Seni Tari
Mengenal Seni Tari Ndolalak, Warisan Budaya Purworejo yang Pernah Jadi Kontroversi
Tarian Ndolalak merupakan identitas kesenian masyarakat Purworejo dan sekitar, yang tidak dimiliki oleh daerah lain.
Editor:
cecep burdansyah

TRIBUNNEWS.COM, PURWOREJO - DPRD Jateng menyelenggarakan Dialog Kebudayaan dan Pagelaran Tari Ndolalak di Hotel Sanjaya, Kabupaten Purworejo, Sabtu (12/2).
Hal ini sebagai upaya melestarikan seni tradisi yang ada di masyarakat Purworejo. Bagaimana pandangan terkait Tari Ndolalak?
Dalam Dialog Kebudayaan itu, menghadirkan narasumber Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko, yang hadir secara virtual; pelaku seni Tari Krisyanti Tri Astuti; dan Pemerhati Budaya Kabupaten Purworejo, Verra Anggraeni Purwaningrum.
Pemerhati Budaya Kabupaten Purworejo, Verra Anggraeni Purwaningrum menegaskan, kesenian tradisional merupakan salah satu sarana hasil dari cipta rasa dan karsa manusia, sehingga kesenian tradisional juga bisa menjadi suatu identitas tersendiri dari daerah tersebut.
Sebagai contoh tarian Ndolalak yang merupakan identitas kesenian masyarakat Purworejo dan sekitar, yang tidak dimiliki oleh daerah lain.
"Tari Ndolalak merupakan sejarah dari Kabupaten Purworejo dan beberapa daerah sekitar yang menggambarkan tentang perilaku serdadu kolonial Belanda ketika beristirahat di CAMP mereka saat masa penjajahan. Pada saat istirahat itu para serdadu Belanda kemudian melakukan pesta dan berdansa. Aktivitas tersebut kemudian ditiru oleh orang pribumi dan terciptalah gerakan sederhana dan berulang-ulang yang kemudian dinamakan tari Ndolalak. Nama Ndolalak diambil dari tangga nada DO dan LA karena awalnya tarian ini hanya diiringi nada do dan la,” katanya.
Pelaku seni Ndolalak yang juga hadir di acara itu, Krisyanti Tri Astuti menegaskan, Tari Ndolalak memang sempat menjadi kontroversi karena dianggap sebagai tarian erotis.
Bahkan beberapa kalangan sempat melarang penampilan kesenian tradisional ini. Hal itu karena kostum yang dikenakan para penari, banyak meniru seragam para serdadu Belanda yang sedang pesta yang tentu eksotis.
"Namun saat ini, pelaku Ndolalak sadar, saat menarikan di depan anak-anak ataupun kelompok agama, mereka mengenakan celana yang sopan hingga menutup lutut. Ini untuk menyesuaikan dengan norma yang ada. Namun dalam pentas umum, tetap menggunakan kostum yang memang jadi ciri khas tarian ini," tegasnya.
Ditambahkan, butuh peran pemerintah daerah dan kesadaran masyarakat untuk melestarikan kesenian tradisional semacam Tari Ndolalak ini.
Keberhasilan pelestarian kesenian tradisional sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah daerah bersama dengan DPRD, dalam merumuskan program dan kebijakan yang langsung bersentuhan dengan kelompok kelompok kesenian yang terbentuk.
“Dan juga peran serta dari pemerintah daerah dalam membantu menunjang sarana prasarananya,” katanya.
Pembinaan terhadap kelompok seni tradisional sangat diperlukan dalam usaha melestarikan kesenian tradisional. “Harapan kita bahwa nanti kesenian tradisional akan masih dapat dinikmati oleh anak cucu kita nanti,” tandasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko menegaskan, Indonesia memiliki kebudayaan yang cukup banyak dan beragam.
Sayangnya, tidak semua generasi muda paham dan mengerti keberagaman budaya asli Indonesia, mereka malah megangumi bahkan memuja-muja budaya luar yang dia nilai tidak bernilai nasionalisme.