Breaking News:

Cerita Anak Penyintas Kanker, Dari Tak Bisa Jalan Hingga Mampu Berteriak

Tak sedikit penyintas kanker sembuh dan mengalami kemajuan setelah tinggal di Rumah Cinta Anak Kanker di Kota Bandung.

Tribun Jabar/Teuku Muhammad Guci Syaifudin
Sejumlah bocah penyintas kanker di Rumah Cinta Anak Kanker di Jalan Bijaksana dalam nomor 11 RT 5/10 Kelurahan Pasteur, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Minggu (16/10/2016). Mereka tinggal di rumah singgah itu selama menjalani pengobatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin. TRIBUN JABAR/TEUKU MUH GUCI S 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Teuku Muh Guci S

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG – Ajam namanya. Usianya baru lima tahun. Bocah asal Kabupaten Karawang, Jawa Barat, ini sempat divonis dokter menderita kanker akut.

Nyawanya disebut-sebut tak akan tertolong setelah kondisi fisiknya cukup mengenaskan. Perutnya buncit dan terdapat benjolan besar di kepala belakangnya ketika masih berusia 1,5 tahun.

Keajaiban Tuhan datang. Ajam divonis sembuh dari kanker yang menggerogoti tubuhnya selama 3,5 tahun terakhir. Kini ia bisa bercanda dengan teman seusianya di Rumah Cinta Anak Kanker Bandung, Jalan Bijaksana dalam nomor 11 RT 5/10 Pasteur, Sukajadi, Kota Bandung, Minggu (16/10/2016).

Baca: Rumah Cinta Mengajarkan Anak Penyintas Kanker Lebih Optimistis

Ia sempat berteriak ketika masuk ke kamar lantaran menolak mengenalkan diri. Ajam mengaku ngantuk ketika teman-temannya di Rumah Cinta Anak Kanker dikunjungi donatur.

“Waktu dia datang pertama kali di sini, dia tidak bisa jalan. Alhamdulillah menjalani pengobatan selama 3,5 tahun secara berkelanjutan. Dan 1,5 tidak pulang dari rumah singgah, progres dari waktu ke waktu,
kondisinya membaik. Mulai dari bisa berjalan sampai dia sekarang sudah bisa bicara,” ujar pendiri Rumah Anak Cinta Anak Kanker, Supendi Wijaya (44).

Pria yang akrab disapa Abah Lutung bercerita, sembuhnya Ajam dipicu sikap orangtuanya yang
selalu berpikir positif selama anaknya berjuang melawan kanker.

Beban orang tuanya berkurang lantaran bisa tinggal di rumah singgah selama Ajam menjalani pengobatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin.

Selain itu, orangtua Ajam selalu mendoakan kesembuhan anaknya setiap hari. Ia meyakini obat terbaik untuk mengobati kanker dengan menciptakan rasa nyaman dan bahagia di lingkungan penderita
penyakit keras tersebut.

“Sebetulnya tidak cuma Ajam saja yang masuk kondisinya kritis. Rivaldi misalnya. Datang dari Kabupaten Indramayu juga tidak bisa jalan. Sekarang sudah bisa lari-lari. Sekarang masuk tahapan
maintenance, artinya lima minggu sekali menjalani pengobatan, lima minggu pulang ke rumah,” kata Abah.

Masa singgah anak-anak penyintas kanker di Rumah Cinta beragam. Tergantung dengan status pengobatannya.

Status induksi misalnya, sang anak harus dirawat secara intensif selama delapan bulan. Menurut Abah, pengobatan dilakukan dengan cara menginap di rumah sakit selama seminggu dan di luar rumah sakit selama seminggu.

“Nah biasanya yang status induksi ini para orang tua dan anaknya tinggal di rumah singgah untuk menjaga kondisi pasien agar tidak drop kalau pulang dan pergi. Apalagi yang rumahnya jauh. Kecuali kalau sudah masuk tahap maintenance, bisa di rumah selama lima minggu setelah lima minggu di rumah sakit,” kata Abah.

Penulis: Teuku Muhammad Guci Syaifudin
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved