Siaga Mudik, Relawan Ambulans Solo Dalami Protokol Penanganan Trauma XABCDE
protokol ini dimulai dari penanganan pendarahan hebat atau exsanguination (X), dilanjutkan dengan pengamanan jalan napas atau Airway
Ringkasan Berita:
- RS Mangesti Rahayu menggelar pelatihan Kegawatdaruratan dan BHD bagi pengemudi serta relawan ambulans se-Surakarta guna meningkatkan respon medis di jalur mudik.
- Di kesempatan tersebut dr. Agung Widhinugroho, Sp.B menjelaskan terkait protokol XABCDE untuk penanganan trauma guna mencegah fatalitas pada fase golden period
- Di pelatihan tersebut petugas diinstruksikan menjaga suhu tubuh pasien tetap hangat karena suhu dingin dapat menghambat pembekuan darah dan memperburuk pendarahan
TRIBUNNEWS.COM - Menjelang lonjakan arus mudik tahun 2026, kesiapan tenaga medis garis depan dalam menangani kecelakaan di jalur lintas Jawa tengah menjadi perhatian serius.
Sebagai langkah antisipasi, Rumah Sakit Mangesti Rahayu (RSMR) turut menyelenggarakan pelatihan Kegawatdaruratan dan Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang diikuti oleh pengemudi dan relawan ambulans Puskesmas se-Surakarta pada Sabtu, 14 Februari 2026.
Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan standar pelayanan medis pra-rumah sakit untuk memastikan respon yang cepat dan tepat bagi korban kecelakaan.
Dalam sesi penanganan trauma, narasumber ahli bedah dr. Agung Widhinugroho, Sp.B, menekankan bahwa peran petugas ambulans bukan sekadar mengantar pasien, melainkan menjadi penentu keselamatan nyawa di periode emas atau golden period pasca-kejadian.
Di kesempatan tersebut, Dr. Agung pun memaparkan informasi terkait protokol XABCDE yang merupakan pembaruan dari protokol ABCDE.
Protokol XABCDE sendiri merupakan panduan urutan fatalitas yang harus dipahami petugas lapangan.
Protokol ini dimulai dari penanganan pendarahan hebat atau exsanguination (X), dilanjutkan dengan pengamanan jalan napas atau airway (A), evaluasi pernapasan atau breathing (B), kestabilan aliran darah atau circulation (C), pemeriksaan tingkat kesadaran atau disability (D), hingga pemeriksaan seluruh tubuh atau exposure (E).
Menurutnya, urutan ini sangat krusial karena setiap detik keterlambatan dalam menangani sumbatan jalan napas atau pendarahan masif dapat berakibat fatal.
Baca juga: Jelang Mudik Lebaran, Relawan Ambulans Solo Perkuat Ilmu Siaga Kebidanan
"Bapak-bapak sekalian mungkin sudah sangat sering menangani kasus trauma di jalanan. Prinsip utamanya adalah do no further harm, yaitu jangan sampai tindakan kita di lokasi kejadian justru mengakibatkan perburukan kondisi yang lebih parah bagi pasien," ujar dr. Agung di hadapan para peserta.
Lebih lanjut, dr. Agung menyoroti detail teknis yang sering terabaikan, seperti menjaga suhu tubuh pasien agar tidak mengalami hipotermia.
Ia menjelaskan bahwa suhu dingin pada pasien trauma dapat menghambat proses pembekuan darah secara alami, sehingga pendarahan sulit berhenti.
Oleh karena itu, ia menginstruksikan petugas untuk segera mengganti pakaian pasien yang basah atau memberikan selimut selama proses transportasi di dalam ambulans.
Selain aspek teknis medis, koordinasi antara petugas ambulans dan rumah sakit rujukan menjadi poin penting dalam pelatihan ini.
Dr. Agung meminta para relawan untuk selalu mendata mekanisme cedera secara detail, seperti apakah korban terjatuh, tertabrak, atau terlindas, serta mencatat riwayat kesadaran pasien.
Informasi ini sangat diperlukan oleh tim medis di rumah sakit untuk menentukan langkah operatif yang tepat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/PELATIHAN-BHD-AMBULANS-di-RS-Mangesti-Rahayu-1q.jpg)