Breaking News:

Pascarusuh Wamena, Harga Makanan Mahal, 1 Ekor Ayam Rp 600 Ribu, Penyet Lele Rp 80 Ribu

Kondisi ekonomi di Wamena mulai pulih, tapi harga makanan masih mahal. Seperti penyet lele Rp 80 ribu.

SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
Pengungsi dari Wamena, Papua, tiba di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, dengan menggunakan pesawat Hercules TNI AU, Selasa (2/10/2019). Sebanyak 120 pengungsi yang berasal dari Jawa Timur tiba di Malang untuk kembali ke daerah asal, pasca kerusuhan di Wamena yang mengakibatkan 33 orang tewas. SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO 

TRIBUNNEWS.COM, WAMENA- Kondisi ekonomi di Wamena mulai pulih, tapi harga makanan masih mahal. Seperti penyet lele Rp 80 ribu.

Direktur Program Laznas Nurul Hayat, Kholaf Hibatulloh mengatakan pihaknya ikut mendampingi warga Jatim yang kembali dari Wamena.

Banyak pengungsi yang kembali ke Jatim tanpa membawa bekal apapun.

Kemudian, mereka kembali dalam kondisi psikologis trauma pascarusuh.

Hingga kini warga Jatim yang kembali dari Wamena mengalami trauma berat.

Bahkan, mereka mengaku enggan kembali ke Wamena.

“Trauma untuk kembali, asesmen lagi. Suasana di lapangan di pintu Lanud. Ada rasa trauma berat. Ada maskapai Hercules sudah dihentikan kemarin. Hari ini (dibuka) yang ada rute dari Wamena ke Sentani,” jelasnya, dikutip dari Tribun Jatim.

Harga Bahan Pokok Naik

Sementara itu, menurut Kholaf aktivitas ekonomi di Wamena mulai bergeliat.

Warung-warung mulai buka, seperti warung masakan padang.

Akibatnya, harga bahan pokok meninggi mengingat ribuan pendatang masih mengungsi di luar Wamena.

“Ekonomi mulai hidup. Tapi ya begitu harga dari satu ekor ayam sampai Rp 600 ribu. Penyetan lele Rp 80 ribu,” pungkasnya.

Saring Berita Provokatif Soal Krisis Sosial Wamen

Direktur Program Nurul Hayat, Kholaf Hibatulloh, telah mendata pengungsi dari Wamena yang sempat dipulangkan ke Jawa Timur.

Kebanyakan warga ini tidak ingin kembali ke Wamena lantaran trauma berat.

Pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos), Lanud dengan Pemprov mengenai perkembangan masyarakat warga Jatim yang ada Wamena.

"Untuk di sana sendiri Wamena ada koordinasi harian yang di situ ada pemerintah dan LSM lokal, masyarakat, mereka koordinasi harian," jelas Kholaf, Sabtu, (5/10/2019).

"Pemprov melalui dinsos, mengantarkan dan mendata masyarakat pulang kemana-kemana. Kita ambil peran di situ. Sampai ke dinsos Kecamatan atau kabupaten itu yang kita lakukan," jelas Kholaf,

Dia menambahkan seluruh elemen masyarakat ikut berperan membantu pemulihan dalam perkara ini.

Karena baginya kasus di Wamena belum bisa dikatakan selesai.

"Ini belum selesai, masih ada peran dari warga yaitu sisi psikologi dan juga ekonomi. Karena mereka pulang dari Wamena tanpa membawa apa-apa. Itu yang perlu kita perhatikan," pesannya.

Kholaf pun mengimbau masyarakat untuk terus membantu, terlebih dalam hal menyaring informasi.

"Kami mengimbau masyarakat atau semua elemen untuk menyaring berita yang sifatnya provokasi.

Karena kita akan terus menyiarkan perdamaian. Wamena damai, Papua damai dan sebagainya," ucap Kholaf.

"Selain itu terhadap Pemprov yang warganya pulang, bahwa ada PR selanjutnya penanganan psikososial dan juga ekonomi masyarakat tersebut," tutupnya.

Kisah Nurul Hayat Mendampingi Warga Jatim di Ambon dan Wamena

Melalui program Sigap aksi tanggap bencana, Nurul Hayat turut mendampingi dan menyalurkan bantuan untuk warga Jatim yang saat iniberada di Ambon dan Wamena.

Kholaf Hibatulloh, selaku Direktur Program Nurul Hayat, sebagai lembaga amil zakat membeberkan situasi terkini dari wilayah terdampak gempa di Ambon, dan wilayah terdampak krisis sosial Wamena.

"Dengan ribuan pengungsi itu petugas di sana sangat sedikit.

Sehingga kami mengambil sisi di mana yang kekurangan itu.

Baik di sisi kesehatan, psikososial ataupun di logistik," terangnya, Sabtu, (5/10/2019).

Terlebih dalam segi perekonomian, Kholaf menyebutkan sudah banyak warung yang mulai buka.

"Warung-warung sudah buka. Warung nasi padang sudah buka, pasar sudah buka. Perekonomian sudah mulai menggeliat. Ini sisi positif yang bisa diambil," imbuhnya.

Akan tetapi yang masih menjadi perhatian, yaitu jaminan keamanan.

Ya, disana masyarakat masih merasakan trauma dan takut.

"Perlu kita himbau kepada pemerintah untuk memberikan jaminan keamanan dan sebagainya," tandasnya. (*) (Tribunnewswiki.com/Putradi Pamungkas, Tribunjatim.com/Samsul Arifin)

Editor: Sugiyarto
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved