Ketika Para Mantan Teroris Bertobat, Umis Sholihah Berharap Jangan Sampai Suaminya Kambuh Lagi
Keluarga mantan narapidana teroris (napiter) dan kombatan kompak menyanyikan lagu Berkibarlah Benderaku sambil melambaikan bendera merah putih.
Agus Martin, asal Bekasi, mengungkapkan masa lalunya itu menjadi catatan yang tidak akan pernah diulang lagi. Pemasok senjata api laras pendek ini mengaku saat ini ia hanya berkonsentrasi pada pekerjaan di CV Attaubah.
"Tentu juga mempersiapkan diri untuk bekal ke akhirat kelak," ungkapnya.
Ia mengaku sangat bangga pada ketiga anaknya yang tampil memegang bendera merah putih dan ikut menyanyikan lagu Berkibarlah Benderaku.
"Tidak, tidak ada paksaan. Itu murni tulus, " katanya.
Mengapa ikut bergabung di Yayasan Lingkar Perdamaian? Agus Martin mengatakan tak ada paksaan dari pihak manapun terhadap dirinya.
"Ini (Indonesia) rumah kita. Insyaallah harus kita rawat dan kita jaga," tandasnya.
Program Khusus
Agus Martin yang tinggal di Desa Tenggulun, satu kampung dengan keluarga besar Trio bomber Bali (Amrozi, Muchlas, dan Ali Imron), ditangkap pada 2013 saat sedang bekerja sebagai kuli bangunan di Balai Desa Tenggulun.
Baca: Dua Aktor Serial India Gagan Kang dan Arjit Lavania Tewas Kecelakaan
Pagi itu ia ditangkap anggota Densus 88 Antiteror karena berperan sebagai pemasok senjata api (senpi).
"Saat itu saya memasok sebanyak 9 senpi ke beberapa jaringan," akunya tanpa mau membeberkan jaringan siapa saja.
Kementerian Sosial sudah menyiapkan sejumlah program untuk masa depan dan kelangsungan hidup para mantan narapidana terorisme dan mantan kombatan beserta keluarganya.
"Kita bisa menyebutnya live skill atau vocational training. Di Kemensos ada program itu selama ini untuk eks narapidana terorisme," kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.
Kemensos menjalin kemitraan dengan Yayasan Lingkar Perdamaian, yang diketahui mantan kombatan Ali Fauzi Manzi.
"Kami baru menemukan format setelah bertemu Ustaz Ali Fauzi," ujarnya dalam pertemuan antara Menteri Sosial, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mantan kombatan Ali Fauzi, anak bungsu almarhum Amrozi yang bernama Zulia Mahendra, dan sejumlah eks narapidana terorisme beserta keluarganya.
Khofifah berharap, program live skill atau vocational training bisa sesegera mungkin bisa dilaksanakan.
Menurut Khofifah, live skill atau vocational training bisa dijalankan dalam kelompok yang punya kesamaan dalam sebuah minat. Seperti di bidang pertanian sudah punya mitra di Sukabumi, sedang handycraft (kerajinan tangan) ada mitra di Yogya dan Bandung. (surya/hanif manshuri/aflah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/upacara-hut-ri-di-komplek-mantan-teroris_20170818_100352.jpg)