Breaking News:

Kata Pemilik Soal Kebun Bunga Amaryllis Rusak Usai Dijejaki 1.500 Orang

Keindahan bak taman bunga Keukenhof di Belanda ini menjadi viral di media sosial sehingga orang berbondong-bondong datang

tabloidnova.com
Kondisi hamparan taman bunga Amaryllis di kawasan Desa Salam, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta. 

TRIBUNNEWS.COM - Beberapa hari belakangan ini, media sosial dihebohkan adanya hamparan taman bunga Amaryllis di kawasan Desa Salam, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta.

Taman yang dipenuhi bunga Lili Hujan ini mekar setahun sekali tepat di awal musim penghujan, keindahan bak taman bunga Keukenhof di Belanda ini menjadi viral di media sosial sehingga orang berbondong-bondong ingin melihatnya.

"Sejak hari Rabu, mendadak pekarangan rumah saya dipenuhi orang-orang yang sengaja berhenti untuk berfoto. Saya sendiri kaget karena mendadak banyak orang mampir ke sini," ujar Wartini (38), pemilik pekarangan bunga, saat ditemui Sabtu (28/11/2015).

Berdasarkan pengakuan perempuan ini, pada hari Jumat (27/11/2015) kemarin, hampir 1.500 orang datang untuk sekedar mengabadikan taman bunga ini baik rombongan maupun yang beraksi swafoto.

Namun, keindahan taman bunga ini tidak lagi bisa dinikmati karena kondisinya sudah rusak terinjak-injak oleh pengunjung. Banyak tanaman bunga yang mati karena terinjak atau terduduki saat pengunjung lewat atau berpose di tengah-tengah tanaman.

"Kami sudah berusaha mengingatkan pengunjung agar tanaman tidak terinjak-injak, tetapi banyaknya orang yang datang juga membuat kami kerepotan mengingatkan satu per satu," ujar Wartini.

Jika tanaman Amaryllis ini berkembang dengan baik, bunganya akan mekar dan bertahan sekitar 21 hari dengan varian warna yang menarik dipandang mata.

Perempuan yang menjual bibit bunga sejak tahun 2003 ini mengaku tahun ini dia hanya menjual sedikit dari bibit dan tanaman bunga ini, karena kesibukannya menghadapi pengunjung yang mencapai ribuan sejak dua hari terakhir.

Wartini dan suaminya tidak menyalahkan pengunjung karena awalnya taman bunga ini tidak dipersiapkan untuk mengantisipasi banyaknya wisatawan yang datang.

"Melihat kondisi bunga yang terinjak-injak ini, kami merasa kasihan pada pengunjung yang datang terakhir. Karena mereka tidak bisa melihat taman bunga seperti yang mereka bayangkan atau lihat di media. Sudah banyak yang rusak," ujar perempuan dengan dua putra ini. (KOMPAS.COM)

Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved