Selasa, 14 April 2026

Gunung Agung Bali Kini 'Waspada' Sewaktu-waktu Bisa Meletus

Dengan status Waspada itu, masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan diimbau tidak beraktivitas.

Editor: Hendra Gunawan
Wonderful Indonesia
Gunung Agung di Karangasem 

TRIBUNNEWS.COM, DENPASAR – Terhitung mulai pukul 14.00 Wita, Kamis (14/9/2017), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status aktivitas Gunung Agung, Karangasem, dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dengan status Waspada itu, masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan diimbau tidak beraktivitas.

Baca: Berlatar Cinta, Seorang Para Normal Tewas Dihabisi Pembunuh Bayaran

Yaitu tidak melakukan pendakian, dan tidak berkemah di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area di dalam radius 3 km dari kawah puncak Gunung Agung atau pada elevasi 1.500 dari permukaan laut.

“Sebab, sewaktu-waktu bisa terjadi peningkatan aktivitas vulkanologi yang bisa membahayakan,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, Dewa Made Indra, di Denpasar, Kamis (14/9/2017).

Namun, informasi di lapangan, warga yang tinggal di lereng gunung tetap beraktivitas seperti biasa walaupun Gunung Agung berstatus Waspada.

Mereka tetap cari kayu bakar di bawah Gunung Agung.

Ritual dan persembahyangan pun tetap digelar di pura-pura yang berada di lereng gunung, seperti Pura Pasar Agung di Desa Sebudi Kecamatan Selat, dan Pura Penataran Besakih, Desa/Kecamatan Rendang.

"Warga tetap beraktivitas seperti biasa.Mereka juga tetap naik ke gunung mengantar pendaki. Maturan juga tetap lancar, tanpa ada rasa khawatir," kata Wayan Suara Arsana, Perbekel Desa Amerta Bhuana, Selat, yang berada di lereng Gunung Agung, Kamis (14/9/2017).

Suara Arsana mengatakan, para pendaki Gunung Agung lewat jalur Pura Pasar Agung, Desa Sebudi, masih tetap berdatangan untuk naik.

Bahkan, pada Selasa (12/9/2017) lalu ada 100 pendaki yang naik.

"Memang sering ada gempa kecil di puncak. Tapi itu biasa terjadi, namanya juga gunung masih aktif. Gempa tidak sampai terasa ke perkampungan, cuma di puncak gunung saja," kata Suara Arsana, yang juga juru bicara (humas) Pura Pasar Agung, Desa Sebudi, Selat.

Jalur pendakian dari Rendang dikabarkan juga masih dibuka.

Selama ini, puncak Gunung Agung dapat ditempuh dari tiga jurusan, yakni dari Pasar Agung (selatan puncak); kemudian dari Budakeling lewat Nangka (tenggara puncak); dan dari Besakih (baratdaya puncak).

Dewa Indra mengatakan, peningkatan status aktivitas Gunung Agung di Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem itu berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental, serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya.

Dijelaskannya, Pos Pantau PVMBG yang berada di Desa Rendang terus memonitor aktivitas Gunung Agung.

Sedangkan Pos Pantau PVMBG di Kintamani (Bangli) memonitor tetangga Gunung Agung, yakni Gunung Batur.

Dewa Indra menegaskan, sampai saat ini belum ada rencana evakuasi terhadap warga.

Namun nanti jika aktivitas kian naik, dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sampai ke Level IV (Awas), maka BPBD sudah menyiapkan berbagai langkah penyelamatan.

BPBD Bali dan Karangasem sudah memiliki rencana darurat jika Gunung Agung mengalami erupsi atau letusan, dengan telah menentukan Kawasan Rawan Bencana (KRB) 1, 2 dan 3.

“Penduduk di desa-desa yang bisa terdampak akan dievakuasi ke mana, itu sudah ditentukan dalam rencana. Termasuk bantuan melalui jalur mana juga sudah dipetakanRencana darurat itu sudah pernah disimulasikan. Artinya, bila levelnya meningkat, maka BPBD merespon sesuai tahapan,” jelas Indra.

Ketua Pos Pemantauan Gunung Agung, I Dewa Made Mertayasa mengatakan,

belum ada tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik dan seismik yang mengarah ke status yang lebih tinggi dari waspada, yakni status Siaga (Level III), apalagi status Awas (Level IV).

Memang hasil rekam alat seismograf yang dipasang di Gunung Agung mencatat ada peningkatan gempa bagian kawah.

Biasanya, kata Mertayasa, dalam sehari cuma 2-5 kali gempa.

Namun tanggal 11 dan 13 September, aktivitas gunung aktif tertinggi di Bai ini (setinggi 3.014 meter di atas permukaan laut) meningkat menjadi 6 hingga 7 kali gempa.

“Karena Gunung Agung adalah gunung yang masih aktif, naik-turun aktivitas seismik maupun vulkaniknya adalah hal biasa,” kata Mertayasa.

Terakhir, letusan atau erupsi Gunung Agung terjadi pada tahun 1963.

Dimulai pada 18 Februari 1963 dengan gempa ringan, yang disusul gempa-gempa berskala lebih besar dan berakhir pada 27 Januari 1964.
Dalam periode itu, erupsinya yang bersifat eksplosif mengakibatkan 1.148 orang tewas, dan 296 orang luka.

Untuk kondisi terakhir saat ini, gejala-gejala sebagaimana yang mengawali erupsi tahun 1963 masih belum terasa.

“Kami berharap semua aman, dan masyarakat tenang kendati harus tetap waspada. Sebab, Gunung Agung adalah gunung berapi yang masih aktif,” jelas Dewa Indra. (Saiful Rohim)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved