Niat Balas Budi ke Dedi Mulyadi Ingat Pernah Dibantu, Mak Eha Siapkan Hadiah, tapi Berakhir Kecewa
Berikut cerita nenek Soleha yang kecewa gagal bertemu Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Padahal sudah siapkan hadiah.
TRIBUNNEWS.COM - Niat hati balas budi kebaikan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, berujung rasa kecewa di hati nenek Soleha.
Perempuan berumur 50 tahun ini rela datang dari rumahnya ke Pendopo Garut, Selasa (1/7/2025) siang.
Mak Eh sapaan akrab Soleha, ingin bertemu dengan orang nomor satu di Jawa Barat itu.
Ia berangkat dari rumahnya di Kampung Cigadog, Desa Padamukti, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, tanpa tangan kosong.
Dirinya sudah menyiapkan hadiah berupa beras ketan seberat 12 kilogram.
Beras ketan sengaja dibawa untuk diberikan kepada Dedi Mulyadi.
Baca juga: Sempat Berseteru, Wagub dan Sekda Jabar Akur saat Ditugasi Bersama, Dedi Mulyadi: Mereka Bestie
Ingat pernah dibantu
Mak Eha mengungkapkan alasannya ingin bertemu dengan politikus Partai Gerindra tersebut.
Ia ingat dengan kebaikan Dedi Mulyadi beberapa waktu lalu.
Mak Eha diberi uang Rp10 juta untuk membiayai anaknya sekolah.
Berkat bantuan itu, sang anak berhasil menyelesaikan pendidikannya.
Uang tersebut juga digunakan Mak Eha sebagai modal usaha.
Sehari-hari, dirinya mencari rezeki dengan berjualan kacang.
"Inget dulu memberikan uang modal 10 juta ke anak sekolah, sekarang sudah beres sekolahnya, tinggal mau masuk kerja," jelasnya.
Perjuangan bertemu Dedi Mulyadi
Sejak Selasa pagi sekira pukul 09.00 WIB, Mak Eha sudah menunggu di Pendopo Garut.
Sementara Dedi Mulyadi memang pada hari itu menghadiri agenda peluncuran Kurikulum Nyaah ka Indung.
Usai acara, Gubernur Jawa Barat langsung meninggalkan lokasi.
Ia tidak sempat menyapa warga masyarakat yang sudah menunggu kehadirannya di area pendopo.
Mak Eha kemudian berusaha mencari Dedi Mulyadi, namun tak membuahkan hasil.
"Saya nyari-nyari di depan Pendopo, tapi Pak Gubernur jalannya ke belakang jadi tidak ketemu," ungkapnya.
Mak Eha melanjutkan ceritanya.
Baca juga: Buntut Perusakan Rumah di Sukabumi, Dedi Mulyadi Beri Bantuan Rp 100 Juta ke Pemilik Rumah
Ia kemudian memberikan beras ketannya kepada Sekda Garut, Nurdin Yana.
Mak Eha dalam kesempatannya tidak mengurungkan niatnya untuk bisa bertemu Dedi Mulyadi.
Ia berharap suatu saat nanti bisa kembali berjumpa.
Bahkan, Mak Eha telah menyiapkan hadiah beras ketan yang lebih banyak.
Mak Eha akan menanti momen Dedi Mulyadi kembali berkunjung ke Garut.
"Kapan mau ke sini lagi bapak, sama saya disiapkan 20 kilo, sudah ada di rumah ketannya mah," tandasnya.
Dedi Mulyadi sering bantu warga
Dedi Mulyadi memang sering terekam kamera membantu warga, khususnya di Jawa Barat.
Ia mengunggah video membantu warga di akun YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL.
Akun ini telah memiliki 7,95 juta subscriber dengan unggah lebih dari 4.000 video.
Bahkan, karena aktivitasnya ini dia diberi julukan Gubernur Konten oleh Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud saat rapat dengar pendapat DPR bersama Kementerian Dalam Negeri dan sejumlah kepala daerah di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (29/4/2025) lalu.
Dedi Mulyadi, mengaku lebih baik dipanggil gubernur konten, dibandingkan gubernur molor.
Karena menurutnya, uang hasil konten yang dia buat itu bisa diberikan kepada rakyat.
Adapun, julukan gubernur konten awalnya diucapkan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud, saat menyapa Dedi Mulyadi dalam rapat di DPR RI.
"Saya selalu ditanya, 'Pak Dedi, duitnya dari mana ngonten?' Habis itu dimasalahin lagi," kata Dedi dalam pidato saat upacara Hari Kebangkitan Nasional 2025 di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Selasa (20/5/2025), dikutip dari TribunJakarta.com.
Baca juga: Dedi Mulyadi Turun Tangan Atasi Retret Pelajar Dibubarkan Warga di Sukabumi: Jabar Harus Tenteram
"Gubernur konten lebih baik, dari jadi gubernur konten punya duit diberikan pada rakyat daripada gubernur molor."
"Benar enggak? Benar ya kan? Daripada gubernur tidur, gubernur protokoler, gubernur ingin dihargai, gubernur menghabiskan anggaran jalan-jalan ke luar negeri," sambungnya.
Dalam kesempatan ini, Dedi Mulyadi juga mengatakan, Indonesia memerlukan sosok yang bermental kuat jika ingin melakukan perbaikan agar lebih baik ke depannya.
Karena menurutnya, pasti akan ada kaum yang nyinyir terkait kebijakan yang ada nantinya.
Dedi Mulyadi kemudian mencontohkan pengalaman yang sudah dilaluinya hingga saat ini ketika memimpin Jawa Barat.
"Kenapa? Harus kuat menghadapi kaum nyinyir dan biarkan yang nyinyir suruh sakit hati selamanya karena Jawa Barat akan terus mengalami peningkatan pembangunannya."
"Ini baru 3 bulan, 100 hari itu tanggal 30 Mei. 100 hari kepemimpinan saya, belum 100 hari sudah banyak orang yang kepanasan apalagi 5 tahun," tegasnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJakarta.com dengan judul Dedi Mulyadi Senang Dibilang Gubernur Konten Dibanding Molor, Profesor Politik Bongkar Titik Lemah
(Tribunnews.com/Endra/Rifqah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Niat-Balas-Budi-ke-Dedi-Mulyadi-Ingat-Pernah-Dibantu-Mak-Eha-Siapkan-Hadiah-tapi-Berakhir-Kecewa.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.