9 Hari Tak Kembali Usai Pamit Tagih Utang Rp 2 Juta, Jasad Umar Terbungkus Karung, Ini Sosoknya
Sebelumnya ditemukan tewas terbungkus karung, Umar Gayam sempat pamit kepada keluarga untuk menagih utang Rp 2 juta.
Ringkasan Berita:
- Umar Gayam ditemukan tewas terbungkus karung di Jalan Kontainer, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Senin (16/2/2026).
- Korban sebelumnya sempat pamit kepada keluarga, Sabtu (7/2/2026) untuk menagih utang Rp 2 juta kepada temannya di sebuah rumah kos.
- Sejak itu dia tak pernah kembali.
- Jasadnya baru ditemukan sekitar 10 hari kemudian.
TRIBUNNEWS.COM, AIMAS - Umar Gayam, warga Panti Asuhan Jalan Lobak, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya ditemukan tewas terbungkus karung di Jalan Kontainer, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Senin (16/2/2026).
Umar Gayam sebelumnya sempat pamit kepada keluarga, Sabtu (7/2/2026) sekitar pukul 23.00 WIT untuk menagih utang Rp 2 juta kepada temannya di sebuah rumah kos.
"Dia keluar jam 11 malam. Katanya mau ambil uang yang dipinjam orang. Janji ketemu jam 12 malam, tapi setelah itu dia tidak pernah pulang," ujar Maulud Yapono, paman korban, Rabu (18/2/2026).
Baca juga: Tampang Rokib, Pelaku Pembunuhan Lansia di Brebes, Marah Karena Ditampar Saat Utangnya Ditagih
Sejak saat itu korban tak pernah kembali ke rumah.
Keluarga berupaya mencari secara mandiri selama beberapa hari.
Tujuh hari setelahnya, mereka mendapat informasi bahwa keluarga terduga pelaku juga melaporkan kehilangan pada hari dan waktu yang sama.
Keluarga korban mendatangi Polres Sorong untuk mencari kejelasan.
Dalam proses penyelidikan, polisi sempat memeriksa seorang perempuan yang diduga mengetahui keberadaan korban.
Namun keterangannya dinilai berbelit-belit sehingga penyidik turun ke lokasi yang dicurigai sebagai tempat kejadian perkara (TKP).
Baca juga: Balita di Cilacap Dibunuh Tetangga, Menteri PPPA: Kerabat Berpotensi jadi Pelaku Kekerasan
Beberapa hari kemudian, keluarga menerima informasi tentang penemuan karung mencurigakan di wilayah Katapop.
Namun setelah dicek, karung tersebut bukan berisi jasad korban.
Pencarian dilanjutkan bersama aparat kepolisian.
Atas arahan anggota intelijen, pencarian difokuskan di Jalan Kontainer, Distrik Aimas.
Jasad korban akhirnya ditemukan di belakang kawasan tersebut.
"Kami mencari bersama polisi. Jasad ditemukan di belakang Jalan Kontainer dan polisi yang pertama melihat," kata Maulud.
Korban tercatat hilang selama 10 hari sebelum akhirnya ditemukan.
Jasad kemudian dievakuasi untuk keperluan visum.
Pihak keluarga menolak autopsi karena kondisi tubuh korban sudah rusak.
Keluarga sempat membawa jenazah ke Polres Sorong untuk menuntut keadilan sebelum akhirnya dimakamkan.
Maulud menduga korban tewas akibat penganiayaan.
Saat ditemukan, tangan dan kaki korban terikat serta terdapat luka berat di bagian kepala dan rahang.
"Korban diikat tangan dan kaki, lalu dipukul di bagian kepala dan rahang hingga hancur, kemudian dimasukkan ke dalam karung," ujarnya.
Keluarga Bawa Jenazah ke Polres Sorong
Kasus ini sempat memicu aksi keluarga yang mendatangi Polres Sorong untuk menuntut agar pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku.
Pihak keluarga menuntut polisi untuk mengungkap kasus ini dan menghukum pelaku dengan hukuman berat.
Mereka membawa jenazah ke kantor Polres Sorong di Aimas, Selasa malam.
Keranda yang berisi jasad korban diletakkan tepat di depan pintu masuk ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Sorong.
Keluarga korban juga membakar ban bekas di jalan depan polres sebagai bentuk protes dan desakan agar aparat segera menangkap pelaku.
Mereka menuntut agar pelaku dihukum seberat-beratnya, hingga hukuman mati.
Aksi menuntut keadilan di Polres Sorong tersebut berlangsung Rabu (18/2/2026) dini hari hingga 01.00 WIT.
Maulud meminta kepolisian memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku.
"Kami minta pelaku dihukum mati karena pembunuhan ini sudah keterlaluan dan terencana," tegasnya.
Setelah aksi, rombongan keluarga membawa pulang jasad korban lalu bersepakat memakamkan jenazah pada malam itu juga.
Sosok Korban
Korban Umar Gayam merupakan anak yatim dengan keterbatasan mental.
Ayahnya telah meninggal dunia. Sejak itu ia diasuh oleh pamannya Maulud Yapono.
"Dia sudah saya anggap seperti anak sendiri. Saya bawa dari kampung, saya jaga, saya sekolahkan sampai dia kerja," ujar Maulud dengan suara bergetar kepada wartawan, Rabu (18/2/2026).
Korban dikenal sebagai pekerja keras dan menjadi tulang punggung keluarga, meski memiliki keterbatasan komunikasi.
"Dia membantu biaya sekolah adiknya. Sekarang kalau dia sudah tidak ada, siapa yang tanggung keluarga?" ucap Maulud.
Menurut Maulud, korban memiliki keterbatasan mental atau berkebutuhan khusus.
Inilah yang membuatnya sulit berkomunikasi dengan lancar.
Untuk berbicara dengan jelas, Cecep harus melakukan gerakan tertentu dan hanya orang-orang terdekat yang memahami caranya berkomunikasi.
"Kalau dia mau bicara, dia harus buka muka dan gerakkan tangan dulu baru bisa cerita. Orang yang tidak mengerti dia pasti sulit paham," tuturnya.
Meski memiliki keterbatasan, Cecep dikenal sebagai pekerja keras.
Ia bekerja sebagai buruh bangunan dan sempat membantu pekerjaan di salah satu rumah sakit di wilayah Mariat.
Penghasilannya digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan adiknya.
"Dia bukan orang kaya. Dia kerja bangunan, tapi dia tulang punggung keluarga. Sekarang kalau dia sudah tidak ada, siapa yang mau tanggung keluarga," kata Maulud.
Maulud menilai kondisi korban yang memiliki keterbatasan membuatnya sulit melawan saat terjadi kekerasan.
Ia juga menyesalkan dua terduga pelaku yang disebut masih berstatus pelajar di salah satu sekolah menengah atas di Kabupaten Sorong.
Namun, menurutnya, usia muda tidak dapat dijadikan alasan untuk menghindari hukuman berat.
"Secara mental sudah tega menghabisi nyawa orang dengan cara sadis. Jangan bersembunyi di bawah payung perlindungan anak. Hukum harus berjalan lurus," tegasnya.
Maulud menyatakan keluarga tidak membuka ruang kompromi dalam kasus tersebut.
"Kami akan terus kawal kasus ini sampai ke meja hijau. Tidak ada tawar-menawar. Pidana tetap pidana. Ini tentang nyawa, bukan binatang yang dibiarkan begitu saja," ujarnya.
Ia kembali menegaskan tuntutan keluarga agar pelaku dijatuhi hukuman seberat-beratnya.
"Kami minta hukuman mati," ucapnya.
Di tengah duka mendalam, keluarga juga harus menjalani bulan suci Ramadan tanpa kehadiran Cecep.
“Saya akan bersedih bila suara tahmid dan takbir berkumandang, dan saya harus mengucapkan doa serta Al-Fatihah untuknya,” ujar Maulud sambil meneteskan air mata.
Kronologi Penemuan Mayat
Warga Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya menemukan jasad terbungkus karung putih di Jalan Kontainer, Selasa (17/2/2026) sekitar pukul 17.00 WIT.
Informasi yang dihimpun TribunSorong.com, jenazah berjenis kelamin laki-laki itu dalam kondisi termutilasi.
Bagian tubuhnya terlebih dahulu dimasukkan ke tas belanja, selanjutnya dimasukkan ke dalam karung.
Dari berbagai kabar yang beredar masif di media sosial, motif pembunuhan dilatarbelakangi utang piutang.
Namun pihak berwenang masih menyelidiki kepastiannya.
Penulis: (Tribunsorong.com/Taufik Nuhuyanan) (Tribunnews.com)
Artikel ini telah tayang di Tribunsorong.com dengan judul Update Kronologi Penemuan Jasad dalam Karung di Sorong: Pamit Jam 11 Malam, Hilang 10 Hari
Artikel ini telah tayang di Tribunsorong.com dengan judul Sosok Korban Pembunuhan di Sorong yang Jasadnya Termutilasi di Karung: Berjuang Demi Sekolah Adik
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kolase-Penemuan-Jasad-di-Sorong-Papua_1.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.