Kamis, 9 April 2026

Sang Putri Belum Dikabari Nyoman Astika Tewas Tanpa Kepala

Kematian I Nyoman Astika (70), transmigran asal Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, lalu menimbulkan luka mendalam keluarga.

Editor: Dewi Agustina
Tribun Bali/Lugas Wicaksono
I Nyoman Ardiana menunjukkan foto semasa hidup mertuanya, I Nyoman Astika dan Ni Made Kantri, di Kantor Perbekel Gitgit, Selasa (15/9/2015). 

TRIBUNNEWS.COM, SINGARAJA - Kematian I Nyoman Astika (70), transmigran asal Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, Minggu (13/9/2015) lalu menimbulkan luka mendalam keluarga yang ditinggalkan.

Nyoman Astika tewas seusai diserang lima orang tak dikenal di kebunnya di pegunungan Baturiti, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah (Sulteng), Minggu (13/9/2015).

Menantu Astika, I Nyoman Adiana mengisahkan, mertuanya itu telah dua kali pergi transmigrasi ke Sulawesi Tengah.

Pertama kali sekitar tahun 1970 bersama kakak-kakaknya di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali. Ia kemudian kembali ke Buleleng sekitar 1980 karena ayahnya yang sakit keras dan ia harus merawatnya.

Tidak sampai lama, pada 1993, ia memutuskan kembali untuk transmigrasi sampai kini ditemukan tewas.

Baca: I Nyoman Astika Tewas Tanpa Kepala Diserang Lima Orang tak Dikenal

"Banyak dari desa kami yang memilih transmigrasi secara swadaya, ikut keluarganya yang sudah sukses di Sulawesi karena alasannya untuk memperbaiki ekonomi. Saya dulu juga pernah. Di sana kita bisa garap lahan untuk perkebunan dengan hasil yang lumayan daripada di sini, kita tidak punya cukup banyak lahan untuk digarap," ucapnya.

Astika meninggalkan lima orang anak, termasuk Ni Kadek Sumarini anak kedua yang juga istri Adiana.

Kini kondisi Sumarini masih terpukul setelah mengetahui ayahnya tewas secara mengenaskan.

Bahkan kakak Sumarini, Luh Kardiasa sengaja masih belum diberitahu kabar tewasnya ayahnya karena kondisi kesehatannya yang buruk.

"Kakak saya sampai sekarang masih sengaja belum kami kasih tahu karena dia sering darah tinggi. Takut kenapa-kenapa kalau nanti dengar kabar, apalagi matinya seperti ini. Nanti tunggu waktu saja untuk kasih tahu dia," katanya.

Astika terakhir kali pulang kampung ke Buleleng tiga tahun lalu ketika ada upakara ngaben seorang keluarganya.

Menurutnya, mertuanya itu sempat bercerita kalau daerah yang ditinggalinya merupakan daerah rawan konflik. Termasuk kebunnya di pegunungan Baturiti yang dijadikan jalur keluar masuk kelompok bersenjata.

"Pernah juga dia, katanya, mengetahui ada seorang dari kelompok itu yang bersembunyi di kebunnya. Tapi dia terakhir bilang tidak merasa khawatir dan masih betah tinggal di sana, tidak ada keinginan untuk pulang dan menetap di Buleleng," tuturnya.

Ia mengenal sosok mertuanya itu sebagai orang yang ulet bekerja dan mudah bergaul.

"Dia itu orangnya ulet bekerja makanya lebih memilih di sana. Senang berteman dan mudah akrab dengan siapapun, termasuk penduduk asli di sana," katanya.

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved