Pesantren di Lhokseumawe Dibekukan Terkait Kasus Dugaan Pelecehan Santri

Pemerintah Kota Lhokseumawe akhirnya membekukan salah satu pesantren di wilayahnya, menyusul laporan dugaan kasus pelecehan santri.

Pesantren di Lhokseumawe Dibekukan Terkait Kasus Dugaan Pelecehan Santri
Serambi Indonesia
Pemerintah Kota Lhokseumawe akhirnya membekukan salah satu pesantren di wilayahnya, menyusul laporan dugaan kasus pelecehan santri. 

TRIBUNNEWS.COM, LHOKSEUMAWE – Pemerintah Kota Lhokseumawe akhirnya membekukan salah satu pesantren di wilayahnya, menyusul laporan dugaan kasus pelecehan santri.

Keputusan ini diambil pemerintah setelah menggelar pertemuan bersama masyarakat di sekitar pesantren tersebut.

Di sisi lain, juga dibentuk tim investigasi yang salah satunya akan ikut membuka posko pengaduan dari masyarakat, terutama wali murid.

Kabag Humas Pemko Lhokseumawe, Muslim Yusuf mengakui ada dorongan dari masyarakat agar pesantren AN tak lagi berada di wilayah mereka.

Sebelumnya, kepolisian di Lhokseumawe mengamankan dua pria yang tak lain adalah pimpinan dan guru di pesantren AN.

Mereka diamankan dengan tuduhan melakukan pelecehan seksual terhadap santri laki-laki.

Korbannya dilaporkan merupakan santri dengan usia antara 13 hingga 14 tahun.

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa Bersatu USU (Mabesu) menggelar aksi di Universitas Sumatera Utara, Medan, Senin (27/5/2019). Dalam aksinya, mereka meminta agar pihak universitas memberikan sanksi berupa pemecatan kepada dosen berinisial HS yang diduga melakukan pelecehan seksual kepada beberapa mahasiswi FISIP. TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa Bersatu USU (Mabesu) menggelar aksi di Universitas Sumatera Utara, Medan, Senin (27/5/2019). Dalam aksinya, mereka meminta agar pihak universitas memberikan sanksi berupa pemecatan kepada dosen berinisial HS yang diduga melakukan pelecehan seksual kepada beberapa mahasiswi FISIP. TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR (Tribun Medan/Danil Siregar)

Untuk kasus ini polisi telah menyelesaikan pemeriksaan terhadap lima korban.

Mereka umumnya mengaku sudah berulang kali dilecehkan dan sudah berlangsung sejak September 2018 lalu.

15 Korban

Halaman
1234
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved