Selasa, 7 April 2026

Erupsi Gunung Anak Krakatau

Hari Pertama 2019 Tercatat 4 Kali Gempa Letusan Gunung Anak Krakatau

Dari pukul 00.00 WIB sampai dengan pukul 06.00 WIB, tercatat hanya ada 4 kali gempa letusan dengan amplitudi 13-25 mm dan durasi 40-120 detik.

Editor: Dewi Agustina
Tribun Lampung/Dedi Sutomo
Petugas Pos Pantau GAK di Desa Hargopancuran Kecamatan Rajabasa, Suwarno. TRIBUN LAMPUNG/DEDI SUTOMO 

Laporan Wartawan Tribun Lampung, Dedi Sutomo

TRIBUNNEWS.COM, LAMPUNG SELATAN - Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda terus menunjukkan penurunan.

Dari data aktivitas vulkanik sampai dengan pagi ini, Selasa (1/1/2018) tidak lagi terdengar adanya suara dentuman dari aktivitas erupsi GAK seperti yang terjadi pada pekan lalu.

"Dari pukul 00.00 WIB sampai dengan pukul 06.00 WIB, tercatat hanya ada 4 kali gempa letusan dengan amplitudi 13-25 mm dan durasi 40-120 detik," kata petugas Pos Pantau GAK di Desa Hargopancuran, Suwarno.

Selain gempa letusan juga teramati adanya gempa hembusan sebanyak 39 kali dengan amplitudo 7-22 mm dan durasi 25-225 detik.

Dan gempa tremor mon harmonik dengan jumlah 1 dengan amplitudo 25 mm dan durasi 464 detik.

Kemudian gempa vulkanik dalam 1 dengan amplitudo 15, S-P : 2.8 detik dan durasi 17 detik.

"Sampai saat ini status GAK sampai saat ini level III siaga. Dimana para pengunjung dan nelayan dilarang mendekat dalam radius 5 kilometer," kata Suwarno.

Baca: Liburan di London, Nia Ramadhani Diejek Ini Oleh Warga Setempat Saat Masuk Toko: Kesel Banget Gue!

Tinggi GAK Tinggal 110 Meter
Volume dan tinggi puncak Gunung Anak Krakatau (GAK) terus menyusut hingga tersisa 110 mdpl (meter di atas permukaan laut) dari ketinggian semula 338 mdpl.

Hal ini diperkirakan karena adanya proses rayapan tubuh gunung api disertai laju erupsi tinggi sejak 24-27 Desember 2018.

Baca: Pemuda Tabrakkan Mobilnya di Kerumunan Warga pada Malam Pergantian Tahun di Jepang, 8 Orang Terluka

Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM, Antonius Ratdomopurbo, mengungkapkan tinggi Gunung Anak Krakatau berkurang drastis karena longsoran ke kaki lereng gunung pasca-erupsi.

"Kami melihat kondisi kemarin sore itu terkonfimrasi bahwa GAK itu tingginya yang semula 338 meter sekarang ini ya kira-kira hanya 110 meter," ujar Antonius di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Sabtu (29/12/2018).

Antonius menjelaskan, dari pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM pada Jumat (28/12) pukul 00.00-12.00 WIB, teramati letusan dengan tinggi asap maksimum 200-300 meter di atas puncak kawah gunung.

Saat itu, abu vulkanik bergerak ke arah timur-timur laut dan cuaca berawan-hujan dengan arah angin dominan ke timur-timur laut.

Aktivitas Erupsi gunung anak krakatau terlihat dari KRI Torani 860 di perairan Selat Sunda, Banten, Kamis (27/12/2018). Petugas pos pengamatan anak gunung Krakatau mencatat ada sembilan kali letusan dalam satu menit, jumlah ini menurun dibandingkan hari sebelumnya yang terjadi letusan 14 kali per menit. (Tribunnews/Jeprima)
Aktivitas Erupsi gunung anak krakatau terlihat dari KRI Torani 860 di perairan Selat Sunda, Banten, Kamis (27/12/2018). Petugas pos pengamatan anak gunung Krakatau mencatat ada sembilan kali letusan dalam satu menit, jumlah ini menurun dibandingkan hari sebelumnya yang terjadi letusan 14 kali per menit. (Tribunnews/Jeprima) (Tribunnews/JEPRIMA)

Namun, pada pukul 14.18 WIB, cuaca cerah dan terlihat asap letusan tidak berlanjut.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved