Senin, 1 September 2025

Transformasi Sungai Kuantan Riau: Dari Tambang Ilegal ke Arena Pacu Jalur

Sungai Kuantan kembali jernih usai operasi PETI. Pacu Jalur hidup lagi, budaya Melayu dan ekosistem sungai mulai pulih.

Editor: Glery Lazuardi
Tribunnews.com/Taufik Ismail
PACU JALUR - Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka membuka Festival Pacu Jalur 2025 di Sungai Kuantan, Kuansing, Riau, Rabu (20/8/2025). Perahu tradisional mulai melaju di hadapan ribuan warga yang memadati tepian sungai, banyak di antaranya mengenakan pakaian adat Melayu. 

TRIBUNNEWS.COM - Transformasi Sungai Kuantan, Riau bukan sekadar perubahan warna air. 

Di balik kejernihan yang kini memantul di tepian Narosa, tersimpan jejak panjang tambang ilegal, operasi besar-besaran, dan harapan yang kembali mengalir. 

Aktivitas tambang emas ilegal atau PETI (Penambangan Tanpa Izin) di Sungai Batang Kuantan, Riau, telah lama menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan budaya masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing). 

Sungai yang menjadi urat nadi kehidupan dan simbol budaya Melayu ini sempat tercemar berat akibat praktik tambang liar yang menggunakan alat dompeng dan bahan kimia berbahaya.

Tambang ilegal di Sungai Kuantan mengakibatkan air sungai menjadi keruh, ikan-ikan hilang, dan bebatuan tertutup lumpur, Tradisi Pacu Jalur terganggu karena sungai tidak lagi layak digunakan.

Potensi pencemaran merkuri dan kerusakan lingkungan berdampak pada kehidupan sehari-hari.

Upaya penertiban PETI dilakukan. 234 unit dompeng dimusnahkan dari 52 titik lokasi PETI di sepanjang aliran Sungai Kuantan.

16 tersangka ditetapkan dari 7 laporan polisi yang diproses. Operasi ini digelar menjelang Festival Pacu Jalur 2025, sebagai bentuk komitmen menjaga sungai tetap steril dari tambang ilegal

Polda Riau mencatat sebanyak 234 unit dompeng telah dimusnahkan dari 52 titik lokasi PETI di sepanjang aliran Sungai Kuantan

Dari tujuh laporan polisi yang diproses, 16 orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Operasi ini juga difokuskan di Kuansing menjelang Festival Pacu Jalur, untuk memastikan sungai benar-benar steril dari tambang ilegal

Selain penindakan, Polda Riau juga menyiapkan langkah edukatif dengan memberikan pelatihan alternatif mata pencaharian, seperti pertanian dan peternakan, agar masyarakat tidak lagi bergantung pada aktivitas PETI.

Sungai Batang Kuantan di kawasan Tepian Narosa, Kabupaten Kuantan Singingi, kini kembali jernih setelah lama tercemar akibat aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI). 

Perubahan kondisi ini disambut antusias masyarakat yang setiap sore ramai memanfaatkan tepian sungai untuk berenang, bermain, hingga menikmati panorama matahari terbenam. 

Sungai kini memperlihatkan kejernihan air dan ikan-ikan kecil yang kembali muncul di antara bebatuan, menandakan ekosistem mulai pulih. Kawasan budaya Pacu Jalur yang selama dua dekade terakhir terganggu kini tampak hidup kembali.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, menyampaikan apresiasi besar kepada Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan dan jajaran atas keberhasilan operasi pemberantasan PETI. 

"Sangat luar biasa, patut kita apresiasi kerja Polda Riau ini. Air Sungai Kuantan kembali jernih dan menjadi tempat bermain warga setempat. Luar biasa Jenderal, sebuah capaian dengan dimensi luas, akan senantiasa dikenang baik. Insya Allah akan menjadi amal ibadah,” kata Datuk Taufik, Kamis (28/8/2025). 

Ia menilai keberhasilan itu bukan hanya soal penegakan hukum, melainkan juga menyelamatkan budaya dan identitas Melayu. 

"Air sungai adalah cermin kehidupan orang Melayu. Jika sungai rusak, budaya ikut rusak. Alhamdulillah, Sungai Kuantan kini kembali jernih,” tambahnya.

LAMR menegaskan apa yang dilakukan Polda Riau memiliki nilai ekologis sekaligus budaya. Sungai yang bersih akan menjaga keberlangsungan Pacu Jalur sebagai event budaya terbesar di Riau

"Ini bukan hanya menyelamatkan ekosistem, tetapi juga menyelamatkan marwah orang Melayu,” tegas Datuk Seri Taufik.

Nada serupa juga disampaikan Bupati Kuantan Singingi, Suhardiman Amby, yang menilai kerja keras Polda Riau telah memberikan hasil nyata bagi masyarakat Kuansing. 

Mewakili masyarakat Kuansing, Bupati mengucapkan terima kasih kepada Kapolda Riau dan seluruh jajaran yang sudah menginisiasi Operasi PETI yang dampaknya kini bisa dirasakan masyarakat dan kemudian viral menjadi konten positif bagi publik luas.

Menurutnya, Sungai Kuantan ini adalah urat nadi kehidupan dan marwah orang Kuansing. Kini airnya kembali jernih, masyarakat kembali bisa menikmati sungai, dan Pacu Jalur sebagai budaya besar kita bisa digelar dengan penuh makna. 

"Ini bukti nyata kerja keras kepolisian untuk lingkungan dan budaya. Kini Sungai Kuantan kembali menjadi kebanggaan masyarakat. Anak-anak berenang, ikan kembali hidup, wisatawan berdatangan, dan budaya Pacu Jalur kembali bermakna," ujar Suhardiman.

Operasi PETI Polda Riau pun terbukti bukan sekadar penegakan hukum, tetapi juga upaya melestarikan lingkungan dan menjaga warisan budaya.

Namun, pasca Festival Pacu Jalur, aktivitas PETI dilaporkan kembali muncul di beberapa titik seperti Desa Koto Lubuk Jambi dan Pulau Binjai. Hal ini memicu kekhawatiran publik soal konsistensi penegakan hukum dan perlindungan lingkungan.

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan