Jumat, 10 April 2026

Kabut Asap

Kabut Asap di Palembang dan Jambi, Garuda Indonesia Rugi Rp 30 Miliar

Maskapai penerbangan bintang lima Garuda Indonesia mengalami kerugian hingga Rp 30 miliar.

Editor: Dewi Agustina
Sriwijaya Post/Abdul Hafiz
Meski diselimuti kabut asap pesawat Garuda Indonesia berusaha bersiap take-off dari Bandara Internasional SMB II Palembang. 

TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Musibah kabut asap yang melanda Kota Palembang membuat beberapa pelaku bisnis seperti maskapai penerbangan, pelayaran, dan perhotelan, mengalami kerugian Rp 10 sampai Rp 30 miliar.

Maskapai penerbangan bintang lima Garuda Indonesia mengalami kerugian hingga Rp 30 miliar.

Angka kerugian ini dihitung berdasarkan seat (kursi) tiga penerbangan yang ditutup, yakni Palembang-Jambi, Palembang-Jakarta, dan Palembang-Halim Perdanakusuma.

Berdasarkan tingkat keterisian, pesawat tujuan Jambi, sekali terbang per hari mencapai 49 orang dengan rata-rata tiket Rp 500 ribu dikali dua.

Penerbangan Palembang-Jakarta tingkat keterisian 75 persen dengan total seat 162 dan rata-rata tiket Rp 700 ribuan untuk satu kali terbang dikali empat kali keberangkatan, sehingga meghasilkan kerugian mencapai Rp 1,8 miliar per hari.

Sedangkan penutupan sementara untuk rute-rute tertentu sudah berlangsung sejak 4 September lalu hingga 7 Oktober mendatang.

General Manager Garuda Indonesia, Asa Perkasa, usai peresmian Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) 2015 di Palembang Icon, Jumat (2/10/2014) mengatakan, perkiraan lost opportunity yang dialami Garuda Indonasia dihitung berdasarkan jumlah kursi, biaya perjalanan, dan berapa kali penerbangan dalam sehari.

Kerugian yang dialami Garuda tidak cukup sampai di situ karena pihaknya juga harus mengalami kerugian waktu penyewaan pesawat.

"Misalnya satu pesawat kami sewa untuk waktu 10 jam, kalau pesawatnya tidak terbang selama dua jam misalnya, artinya kami sudah membuang biaya untuk sewa 2 jam pesawat tersebut. Bisa dibayangkan kerugian yang kami alami," ujarnya.

Pihaknya juga mengatakan 20 persen sampai 30 persen target sampai akhir tahun tidak tercapai.

Meskipun dengan adanya GATF, pihaknya mengaku tidak bisa menutupi kerugian yang dialami akibat asap.

"Sebenarnya GATF ini untuk mendorong masyarakat untuk merencanakan wisata di jauh-jauh hari. Ya kalau untuk menutupi kerugian akibat kabut asap tidak bisa karena target kami hanya Rp 6 miliar selama 3 hari, sedangkan kerugian akibat kabut asap mencapai Rp 30 miliar," ujarnya.

Kerugian yang dialami oleh Garuda Indonesia juga merupakan kerugian pemerintah. Karena dari pembayaran tiket, 10 persennya dibayarkan pemerintah.

"Untuk itu kami mengharapkan agar pemerintah bisa bekerja sama untuk menanggulangi asap. Dan kami juga mengharapkan agar regulator lebih fleksibel," ujarnya.

Kerugian yang sama juga dialami oleh Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved