Rabu, 29 April 2026

Usai NTT, Kasus Bocah SD Akhiri Hidup Terjadi di Demak Jateng

Kasus anak SD mengakhiri hidup kembali terjadi. Setelah di NTT, kasus serupa terjadi di Demak, Jawa Tengah.

Tayang:
Kolase Tribun Jabar
ILUSTRASI - Kasus anak SD mengakhiri hidup kembali terjadi. Setelah di NTT, kasus serupa terjadi di Demak, Jawa Tengah, Kamis (12/1/2026). 

Sebelumnya, siswa SD berinisial YBR (10 tahun) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengakhiri hidup dengan gantung diri.

YBR mengakhiri hidup diduga karena tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolah, yakni buku dan pulpen yang tersirat dalam secarik kertas tulisan tangan yang ditemukan polisi.

YBR ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya di kebun dekat pondok bambu yang menjadi tempat tinggalnya bersama sang nenek di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, Kamis, 29 Januari 2026.

Polres Ngada mengungkap ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi YBR mengakhiri hidup.

Polisi menyebut ada akumulasi berbagai tekanan yang dialami korban.

Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino, menyampaikan salah satu faktor yang teridentifikasi adalah keterbatasan ekonomi keluarga, termasuk ketidakmampuan korban membeli buku dan alat tulis sekolah.

“Jadi, ada banyak faktor yang menyebabkan anak ini mengakhiri hidupnya,” kata Andrey, Kamis (5/2/2026), dilansir POS-KUPANG.com.

“Banyak faktor penyebabnya. Salah satunya terkait alat tulis,” lanjutnya.

Andrey menuturkan, pada malam sebelum kejadian, orang tua korban sempat menasihati YBR agar tidak bermain hujan-hujanan.

Menurutnya, nasihat tersebut disampaikan agar korban tidak jatuh sakit dan kembali meminta izin tidak masuk sekolah.

“Namun, mungkin cara penerimaan anak berbeda. Bisa saja anak merasa tersinggung atau tertekan."

"Jadi ceritanya bukan semata-mata karena alat tulis, tetapi juga karena sering dinasihati oleh ibunya,” ungkap Andrey.

Sementara itu, berdasarkan hasil penyelidikan, polisi memastikan tidak ditemukan unsur kekerasan dalam kasus siswa SD di NTT yang mengakhiri hidup ini.

Hal itu diperkuat dengan hasil visum yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban.

Penyelidikan polisi juga tidak menemukan indikasi perundungan di lingkungan sekolah yang dapat memicu kondisi psikologis korban.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved