ESDM Serahkan Gasifikasi Mini Batubara untuk IKM di Sidoarjo, Lebih Irit Dibanding Elpiji dan Solar

dari hasil uji coba, penggunaan GasMin lebih irit ketimbang gas elpiji dan BBM solar.

ESDM Serahkan Gasifikasi Mini Batubara untuk IKM di Sidoarjo, Lebih Irit Dibanding Elpiji dan Solar
Reynas Abdila
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral, Dadan Kusdiana saat meninjau pengoperasian Gasifikasi Mini Batubara 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral, Dadan Kusdiana menyerahkan dua unit Gasifikasi Mini Batubara (GasMin) berkapasitas 10 kg produksi Puslitbang Tekmira.

Penyerahan GasMin merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Minarak Brantas Gas kepada industri kecil menengah (IKM) Telur Asin UD Adon Jaya dan IKM Kerupuk di Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (24/10/2019).

“GasMin ini sangat cocok digunakan pada industri kecil dan menengah yang biasa menggunakan tungku, oven atau boiler untuk memanaskan atau memasak,” kata Dadan.

Baca: Respon Adian Napitupulu Saat Diminta Jadi Menteri Bikin Jokowi Menatap Tajam: Ampun 1000 Kali

Baca: Potret Mesra Hotman Paris & Sang Istri Agustianne Marbun di Masa Lalu Terekspos, Intip Penampilannya

Dadan menjelaskan hasil uji coba yang telah dilakukan Puslitbang Tekmira mulai dari tahap pilot plant, demo plant, dan komersial menunjukkan bahwa penggunaan GasMin lebih irit ketimbang gas elpiji dan BBM solar.

Kepala Puslitbang Tekmira Hermansyah menyebut keunggulan penggunaan Gasmin selain efisiensi dan dapat berdampak secara nasional meningkatkan hilirisasi batubara sekaligus penguatan dalam negeri.

“Penggunaan GasMin dibanding solar sebesar 38,97 persen dengan rata-rata pemakaian solar sebesar 17 liter per hari. Sedangkan dibanding LPG 3 kg sebesar 28,69 persen dengan rata-rata 8 tabung per hari,” kata Hermansyah.

Menurut pemilik UD Adon Jaya, Sulaiman setelah menggunakan GasMin, proses pemasakan telur Asin menjadi lebih cepat satu jam dan lebih efisien.

Pengoperasian alat cukup mudah dan menghasilkan sumber panas yang banyak dan rencananya akan dimanfaatkan untuk pengovenan telor asin.

“Baru satu minggu menggunakan GasMin biaya produksi lebih murah juga waktu proses lebih cepat,” ujar Cak Man, sapaanya.

Sementara pemilik IKM kerupuk, Muarofah mengatakan, ia dapat memasak lebih cepat setelah menggunakan GasMin.

Selisih waktunya cukup signifikan, sekitar 30 menit sampai 1 jam bila dibandingkan dengan kayu bakar.

“Selama proses memasak tidak ada asap atau polusi yang muncul,sehingga tidak mengakibatkan ketel menjadi hitam,” urai Muarofah.

Diketahui, Gasmin genarasi pertama dirintis tahun 2007 dan teknologinya terus disempurnakan menjadi Gasmin generasi kedua, yang lebih sederhana baik dalam bentuk fisik, maupun pengoperasiannya.

Seiring penetapan Puslitbang Teknologi menjadi Badan Layanan Umum pada tahun 2018, Gasmin mulai dipasarkan secara komersial.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved