Anak-anak Muda Bicara Lapangan Kerja, TPPD Jateng Ungkap Daya Saing
Peserta berharap program Kartu Zilenial tak sekadar kartu, tetapi efektif menekan pengangguran.
Ringkasan Berita:
- Program Kartu Zilenial gagasan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi diminati anak muda Batang, dengan penerima naik dari 11 ribu menjadi hampir 38 ribu.
- Peserta berharap program ini tak sekadar kartu, tetapi efektif menekan pengangguran.
- TPPD Jateng menilai tantangan utama generasi muda adalah kompetensi dan mentalitas kerja, bukan kekurangan lapangan kerja.
TRIBUNNEWS.COM - Minat generasi muda terhadap program pemberdayaan berbasis kartu di daerah kian menguat.
Di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, program Kartu Zilenial menjadi sorotan.
Kabupaten Batang merupakan salah satu daerah di pesisir utara Pulau Jawa (Pantura) yang berada di Provinsi Jawa Tengah, bagian dari koridor ekonomi utama nasional.
Letaknya strategis karena berada di jalur distribusi dan industri Pulau Jawa, serta berkembang sebagai kawasan industri yang menyerap tenaga kerja dari berbagai daerah.
Dalam konteks ini, dinamika generasi muda di Batang tidak dapat dilihat semata sebagai isu lokal, melainkan merepresentasikan tantangan ketenagakerjaan nasional, terutama terkait kesenjangan kompetensi (skill gap), kesiapan kerja lulusan SMA/SMK, dan daya saing tenaga kerja muda di tengah percepatan industrialisasi.
Adapun Kartu Zilenial merupakan program kepemudaan yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebagai instrumen fasilitasi pelatihan, sertifikasi, dan pengembangan minat-bakat bagi generasi Z dan milenial.
Secara konseptual, skema semacam ini sejalan dengan agenda nasional penguatan sumber daya manusia dalam menghadapi bonus demografi, yakni mendorong agar penduduk usia produktif memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri dan kewirausahaan.
Dengan demikian, pembahasan program tersebut di Batang dapat diposisikan sebagai bagian dari upaya daerah dalam menjawab tantangan pembangunan SDM Indonesia secara lebih luas.
Namun, dinamika di Batang sesungguhnya merefleksikan persoalan yang lebih luas: bagaimana pemerintah daerah merespons bonus demografi nasional di tengah tantangan pengangguran muda dan kesenjangan kompetensi tenaga kerja.
Almira Anita, siswi SMA Negeri 1 Subah, mengaku telah mendaftar Kartu Zilenial bersama teman-temannya. Namun, ia menyoroti kendala administratif bagi pelajar yang memiliki kartu keluarga (KK) di luar Jawa Tengah.
“Kami sudah mendaftar. Tapi ada yang KK luar Jateng gak bisa, gimana solusinya?” tanyanya kepada Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jateng, Zulkifli Gayo, dalam forum “Ngobrol Bareng Hukum dan Ekonomi di Mata Anak Muda” di Aula Bupati Batang, Jumat (14/2/2026).
Pertanyaan tersebut menunjukkan isu klasik dalam kebijakan berbasis domisili: mobilitas penduduk yang tinggi tidak selalu selaras dengan skema administrasi daerah.
Dalam konteks nasional, problem serupa juga kerap muncul pada program bantuan sosial, beasiswa, hingga pelatihan vokasi yang mensyaratkan identitas kependudukan lokal.
Peserta lain, Khoirunnisa, menekankan agar program tidak berhenti pada simbol kartu dan pelatihan formalitas.
Seperti yang ada pada Kartu Zilenial yang digagas Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Zulkifli-Gayo-saat-Ngobrol-Bareng.jpg)