di RSUD Dr Soetomo, mengakui, di rumah sakit ini juga kekurangan alat radioterapi.

“Kita kalau bicara ahli sudah sangat banyak untuk penanganan kanker serviks. Hanya memang ya benar alatnya yang kurang,” terang Prof Diah.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved