PSN Wanam Papua Selatan Diproyeksikan Jadi Penguat Ketahanan Pangan dan Motor Pertumbuhan Ekonomi
Pengembangan kawasan lumbung pangan di Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru.
Ringkasan Berita:
- PSN Wanam Papua Selatan diproyeksikan memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi baru.
- Pemerintah fokus mengembangkan sawah di wilayah berair demi mendukung produksi pangan berkelanjutan.
- DPR menilai cetak sawah baru penting mengantisipasi lonjakan kebutuhan pangan nasional jangka panjang.
TRIBUNNEWS.COM - Pengembangan kawasan lumbung pangan di Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, yang menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menegaskan pembangunan kawasan pangan terpadu di Papua Selatan merupakan bagian dari upaya pemerintah membangun fondasi ekonomi kuat berbasis sektor riil.
"Pembangunan sektor pangan bukan hanya soal menghasilkan beras, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” ungkap Sudaryono dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Jakarta, dikutip dari YouTube Otoritas Jasa Keuangan, Minggu (7/6/2026).
Sudaryono mengungkapkan program cetak sawah telah dilaksanakan di sejumlah daerah di Indonesia, seperti di Papua Selatan, Lampung, hingga Kalimantan Tengah.
"Ini adalah contoh cetak sawah di Wanam, Papua Selatan. Jadi memang daerahnya daerah berawa, kalau pun ada pohon, pohonnya itu kecil-kecil. Jadi memang menanam padi itu yang susah bukan bibitnya. Bukan pupuknya, bukan pestisidanya, nanam padi apa pun yang susah itu bukan hanya lahannya, tapi lahan yang ada airnya," jelasnya.
"Bisnis bisa kita ciptakan, pupuk bisa kita ciptakan, air tidak bisa kita ciptakan, hanya bisa kita kelola. Kita memang memfokuskan daerah yang banyak airnya, seperti di Papua Selatan," imbuh Sudaryono.
Sudaryono juga mengungkapkan, daerah yang menjadi lokasi cetak sawah telah diberikan insentif, diberikan pelatihan dalam mengelola lahan, hingga penyediaan alat mesin pertanian dan pengelolaan air serta pupuk.
"Hasilnya mensejahterakan rakyat setempat. Sehingga memang cetak sawah adalah satu kegiatan konstruksi yang berbeda dengan yang lain seperti bangun jembatan, bangun jalan. Kalau ini butuh kadang setahun, dua tahun, tiga tahun, sampai lahannya optimal sebagai lahan pertanian," jelasnya.
Ia juga mengungkapkan cetak sawah tetap diperlukan meski negara sudah berhasil swasembada beras.
"Karena penduduk kita nambah terus, maka mau tidak mau, suka tidak suka, memang ini untuk cadangan kita persiapan pangan kita 50 sampai 100 tahun yang akan datang. Mau tidak mau, suka tidak suka, memang harus kita laksanakan," tekannya.
Baca juga: Satgas Damai Cartenz Tangkap YK, Perantara Pemasok Senpi & Amunisi ke KKB di Papua Pegunungan
Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Panggah Susanto menilai PSN pengembangan kawasan lumbung pangan berupa cetak sawah baru seluas satu juta hektare di Wanam, Papua Selatan, memiliki peran krusial bagi ketahanan pangan nasional jangka panjang.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah munculnya berbagai tanggapan dan dinamika di ruang publik, termasuk kritik terhadap program ketahanan pangan nasional.
"Cetak sawah baru ini penting untuk ketahanan pangan jangka panjang, untuk antisipasi kebutuhan pangan yang meningkat, dan menghindari ketergantungan pangan dari negara lain," ujar Panggah, Jumat (22/5/2026).
Panggah menambahkan bahwa untuk jangka pendek dan menengah, pemerintah juga perlu melakukan langkah simultan dengan mengoptimalkan lahan pertanian yang sudah ada demi mencapai kedaulatan pangan nasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/sawah-papua-selatan-9.jpg)