Selasa, 5 Mei 2026

Kisah Heroik Rumedi yang Lari Berpacu dengan Maut Demi Selamatkan Warga dari Tanah Longsor

Rumedi, warga dukuh Bandingan, Desa Sirau , Purbalingga, tersentak saat bunyi gemuruh dari atas bukit Ratamacan terdengar keras

Tayang:
Editor: Sugiyarto
Tribun Jateng/Khoirul Muzaki
Rumedi, petani yang pertama kali mengetahui bukit longsor dan memberitahu warga 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Khoirul Muzakki

TRIBUNNEWS.COM, PURBALINGGA- Rumedi, warga dukuh Bandingan, Desa Sirau , Purbalingga, tersentak saat bunyi gemuruh dari atas bukit Ratamacan terdengar keras, Minggu sore (19/2).

Kebun Rumedi berada di dekat mahkota longsor.

Ia baru saja menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan di gubug kebunnya seusai menderes nira.

Hujan besar selama dua jam di wilayah itu mulai mereda ketika bencana terjadi.

Rumedi melihat langsung tanah milik Perhutani di puncak terus bergerak. Ratusan pohon pinus satu persatu bertumbangan.

Material longsor meluncur cepat mengikuti aliran sungai Wuni.

"Kebun saya ikut hancur tergerus longsor. Saya yang penting selamat,"katanya, Senin (20/2/2017).

Melihat luasnya area longsoran di mahkota longsor, Rumedi kepikiran nasib ratusan jiwa yang menghuni pemukiman di hilir, dukuh Karangwuni.

Ia yakin, warga belum mengetahui ada bencana di hulu yang mengancam jiwa mereka.

Sementara longsor terus bergerak mengikuti aliran air, mengarah ke pemukiman warga yang berjarak sekitar 5 kilometer dari mahkota longsor.

Rumedi bisa saja menghindari longsor dengan berlari menuju desa sebelah. Namun ia memilih berpacu dengan maut.

Ia berlari sekencangnya melalui sisi aliran sungai Wuni, menuju pemukiman warga di dukuh Karangwuni.

Rumedi harus lebih cepat sampai ke pemukiman untuk memberitahu warga agar mereka segera menyelamatkan diri.

Tanah yang ia pijak bergetar. Suara gemuruh terus mengejar. Rumedi sudah terbayang mati. Untung saja, luncuran material longsor tersendat-sendat.

Setelah 20 menit berlari dari puncak ke hilir, Rumedi akhirnya berhasil lebih dulu sampai ke pemukiman, sekitar pukul 17.30 WIB.

"Ada empat bocah yang malah menonton air sungai yang keruh dan banjir. Saya teriaki supaya mereka lari karena bencana akan datang,"katanya

Rumedi lalu memberitahu warga yang tinggal di sisi aliran sungai agar cepat-cepat menyelamatkan diri.

Ia meyakinkan, bencana akan segera datang karena material longsor terus meluncur turun.

Warga tak berpikir panjang. Mereka berlarian keluar rumah dan menjauh dari aliran sungai. Suara gemuruh semakin terdengar mendekat.

Seperempat jam kemudian, sekitar pukul 17.45 WIB, bencana benar-benar sampai ke mereka.

Material longsor bercampur bangkai pohon menimbun dan meluluhlantakkan dua rumah yang telah ditinggalkan penghuninya.

"Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Kalau mereka terlambat tahu, mungkin ada yang menjadi korban. Karena waktu magrib adalah saat keluarga berkumpul di rumah,"ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved