Daya Tarik Desa Adat Sendi Kian Menjadi Berkat Sentuhan PLN Peduli

Wisata Edukasi Terpadu (WET) Sendi ini untuk membantu masyarakat Sendi dari segi perekonomian wisatanya.

Daya Tarik Desa Adat Sendi Kian Menjadi Berkat Sentuhan PLN Peduli
HandOut/Ist
Kunjungan sejumlah influencer media sosial ke kawasan Wisata Edukasi Terpadu Desa Adat Sendi, Mojokerto, Jawa Timur, medio November 2019. 

TRIBUNNEWS.COM -  Panorama hutan belantara hingga view asri khas penggunungan menjadi daya tarik tersendiri di kawasan destinasi wisata Desa adat Sendi, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Pandangan mata di kejauhan terlihat berjejer pohon-pohon rimbun berlatang belakang Gunung Arjuna- Welirang dan Gunung Penanggungan di area wisata Sendi Adventure.

Namun, dulu di Desa Adat Sendi ini tidak terdapat listrik, tapi sejak 2016 listrik legal sudah mencapai kawasan ini, dan pada November 2018 kemarin, diresmikan Wisata Edukasi Terpadu (WET) Sendi ini untuk membantu masyarakat Sendi dari segi perekonomian wisatanya.

"Hal tersebut tak lepas dari peran program #PLNPeduli yang telah membangun beberapa fasilitas berupa musala, toilet, dan juga gazebo agar pengunjung juga lebih nyaman ketika berada di WET Sendi," ujar Zailla, selaku perwakilan PLN Jawa Timur.

kawasan Wisata Edukasi Terpadu Desa Adat Sendi
Kunjungan sejumlah influencer media sosial ke kawasan Wisata Edukasi Terpadu Desa Adat Sendi, Mojokerto, Jawa Timur, medio November 2019.

Hasil dari sentuhan program PLN Peduli sudah bisa memberikan dampak dari segi perekonomian warga Desa Adat Sendi melalui kegiatan wisata di area tersebut.

"Karena WET Sendi dikelola langsung oleh warga sekitar. Meskipun kini Desa Adat Sendi memiliki daya tarik wisata yang sudah dikelola cukup baik, namun masyarkat sekitar tidak melupakan adat dan budaya dari nenek moyang mereka. Kegiatan ritual masih lekat dan bisa dijumpai pada saat berkunjung ke lokasi tersebut," katanya.

Salah satunya adalah tradisi ngangsu banyu kahuripan. Jika itu diterjemahkan, kurang lebih itu bermakna menimba air kehidupan.

Sesuai namanya, ngangsu banyu kahuripan merupakan tradisi mengambil air dari sumber mata air yang disucikan. Warga setempat menyebutnya Babakan Kucur Tabud.

Sumber air di lokasi itu mengalir sangat jernih.

Untuk mengambil air, masyarakat harus mengenakan pakaian adat. Wadah untuk menampung air pun tidak sembarangan.

Halaman
12
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved