Keluarga Menduga Suharli Tewas Dianiaya Oknum Polisi
Pihak keluarga tidak menerima tewasnya Timbuk karena tiba-tiba mereka mendapat kabar korban sudah meninggal dari pihak kepolisian.
Laporan Wartawan Bangka Pos, Nurhayati
TRIBUNNEWS.COM, BANGKA - Duka menyelimuti keluarga pasangan suami istri Beddu dan Naming di Perumahan Taman Pesona Bangka Blok AA Sungailiat. Sang anak, Suhaili alias Timbuk (32) tewas akibat dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum kepolisian terkait kasus narkoba.
Pihak keluarga tidak menerima tewasnya Timbuk karena tiba-tiba mereka mendapat kabar korban sudah meninggal dari pihak kepolisian dimana jenazah korban berada di RSUD Sungailiat.
Sebelumnya pukul 09.30 WIB, Jana kakak perempuan korban bersama saudaranya mendatangi kediaman wartawan Bangka Pos (Tribunnews.com Network) meminta agar media memberitakan tewasnya adik mereka yang dinilai penuh kejanggalan.
Menurut Hasri adik Suharli, awalnya ia mendapat kabar dari kakak iparnya, Sabtu (1/8/2015) sekitar pukul 22.00 WIB menelepon bahwa kakaknya Suharli alias Timbuk menjadi TO (Target Operasi) plus DPO (Daftar Pencarian Orang). Informasi tersebut mereka dapatkan dari Kanit Intel Polres Bangka.
"Karena kita pikir tertangkap narkoba, itu sebelumnya sudah pernah. Yang bersangkutan memang dari kiri kanan kalau untuk narkoba iya kita tidak keberatan," ungkap Hasri kepada Bangka Pos saat ditemui di rumah kediaman orang tuanya, Minggu (2/8/2015) di Perumahan Taman Pesona Bangka.
Tidak lama kemudian, lanjutnya ada telepon kembali ke handphonenya dari pihak Polres Bangka bahwa Timbuk, menjadi TO dan DPO sudah ditangkap.
"Karena sudah dapat berita selanjutnya saya tidak taget lagi. Kemudian bapak dari kepolisian yang nelepon ngotot untuk kasih tahu keluarga. Alasanku ibu di rumah sudah tua dan kemudian tidak terlalu kuat lagi jantungnya. Jadi minta besok pagi saja ngasih tahu yang penting aku mewakili keluarga sudah tahu," ungkap Hasri.
Namun karena dari pihak kepolisian mau bertemu dengannya, maka Hasri meminta agar bertemu di tempat kerjanya di ruko depan Kantor Kejaksaan Sungailiat.
"Dari kepolisian datang kirain mau ngantar surat atau apa sekitar jam 23.05 atau 23.10 WIB naik mobil minibus dipanggil di Apotik Rafi lesehan duduk di lantai depan ruko itu yang ngomong ternyata bapak wakapolres. Dia memperkenalkan diri ku terima dengan baik, dia menjelaskan bahwa ini (Suharli-red) keberadaan di rumah sakit umum sudah meninggal dunia," jelas Hasri.
Tentu saja ia merasa terkejut dengan tewasnya sang kakak dan bertanya ke kepolisian mengapa ditangkap hingga meninggal seperti itu.
"Apa ada luka tembakan atau seperti apa? Tidak dijelaskan lebih lanjut kata bapak wakapolres nanti kita beri penjelasan lebih lanjut," sesal Hasri.
Menurutnya beberapa anggota polres juga datang meminta agar memberita kepada keluarga yang lain mengenai meninggalnya Timbuk. Kemudian ia langsung ke UGD RSUD sekitar 23.30 WIB dimana jenazah berada kamar mayat. Dia langsung menghubungi keluarga.
"Ternyata waktu saya dan keluarga lihat kaget, lukanya sampai seperti itu. Memar-memar dan sempat difoto. Ada bukti foto bekas luka seperti kena sayat (menunjukkan pelipis kepala-red) sementara betis bolong saya tidak jelas itu tembakan atau bukan. Kepala parah, memar lengan tangan lengan biru. Hampir seluruh badan bisa dikatakan dianiaya. Mungkin dari pihak rumah sakit visumnya benar bisa dilihat dari hasil visum," beber Hasri.
Namun dia menyayangkan hasil visum belum diserahkan pihak Polres Bangka kepada keluarga.
"Dengan kejadian seperti ini terima kasih lah dari pihak polres sudah datang untuk meminta maaf. Cuma tadi baru kita buka di depan kapolres baru ada terkesan tanggung jawab. Sebelumnya nggak hanya dia datang baca yasin kemudian terkesan mau pergi. Jadi pihak keluarga termasuk saya adik kandung, nggak terima dengan hasilnya, nggak terima dengan kejadian kondisi fisik dari korban sampai meninggal dunia hanya karena penyergapan narkoba dan kita nggak tahu bukti yang ada seberapa banyak," sesal Hasri.
Dia menegaskan, pihak keluarga menuntut tanggung jawab pihak kepolisian dan oknum yang melakukan penganiayaan bertanggung jawab. Dia menyatakan jika dari pihak Polres Bangka menutup-nutupi mereka akan melapor ke Polda Babel dan seterusnya.
"Yang penting kita meminta diusut tuntas dan kepada pihak media mohon dibantu," tegas Hasri yang mengaku sempat tiga bulan jadi tenaga honor di Polres Bangka.
Saat Kapolres Bangka AKBP Sekar Maulana melayat ke rumah duka, Hasri meminta agar kapolres terbuka dan tidak menutup-nutupi kasus kematian kakaknya.
Jana kakak perempuan Suharli juga meminta agar pihak kepolisian bertanggung jawab terhadap kematian adiknya. Dia menduga ada dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum Polres Bangka sehingga korban tewas.
"Dokter yang menangani dia (korban Timbuk-red) itu bilang korban sudah meninggal waktu dibawa ke rumah sakit," sesal Jana yang sedih mengingat kematian adiknya dengan kondisi mengenaskan.
Sampai berita ini diturunkan Kapolres Bangka AKBP Sekar Maulana sedang diupayakan konfirmasinya oleh wartawan Bangka Pos.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kapolres-bangka-melayat-di-rumah-duka-suharli_20150803_101406.jpg)