Selasa, 2 Juni 2026

Salah Satu Penyebab Banjir di Barabai, Dipicu Pembalakan Liar

"Mereka menebang pohon tanpa peduli mengenai akibatnya, ditambah lagi curah hujan yang ekstrim seperti kemarin akan semakin memperparah kondisi

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
banjarmasinpost.co.id/Eka Pertiwi
Banjir Pajukungan 

Warga pun memergoki ulah para penebang, sedang memotong pohon-pohon besar menggunakan mesin chainsaw.

Sahran, salah satu warga yang memantau hutan di wilayah Pantai Mangkiling mengatakan, melihat langsung bersama 12 warga lainnya aksi penebangan kayu berusia puluhan bahkan mungkin ratusan tahun itu ditebangi.

“Saat kami pergoki, mereka ketakutan karena menebang di hutan lindung di wilayah kami,”kata Sahran kepada banjarmasinpost.co.id, Selasa (2/3/2021).  

Perlu Dikaji Ulang Tata Ruang 

Sebelumnya, Pakar Hidrogeologi dan Sumberdaya Air Dr Sci Rachmat Fajar Lubis mengatakan, dahulu Kalimantan dibangun dengan konsep tata ruang bebas banjir namun dengan kondisi pertumbuhan saat ini, konsep tersebut tidaklah berlaku lagi.

"Seiring pertumbuhan pembangunan dan masyarakat di wilayah ini menghasilkan perubahan konsep tata ruang," kata Dr Sci Rachmat Fajar Lubis dalam keterangannya.

Kondisi ini ditambah lagi dengan perubahan iklim yang memunculkan event-event cuaca ekstrim seperti perubahan intensitas hujan yang terjadi belakangan ini, membuat konsep bebas banjir ini harus dikaji ulang.

Sebagai provinsi yang disebut-sebut memiliki sejarah banjir sejak 1823, Kalimantan Selatan memiliki keunikan secara geologi.

Salah satu wilayah yang menjadi prioritas kajian ini adalah kota Barabai, yang berada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Kota ini secara geografis terbagi dalam tiga kawasan rawa, dataran rendah, dan wilayah pegunungan Meratus. 

Hingga secara alami kawasan ini memiliki siklus tata air (hidrologi) yang sangat rentan akan perubahan tata ruang yang secara langsung dapat merubah neraca keseimbangan air (water balance) yang ada.

“Ini bukan saja terhadap sistem tata air tetapi juga sistem lainnya.

Ini sebabnya harus selalu ada Analisa Dampak Lingkungan yang akan terjadi apabila direncanakan akan ada suatu aktifitas baru di suatu wilayah yang berskala besar,” ungkap Peneliti Geoteknologi LIPI ini.

Barabai adalah sebuah kota kecamatan sekaligus pusat pemerintahan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia.

Barabai terletak di tepi sungai Barabai dan berjarak 165 km di sebelah utara Kota Banjarmasin, ibu kota provinsi.

Lokasinya yang terletak di kaki pegunungan Meratus dan bagian dari Daerah Aliran Sungai Barito menjadikan wilayah ini memiliki potensi banjir.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved