Inklusi di Ujung Jalan, Kisah Jaminan Asuransi Penyelamat Korban Kecelakaan
Kisah Rachmad Budi menjadi pelajaran berharga, di mana asuransi keselamatan bisa menjadi penyelamat sekaligus menyiapkan finansial ke depan
TRIBUNNEWS.COM, SOLO - Kala itu fajar malu-malu menampakkan sinarnya, gelap masih menyelinap di antara cahaya pertama yang seharusnya menjanjikan kedamaian.
Sabtu, 9 Agustus 2025, menjadi saksi bisu bagaimana niat suci Rachmad Budi (57) untuk sholat subuh di dekat rumahnya berubah menjadi awal sebuah perjalanan panjang menyaksikan tubuhnya sendiri remuk di aspal.
Di pertigaan Notosuman, Kota Solo, sepeda tuanya yang setia tiba-tiba menjadi bidak tak berdaya di hadangan motor yang melesat berkecepatan 100 km/jam.
Dunia berhenti berputar, digantikan oleh dentuman, hentakan, dan kemudian kesenyapan yang mencekam.
Di ruang gawat darurat RSUD Dr. Moewardi, tubuhnya yang terluka parah menjadi medan perang para dokter.
Tumit kanannya patah, ditopang dua sekrup baja.
Telapak kakinya remuk, disatukan kembali oleh tiga kawat dan satu sekrup yang menancap dengan harapan memikul patah tulang. Namun, luka yang tak terlihat justru lebih dalam.
Setelahnya ia hanya bisa terbaring tak berdaya, melupakan sejenak kesibukan sebagai seorang pekarya, seorang wirausaha sablon kaos.
Di tengah kepedihan yang menyiksa, secercah harapan datang yakni Jasa Raharja.
Melupakan operasi, Rachmad Budi bercerita bagaimana kelangsungan hidupnya tertolong berkat uluran bantuan dari Jasa Raharja saat itu.
Kepada Tribunnews, Rachmad mengungkap proses pengurusan santunan, yang dirintis oleh kepolisian dan dilanjutkan dengan penuh bakti oleh anaknya, mengalir lancar tanpa hambatan.
Dana Jasa Raharja sebesar Rp 21,5 juta, angka yang terdengar besar namun tak sebanding dengan penderitaan seumur hidup, langsung ditransfer ke rumah sakit.
Artinya menjadi penyangga utama biaya pengobatan yang mencekik yang menurutnya kala itu bisa mencapai hampir setengah dari ratusan juta rupiah.
Pengeluaran tak berhenti di situ, masih ada pengeluaran tak terduga pasca-operasi di HCU, perlengkapan medis yang tak disediakan rumah sakit, menggerogoti sedikit demi sedikit santunan cacat tetap Rp 2,5 juta yang diterimanya.
Harga yang harus dibayar untuk satu jari tangan kirinya yang terpaksa diamputasi.
Kini, 57 hari setelah kejadian, kondisi Rachmad masih memprihatinkan.
"Kondisi saya masih dalam perawatan dan belum boleh menapakkan kaki," ujarnya dengan suara lirih, ketika berbincang pada Rabu (22/10/2025).
Dua alat bantu menjadi pengganti kaki yang tak lagi bisa diandalkan, yakni kursi roda dan kruk kayu.
Setiap denting kruk yang menyentuh lantai bagai mengingatkannya pada dentuman di subuh nahas itu. Tangannya yang dulu lincah memegang rakel sablon, kini harus berpegangan erat pada pegangan kruk.
"Penabrak memang bertanggung jawab," katanya dengan nada datar.
"Tapi tanggung jawab itu tidak sebanding dengan akibat yang harus saya terima dan jalani ke depannya."
Di matanya yang lelah, tergambar kerinduan akan masa lalu, ketika ia masih bisa berdiri tegak di balik mesin sablon, menciptakan karya dengan tangannya sendiri, bukan terbaring tak berdaya menatap langit-langit rumah.
Pelita di kegelapan hadir menemaninya saat ini, yaitu sang putri. Dari rumah, Rachmad dibantu anaknya menjual merchandise alias buah tangan.
Mulai dari payung, tas, sandal hotel, hingga gelas ditawarkan. Semuanya bisa digambar dengan teknik sablon miliknya.
Usaha sablon ini terus diupayakan berlanjut, sebagai penghasil pundi-pundi untuk memenuhi kebutuhan harian.
"Alhamdulilah, dibantu anak pemasaran semakin luas lewat online. Pesanan juga beragam, disyukuri untuk melanjutkan hidup, demi keuangan stabil ke depan," ucapnya.
Ia menyadari, berkat bantuan Jasa Raharja pula, biaya operasi sama sekali tak dibebankan kepadanya. Tabungannya aman.
Dirinya berharap, orang yang senasib seperti Rachmad juga terbantu. Apalagi yang terkendala dengan masalah ekonomi.
"Saya berharap Jasa Raharja senantiasa menjaga dan meningkatkan pelayanannya, sehingga bisa membantu korban kecelakaan lainnya dengan lebih baik," ujarnya penuh keyakinan.
Kehadiran Jasa Raharja
Kepala Perwakilan Jasa Raharja Surakarta, Gunawan, menjelaskan, Jasa Raharja ikut berperan dalam memberikan santunan dan bantuan medis bagi korban kecelakaan lalu lintas. Hal ini secara langsung mencerminkan esensi inklusi keuangan di Indonesia.
"Jasa Raharja, sebagai pelaksana asuransi sosial wajib, menjadi pilar utama karena menyediakan perlindungan finansial dasar tanpa premi pribadi, hanya melalui SWDKLLJ dari pajak kendaraan dan IWKPU," tegas Gunawan ketika berbincang pada Selasa (21/10/2025).
Ia menambahkan, bantuan yang diberikan bukan sekadar bantuan reaktif pasca-kecelakaan, melainkan fondasi untuk perlindungan finansial masa depan yang mencegah jebakan kemiskinan jangka panjang.
Berdasarkan data yang disampaikan, pada Januari-September 2025, Jasa Raharja menyalurkan Rp2,4 triliun kepada 117.342 korban, menjangkau 80 persen dari segmen unbanked yang jarang mengakses asuransi swasta.
"Integrasi dengan BPJS Kesehatan, seperti kekurangan biaya agar tak ditanggung korban kecelakaan bisa ditopang BPJS, menciptakan ekosistem keuangan terintegrasi, mengurangi beban out-of-pocket hingga 70?gi keluarga miskin," papar Gunawan.
Peran Strategis
Sebagai bagian dari Indonesia Financial Group (IFG) Holding BUMN Keuangan, Jasa Raharja tidak hanya fokus pada KLL tapi memperluas peran ke inklusi holistik.
Pada Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2025, JR aktif berpartisipasi melalui sosialisasi di Bengkulu dan Lombok Barat, termasuk pemeriksaan kesehatan gratis dan relaksasi pajak kendaraan bermotor—program yang meringankan beban finansial korban potensial KLL.
Kegiatan ini, seperti yang digelar di Puncak BIK Provinsi Bengkulu pada Oktober 2025, menekankan edukasi tentang SWDKLLJ sebagai "asuransi rakyat" yang murah (Rp5.000-10.000 per kendaraan/tahun), sehingga masyarakat menengah ke bawah melihat asuransi sebagai kebutuhan, bukan kemewahan.
Lebih lanjut, melalui Jasaraharja Putera (anak perusahaan), Jasa Raharjamemperkuat sinergi industri asuransi di The Forum 2025, mendorong riset kebijakan untuk inklusi asuransi nasional.
Ini selaras dengan program SPRINT (Safety Prevention and Rehabilitation Initiative), di mana rehabilitasi vokasi bagi korban cacat membangun kesiapan finansial pensiun dan mental, sebagaimana disosialisasikan Jasa Raharja di acara pensiun karyawan.
Tingkat inklusi asuransi KLL mencapai 95 persen nasional pada 2025, berkontribusi pada target OJK: 90 persen masyarakat terlindungi layanan keuangan dasar.
Terkait dengan perlindungan finansial masa depan, santunan Jasa Raharjamencegah spiral kemiskinan seperti membebaskan keluarga dari utang medis, sementara program Simpatik (edukasi keselamatan) mengurangi KLL hingga 10 persen tahunan, menghemat biaya sosial Rp1,5 triliun per tahun.
Seperti kata Direktur Utama Jasa Raharja, Rivan A. Purba, di BIK 2025, pihaknya menjadikan asuransi sebagai kebutuhan hidup modern.
"Tujuannya agar tak ada yang tertinggal di balik roda kehidupan," paparnya.
Tiga Pilar Strategis IFG Life
PT IFG Life, sebagai bagian dari Indonesia Financial Group (IFG) Holding BUMN di sektor asuransi, memainkan peran sentral dalam mendorong inklusi keuangan nasional.
Inklusi keuangan di sini merujuk pada upaya memastikan akses layanan asuransi yang terjangkau, transparan, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya segmen menengah ke bawah, generasi muda, UMKM, dan komunitas pedesaan yang sering kali underserved.
Strategi IFG Life selaras dengan Strategi Nasional Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025-2029, yang menargetkan 90 persen masyarakat terlindungi layanan keuangan dasar.
Pada 2025, IFG Life menerapkan inklusi melalui tiga pilar utama: edukasi (literasi via event dan app), produk terjangkau (syariah dan LifeSAVER), serta sinergi (dengan Jasa Raharja/BPJS untuk cover komprehensif).
Pilar-pilar ini dirancang untuk tidak hanya melindungi dari risiko saat ini, tetapi juga membangun ketahanan finansial masa depan, seperti pencegahan kemiskinan pasca-kecelakaan atau pensiun sejahtera.
1. Pilar Edukasi: Literasi via Event dan App
IFG Life menjadikan edukasi sebagai fondasi inklusi dengan mengintegrasikan literasi asuransi ke dalam kegiatan interaktif dan platform digital, bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya proteksi finansial.
Strategi ini menargetkan indeks literasi asuransi nasional yang saat ini berada di sekitar 50-60% (data OJK 2025), dengan fokus pada generasi muda dan keluarga berpenghasilan rendah.
2. Pilar Produk Terjangkau: Syariah dan LifeSAVER
Untuk mengatasi hambatan akses akibat premi mahal, IFG Life mengembangkan produk asuransi dengan premi rendah dan prinsip inklusif, menargetkan 50 juta masyarakat unbanked.
Fokus pada varian syariah dan produk spesifik seperti LifeSAVER memastikan proteksi dasar bagi aktivitas sehari-hari.
Produk Syariah: Pada 24 September 2025, IFG Life merilis edukasi tentang perbedaan asuransi syariah vs. konvensional, menekankan prinsip tabarru' (gotong royong) yang membuatnya terjangkau bagi umat Muslim (sekitar 87% populasi Indonesia).
Produk syariah IFG Life berbasis ta’awun (bantuan mutual), di mana dana peserta dikelola secara transparan sesuai fatwa DSN-MUI, tanpa unsur riba atau gharar.
Premi mulai dari Rp50.000/bulan untuk cover jiwa dasar, dengan investasi hanya di instrumen halal.
Ini mendukung pertumbuhan ekonomi syariah Indonesia yang diproyeksikan mencapai Rp3.000 triliun pada 2025, sambil memberikan perlindungan dari risiko finansial seperti kematian atau cacat tanpa beban etis.
LifeSAVER: Diluncurkan sebagai produk unggulan pada 17 Oktober 2025, LifeSAVER adalah asuransi perjalanan dan olahraga dengan premi hanya Rp49.000/bulan—setara harga kopi harian.
Produk ini mencakup cedera fisik (Rp200.000–Rp50 juta untuk rawat inap/jalan), kematian/ cacat permanen (full policy), dan risiko outdoor seperti dehidrasi atau dislokasi pada aktivitas bersepeda, hiking, atau maraton.
Produk ini dirancang modular, memungkinkan penyesuaian cover sesuai anggaran, sehingga inklusif bagi pekerja informal atau mahasiswa.
3. Pilar Sinergi
IFG Life memperkuat inklusi melalui kolaborasi ekosistem, di mana asuransi jiwa dikombinasikan dengan program sosial negara untuk cover holistik.
Meskipun rilis 2025 lebih menekankan sinergi internal IFG, kerjasama dengan Jasa Raharja (JR) dan BPJS Kesehatan memastikan transisi mulus dari santunan KLL ke proteksi jangka panjang.
Sinergi dengan Jasa Raharja: Sebagai bagian IFG, IFG Life terintegrasi dengan JR untuk melengkapi santunan KLL (Rp50 juta kematian/cacat) dengan asuransi jiwa tambahan.
Sinergi dengan BPJS Kesehatan: IFG Life berkolaborasi via Mandiri InHealth (anak IFG) untuk cover tambahan pasca-BPJS, seperti biaya HCU melebihi Rp20 juta yang ditopang JR.
Pada event IFG One Fine Day, booth bersama BPJS edukasi integrasi klaim, memastikan zero out-of-pocket untuk keluarga miskin. Ini mencakup produk hybrid syariah yang link dengan Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Sinergi ini difasilitasi platform One by IFG, memungkinkan klaim lintas-institusi dalam 7 hari.
Klaim IFG Life
PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life) mencatatkan hasil gemilang sepanjang Januari–September 2025, dengan premi konsolidasi mencapai Rp3,74 triliun—meningkat 4,5% atau Rp165 miliar dari Rp3,58 triliun pada periode serupa tahun lalu.
Pertumbuhan ini melampaui rata-rata industri asuransi sebesar 3,6% (berdasarkan data AAJI Agustus 2025), mencerminkan kepercayaan masyarakat yang semakin kuat terhadap produk dan layanan perusahaan.
Prioritas utama IFG Life tetap pada pemenuhan hak nasabah, di mana sejak berdiri pada Oktober 2020 hingga September 2025, perusahaan telah membayarkan klaim lebih dari Rp22,5 triliun kepada lebih dari 450.000 peserta, menegaskan dedikasi dalam menjaga kepercayaan publik.
Meski mengalami kerugian setelah pajak sebesar Rp119 miliar pada periode tersebut, secara keseluruhan IFG Life tetap solid dengan laba komprehensif Rp465,4 miliar.
Ekuitas perusahaan mencapai Rp5,96 triliun, jauh melebihi batas minimum OJK yakni Rp500 miliar (2026) dan Rp1 triliun (2028).
Dukungan ini diperkuat Rasio Kecukupan Modal (RBC) sebesar 214,97%, berlipat ganda dari ambang batas minimum 120% OJK, yang menunjukkan fondasi keuangan yang kokoh.
Ke depan, IFG Life berkomitmen mempertahankan aset terbesar berupa kepercayaan nasabah melalui tata kelola yang prima, kehati-hatian bisnis, serta pembayaran klaim yang tepat dan andal.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ILUSTRASI-Kecelakaan-11.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.