Polisi Dalami Motif Pengeroyokan Mahasiswa Unila yang Dituding Informan Polisi
Penyidik Satuan Reserse Kriminal Polresta Bandar Lampung masih mendalami motif pengeroyokan terhadap Armando, mahasiswa FISIP Universitas Lampung
Laporan Wartawan Tribun Lampung Wakos Gautama
TRIBUNNEWS.COM, LAMPUNG - Penyidik Satuan Reserse Kriminal Polresta Bandar Lampung masih mendalami motif pengeroyokan terhadap Armando, mahasiswa FISIP Universitas Lampung (Unila).
Hingga kini polisi belum bisa menyimpulkan motif pengeroyokan tersebut.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bandar Lampung Komisaris Dery Agung Wijaya mengatakan, penyidik masih mendalami keterangan dari korban mengenai kasus yang menimpanya.
“Kami sedang gali keterangan korban untuk mengetahui motif pelaku mengeroyoknya,” ujar Dery, Jumat (2/9/2016). Armando mengaku dikeroyok karena dituding sebagai informan polisi.
Mengenai pengakuan Armando itu, Dery mengaku belum mengetahuinya. Dery menuturkan, motif sebenarnya baru akan terungkap apabila para pelaku pengeroyokan sudah tertangkap.
Dery menuturkan, sudah menurunkan tim untuk menyelidiki kasus ini. Ia mengatakan, tim sedang bergerak di lapangan mengumpulkan bahan dan keterangan untuk mencari tahu siapa pelaku pengeroyokan itu.
Armando sendiri mengaku mengenal beberapa pelaku pemukulan terhadapnya.
“Ya memang korban menyebut nama terduga. Itu akan kami dalami. Kalau memang cukup alat bukitnya akan kami tangkap,” ujar Dery.
Penangkapan enam mahasiswa FISIP Universitas Lampung (Unila) oleh Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung berbuntut panjang.
Salah satu mahasiswa FISIP Unila, Armando menjadi korban penganiayaan karena dituduh menjadi mata-mata polisi.
Armando mengatakan, dikeroyok oleh tiga orang, salah satunya adalah teman satu kampusnya berinisial R.
“Saya dikeroyok di daerah Sumur Putri,” ujar Armando kepada wartawan di kediamannya, Rabu (31/8/2016).
Menurut Armando, ia dikeroyok karena dituduh sebagai orang yang membocorkan informasi ke polisi mengenai enam mahasiswa yang sedang memecah paket ganja di gedung PKM Unila.
“Saya dibilang cepu (mata-mata) polisi. Padahal saya saja tidak tahu apa itu cepu,” ucapnya.