Breaking News:

Pemuka Agama di Bandung Dukung Polri Tindak Tegas Kelompok Radikal, Intoleran. dan Separatis

Pertemuan itu dihadiri 15 tokoh pemuka agama Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, hingga pimpinan ormas keagamaan.

Tribun Jabar/Mega Nugraha
Forum Silaturahmi Pemuka Agama se-Kota Bandung menyatakan komitmen menjaga kerukunan dan keamanan di tengah banyak kegaduhan di dalam negeri. Mereka bertemu di Gedung Korpri Jalan Cicendo Kota Bandung, Senin (21/12/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar Mega Nugraha

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Sejumlah pemuka agama di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, duduk bersama di satu ruangan di Gedung Korpri Jalan Cicendo, Kota Bandung, Senin (21/12/2020).

Mereka yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Pemuka Agama se-Kota Bandung menyatakan komitmen untuk menjaga kerukunan dan keamanan di tengah banyak kegaduhan di dalam negeri.

"Pertemuan para pemuka agama ini berangkat dari kekhawatiran terhadap ancaman disintegrasi bangsa karena kelakuan kelompok radikal, intoleran, teror, dan separatis. Bahkan perselisihan antarkelompok yang mementingkan diri sendiri, saling mengolok-olok, dan mengabaikan kepentingan bangsa yang lebih luas. Lebih prihatin, apalagi bawa identitas agama hingga kesukuan. Itu bahaya," ucap Koordinator Forum Silaturrahim Pemuka Agama se-Kota Bandung, KH Wahyul Afif Al-Ghafiqi.

Baca juga: Mahfud MD Sebut FPI Belum Penuhi Syarat sebagai Ormas: Kita Menganggap Tidak Ada Ormas Itu

Pertemuan itu dihadiri 15 tokoh pemuka agama Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, hingga pimpinan ormas keagamaan.

Kata dia, pertemuan itu juga melahirkan tujuh rekomendasi kepada pemerintah dan imbauan kepada umat beragama yang dipimpinnya.

"Kasus di Sigi, membunuh satu kelompok. Agama manapun tidak mengajarkan untuk melukai, saling membunuh. Karenanya, kami mendukung sepenuhnya TNI dan Polri untuk melakukan hal yang dianggap perlu untuk keamanan dan kedamaian di Indonesia," ucap dia.

Selain itu, mereka juga merekomendasikan agar pemerintah bertindak tegas membubarkan kelompok maupun ormas yang terbukti intoleran, radikal, dan bertentangan dengan Pancasila.

"Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama bersatu-padu berperang melawan tindakan intoleransi, radikal dan teror termasuk di dunia maya dan menghindari berita-berita palsu yang menyebabkan keresahan hingga kekerasan di masyarakat," ucapnya.

Mereka memahami kegaduhan soal kondisi bangsa tidak lepas dari aktivitas di media sosial.

Halaman
12
Editor: Hasanudin Aco
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved