Tergiur Motor Harga Murah Lewat Medsos, Fei Tertipu Seorang 'Polwan'
Namun kecurigaan Fei ketika itu luntur lantaran pelaku kembali meyakini Fei bahwa yang bersangkutan adalah anggota Polwan.
Laporan Reporter Tribun Lampung Endra Zulkarnain
TRIBUNNEWS.COM, TULANGBAWANG - Berhati-hatilah jika bertransaksi jual beli online via medsos.
Jika tidak jeli, bisa-bisa kita menjadi korban penipuan.
Seperti yang dialami Ahmad Syafei, warga Kampung Menggala Kecamatan Menggala Timur, Tulangbawang.
Gara-gara bertransaksi jual beli sepeda motor via Facebook, Ahmad Syafei harus rela tertipu uang Rp 8 juta.
Uang tersebut ditransfer sebanyak empat kali ke rekening atas nama Sukardi.
Fei, begitu dia akrab disapa, ketika itu yakin tidak akan tertipu lantaran pemilik akun jual beli motor leasing bekas itu mengaku sebagai Polwan.
"Saya yakin karena dia juga pasang poto wanita berpakaian polwan," kata Fei kepada Tribun, Rabu (26/12).
Dalam proses transaksi dan negosiasi jual beli sepeda motor honda beat itu, Fei mengatakan, pelaku sempat mengirim foto KTP atas nama Lina Herlina.
Dalam foto KTP yang dikirim via WA, tertulis pelaku beralamat di Jalan lintas timur RT 001 RW 008 desa kulim Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru, Riau.
Dalam KTP dengan NIK 6406026410950004 itu tercatat status pekerjaannya sebagai Polwan.
"Jadi saya yakin nggak akan tertipu karena yang bersangkutan ngakunya Polwan. Bahkan dia juga sempat kirim poto kartu anggota polisi," papar Fei.
Aksi penipuan yang dialami Fei itu bermula ketika pelaku menguploud sepeda motor honda beat melalui akun FB jual beli sepeda motor leasing bekas.
Fei pun tertarik lantaran ketika itu pelaku menawarkan harga sepeda motor dengan harga murah.
"Waktu itu dia ngaploud foto motor beat. Kutunjukkan ke mertua, dan mau," kata Fei.
Tawar menawar pun terjadi sampai pada akhirnya deal harga Rp 5 juta.
"Setelah deal, lanjut hubungan melalui WA dari harga dan sistem pembayaran. Sebagai tanda jadi, pelaku minta saya transfer uang Rp 2 juta dulu ke rekening bank muamalat atas nama Sukardi. Rekening itu tercantum di FB," papar Fei.
"Setelah kutransfer Rp 2 juta, dia bilang dua hari motor akan di kirim, namun belum juga motor terkirim, besoknya dia minta lagi uang pelunasan Rp 3 juta," sambung Fei.
Ketika itu, Fei sempat menaruh curiga dengan gelagat pelaku yang meminta kembali sisa uang untuk pelunasan.
Namun kecurigaan Fei ketika itu luntur lantaran pelaku kembali meyakini Fei bahwa yang bersangkutan adalah anggota Polwan.
"Waktu dia minta lagi uang pelunasan, saya sempat bilang ini mau nipu atau gmana. Setelah itu dia mengirimkan saya kartu anggota kepolisian, KTP, dan sertifikat delaer motor resmi. Karena percaya, kemudian saya kirim lagi uang sisa yang Rp 3 juta," ungkap Fei.
Setelah ditransfer uang pelunasan Rp 3 juta itu, kepada Fei pelaku berjanji akan mengirim sepeda motor satu hari usai setelahnya.
Lagi-lagi pelaku ingkar. Setelah ditunggu sampai tiga hari usai mentransfer sisa uang ternyata sepeda motor tidak juga sampai dikediaman Fei.
"Saya hubungi lagi dia lewat WA, saat itu dia mengatakan masih memproses bea balik nama di Samsat, dan membutuhkan biaya Rp 3 juta lagi," beber Fei.
Untuk kedua kalinya, Fei menaruh curiga dengan gelagat pelaku.
Namun dengan segala tipu daya pelaku, kecurigaan Fei kembali luntur.
"Saya waktu itu yakin bahwa ini penipuan, tapi entah kenapa saya ini percaya aja. Saya transfer lagi Rp 3 juta sesuai permintaan pelaku, jadi total sudah Rp 8 juta yang saya kirim, tapi sampai detik ini motor tak kunjung datang, no hp dan akun yang bersangkutan pun hilang," sesal Fei.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-penipuan-lewat-telepon_20181012_185620.jpg)