Jumat, 15 Mei 2026

Kisah di Balik Pembuatan Keris Siginjei

“Orang Kayo Hitam selalu mencegat upeti yang akan diberikan Kerajaan Melayu kepada Kerajaan Mataram,” j

Tayang:
Editor: Adi Suhendi
TribunJambi.com/ ELFRIDE SIAGIAN
Duplikat keris siginjei di Museum Negeri Jambi, Selasa (18/7) 

Laporan wartawan Tribunjambi.com, Elfride Siagian

TRIBUNNEWS.COM, JAMBI - Disaat Jambi masih di bawah naungan Kerajaan Mataram, Orang Kayo Hitam anak bungsu dari suami istri Datuk Paduko Berhalo dengan Puteri Selaras Pinang Masak selalu memberontak terhadap kerajaan Mataram dan tidak menyetujui pemberian upeti kepada Mataram.

“Orang Kayo Hitam selalu mencegat upeti yang akan diberikan Kerajaan Melayu kepada Kerajaan Mataram,” jelas Masgia SH selaku Kepala Bimbingan dan Publikasi Museum Siginjai.

Mengetahui perilaku Orang Kayo Hitam, Kerajaan Mataram merasa diusik dan mengambil tindakan tegas dengan meyuruh Empu di Pulau Jawa membuat keris khusus guna membunuh Orang Kayo Hitam.

“Untuk membunuh Orang Kayo Hitam dikatakan ramalan ahlli nujum dari Pemalang saat itu butuh Keris khusus yang terbuat dari Sembilan jenis besi, ditempa 40 Jumat dan disepuh dengan air 12 muara,” jelas Masgia.

Kekebalan dan kesaktian yang dimiliki Orang Kayo Hitam menjadi alasan dibutuhkan alat khusus untuk membunuhnya.

Belum sempat menyelesaikan pembuatan Keris tersebut, Orang Kayo Hitam sudah mengetahui tindakan Raja Mataram dan segera mencari siapa pembuat Keris.

Tak butuh waktu lama Orang Kayo Hitam menemukan Empu pembuat Keris dan meminta Keris tersebut secara baik-baik.

“Empu tidak menyerahkan Keris tersebut dan membuat Orang Kayo Hitam emosi kemudian memintanya secara paksa,” tutur Masgia menjelaskan kisah Keris Siginjai.

Setelah perlawanan panjang, akhirnya Raja Mataram menghampri Orang Kayo Hitam dan berupaya melakukan penawaran untuk meredamkan amarah Orang Kayo Hitam.

Raja Mataram kemudian menawarkan untuk menyandingkan Kerjaan Mataram dengan Kerajaan Melayu.

Orang Kayo Hitam diperkenalkan dengan putri Raja Mataram yang bernama Puteri Mayang Mangurai.

Tak berpikir panjang Orang Kayo Hitam menerima tawaran Raja untuk bersanding dengan putri Raja.

Saat pernikahan itulah Keris Siginjei diberikan kepada Orang Kayo Hitam dan digunakan sebagai Gonjai atau alat untuk menggulung rambut panjang Orang Kayo Hitam.

“Dari kata Gonjai itulah muncul sebutan Ginjei dan kini dikenal Siginjei,” jelas Masgia.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved