Minggu, 19 April 2026

Kisah Cinta Badi dan Norida: Dari Malaysia, Sumatera hingga Berujung Polemik di Lombok

Perjalanan cinta Badi dan Norida bermula di Malaysia pada awal 2000-an, saat keduanya sama-sama merantau

Editor: Eko Sutriyanto
Tribun Lombok
VIRAL PENELANTARAN - Kolase foto Badi (kiri) dan Norida Akmal (kanan) yang kisah rumah tangganya selama 18 tahun kini menjadi perbincangan publik usai munculnya tudingan penelantaran di media sosial.  
Ringkasan Berita:
  • Kisah rumah tangga Badi dan Norida Akmal Ayob selama 18 tahun kembali disorot setelah tudingan penelantaran viral di media sosial, yang kemudian dibantah oleh Badi. 
  • Perjalanan mereka melintasi Malaysia, Sumatera, hingga Lombok diwarnai perantauan, pengurusan status hukum, serta dinamika keluarga lintas negara. 
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menegaskan pentingnya melihat kasus ini secara utuh dan berimbang agar tidak dibentuk oleh informasi sepihak.
 

TRIBUNNEWS.COM, LOMBOK – Kisah rumah tangga Badi dan Norida Akmal Ayob yang telah berlangsung selama 18 tahun mendadak menjadi sorotan publik setelah muncul tudingan penelantaran terhadap Norida di media sosial. 

Badi, warga Lombok Tengah, akhirnya buka suara untuk meluruskan perjalanan hidupnya bersama mantan istri yang merupakan warga negara Malaysia tersebut.

  1. Awal Pertemuan di Malaysia

Perjalanan cinta Badi dan Norida bermula di Malaysia pada awal 2000-an, saat keduanya sama-sama merantau.

Hubungan tersebut berlanjut ke jenjang pernikahan dan mereka menetap di Negeri Jiran selama sekitar dua tahun.

Anak pertama mereka, seorang perempuan, lahir di Malaysia, sementara anak kedua, laki-laki, lahir kemudian di Indonesia.

“Anak yang perempuan lahir di Malaysia, yang laki-laki lahir di Lombok,” ujar Badi saat ditemui di Lombok Tengah, Selasa (17/2/2026).

Baca juga: Kisah Wanita Malaysia di Titik Nadir, Dikhianati Suami dan Hidup Sengsara di Lombok

2. Satu Dekade Merantau di Sumatera

Usai kembali ke Indonesia, keluarga ini tidak langsung menetap di Lombok.

Mereka memilih merantau ke Sumatera Selatan dan hidup di sana selama kurang lebih 10 tahun.

Menurut Badi, selama periode tersebut kehidupan rumah tangga mereka berjalan normal tanpa konflik berarti.

“Enggak ada masalah selama kami hidup bersama. Yang beredar di media sekarang itu tidak sesuai kenyataan,” kata Badi.

3. Menetap di Lombok dan Status Kewarganegaraan

Pada 2012, keluarga ini akhirnya menetap di Lombok, tanah kelahiran Badi.

Selama tinggal di sana, Badi bekerja sebagai sopir dan mengurus dokumen resmi agar Norida memiliki status hukum yang jelas mulai dari paspor hingga KTP, sehingga berstatus Warga Negara Indonesia (WNI).

Ia juga membantah isu yang menyebut Norida bekerja sebagai tukang sapu.

Menurutnya, selama berumah tangga, Norida berperan sebagai ibu rumah tangga dan fokus mengurus anak-anak.

“Enggak pernah sama sekali dia jadi tukang sapu. Saya justru melarang dia bekerja,” tegasnya.

4. Perceraian dan Tuduhan Penelantaran

Setelah sekitar 17 tahun menikah, Badi dan Norida resmi bercerai pada 2023.

Pascaperceraian, Norida tinggal bersama kerabat, sementara anak laki-laki mereka tinggal bersama Badi.

Tuduhan penelantaran mencuat setelah Norida dipulangkan ke Malaysia dan kisahnya viral di media sosial.

Badi membantah keras tuduhan tersebut.

Ia mengaku tetap memberikan nafkah meski sudah bercerai selama sekitar satu tahun delapan bulan.

“Selama dia masih di sini, tetap saya nafkahi. Uang saya titipkan lewat anak saya,” ujarnya.

Baca juga: Anak Bunuh Ibu di Lombok: Pelaku Kalap Tak Diberi Uang Rp39 Juta Bayar Utang

5. Klarifikasi Pemerintah Provinsi NTB

Polemik ini turut mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Melalui juru bicara Ahsanul Khalik, Pemprov NTB menegaskan bahwa narasi penelantaran selama 18 tahun tidak sepenuhnya sesuai fakta lapangan.

Berdasarkan penelusuran Disnakertrans NTB dan aparat desa di Dusun Benjelo, Desa Ubung, Norida diketahui hidup bersama keluarga suami, sempat bekerja setelah perceraian, serta menerima bantuan sosial.

Ia juga disebut menerima uang Rp20 juta dari Badi untuk membantu proses kepulangan ke Malaysia.

“Tidak tepat jika disebut ada penelantaran selama 18 tahun,” tegas Ahsanul Khalik.

6. Kesaksian Tetangga

Salah seorang tetangga, Wahyuni, mengungkapkan bahwa Norida dikenal sebagai pribadi tertutup dan jarang bersosialisasi.

Ia mengaku hanya mengetahui Norida sempat bekerja di Lesehan Bale Bambu di Desa Bonjeruk setelah bercerai.

“Kalau soal tukang sapu, saya tidak tahu. Setahu saya dia kerja di lesehan setelah cerai,” ujarnya.

Kisah Badi dan Norida menunjukkan perjalanan panjang keluarga lintas negara yang berpindah antara Malaysia, Sumatera, dan Lombok.

Pemerintah daerah menegaskan pentingnya melihat kasus ini secara utuh dan berimbang agar opini publik tidak terbentuk dari informasi sepihak semata.

Jadi Korban Kekerasan Rumah Tangga

Kasus Norida Akmal Ayob berkaitan dengan seorang warga negara Malaysia yang baru saja dipulangkan ke negaranya setelah menetap selama 18 tahun di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dalam kondisi memprihatinkan. 

Norida (45) mengikuti suaminya yang merupakan WNI ke Lombok pada tahun 2007. 

Namun, setelah bercerai, ia hidup dalam kemiskinan dan mengaku sempat mengalami kekerasan rumah tangga.

Ia akhirnya berhasil dipulangkan ke kampung halamannya di Lenggong, Perak, Malaysia pada 14 Februari 2026 bersama anak perempuannya yang berusia 20 tahun.

Proses ini difasilitasi oleh otoritas Malaysia melalui Wisma Putra dan pemerintah Indonesia.

Norida telah tiba di Malaysia dengan selamat, namun satu anak laki-lakinya yang berusia 18 tahun masih berada di Lombok karena kendala biaya.

Pihak berwenang saat ini sedang mengusahakan proses agar anaknya tersebut bisa segera menyusul ke Malaysia

 

 

Sumber: Tribun Lombok
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved