Minggu, 31 Agustus 2025

Gempa di Sulteng

Cerita Warga soal Ritual Panomi yang Kembali Dihidupkan dan Bencana Gempa di Palu

Satu cerita soal peristiwa nahas itu bahkan dikait-kaitkan dengan perayaan Festival Pesona Palu Namoni (FPPN)

Penulis: Yanuar Nurcholis Majid
TRIBUN/DANY PERMANA
Warga melakukan komunikasi telepon saat mengunjungi kawasan Petobo, Sigi, yang mengalami likuifaksi akibat gempa, Kamis (11/10/2018). Tanggap Darurat tahap I telah berakhir pada 12 Oktober 2018 sekaligus berakhir pula evakuasi dan pencarian korban pada 11 Oktober 2018. Namun pemerintah memperpanjang masa Tanggap Darurat ke tahap II selama 14 hari ke depan, dan akan berkonsentrasi pada penanganan pengungsi dan perbaikan insfrastruktur. TRIBUNNEWS/DANY PERMANA 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Nurcholis Majid 

TRIBUNNEWS.COM, PALU - Musibah gempa, tsunami dan likuefaksi yang melanda Kota Palu, Donggala dan sekitarnya di Sulawesi Tengah meninggalkan banyak cerita duka. 

Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga H+13 atau Kamis (11/10/2018) saja korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah telah mencapai 2.073 orang.

Baca: H Kenang Sahabatnya yang Tak Bisa Diselamatkan dari Reruntuhan Bangunan Sekolah

Satu cerita soal peristiwa nahas itu bahkan dikait-kaitkan dengan perayaan Festival Pesona Palu Namoni (FPPN). 

Di mana, dalam FPPN ada ritual balia yang dihadirkan dalam festival tersebut

Andri, warga Palu Selatan, bercerita ritual balia sejatinya merupakan upacara adat khas suku Kaili untuk meminta kesembuhan. 

Suku Kaili, kata Andri, sebagian besar merupakan orang asli Sulawesi Tengah yang tersebar di Donggala dan Palu.

Sejatinya, upacara Palu Namoni beserta ritual balia yang digelar di Pantai Talise pada (28/9/2018) atau tepat dengan peristiwa gempa terjadi, sudah lama tidak pernah digelar. 

"Itu ada kala Sulawesi penduduknya belum menganut kepercayaan, jadi panggil roh untuk pengobatan," cerita Andri. 

Palu Namoni baru dihidupkan kembali setelah pemerintahan Kota Palu dipimpin oleh Wali Kota Hidayat dan Wakil Wali Kota Sigit Purnomo Said atau Pasha Ungu.

Andri menceritakan, setidaknya telah terjadi tiga kali hal janggal ketika upacara adat Palu Namoni kembali digelar semasa pemerintahan Wali Kota Palu Hidayat sejak 2016 lalu.

Menurut Andri dari tiga kali perhelatan Festival Palu Namoni digelar, tiga kali pula fastival ini selalu mendatangkan kejadian alam yang dinilainya tak wajar. 

Andri pun mengenang kejadian Palu Namoni saat 2016 lalu. Saat itu, ketika pembukan Palu Namoni angin di sekitar Palu berhembus dengan kencangnya. 

"Sama masih ingat betul, saya berdua istri saya, sampai harus lari, sebab itu pohon-pohon ada yang roboh, angin kencang sekali," kenang nya. 

Kemudian yang kedua, di Pantai Talise pada gelaran Palu Namoni tahun 2017, sempat ada kejadian seekor buaya memangsa nelayan di sekitar jembatan Ponulele atau lebih dikenal dengan Jembatan Kuning. 

Halaman
12
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan