Jumat, 5 Juni 2026

Isu Kenaikan Harga BBM, Antrean Mengular di SPBU Sejumlah Daerah Sejak Pagi Hari

Isu kenaikan harga BBM picu panic buying, antrean panjang kendaraan di SPBU daerah sejak pagi.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
  • Isu kenaikan harga BBM memicu antrean panjang kendaraan di SPBU daerah sejak pagi.

TRIBUNNEWS.COM - Isu kenaikan harga BBM memicu antrean di sejumlah SPBU di berbagai daerah Indonesia pada Selasa (31/3/2026).

Sejak pagi, antrean kendaraan mengular di SPBU, mencerminkan kepanikan warga menghadapi kabar yang belum pasti namun sudah menimbulkan dampak nyata di lapangan.

Baca juga: Kenaikan BBM Non Subsidi: Kebijakan Pahit Demi Menyelematkan Jantung APBN

Antrean BBM di SPBU Sulsel 

Isu kenaikan harga BBM membuat warga Sulawesi Selatan berbondong-bondong ke SPBU Paopao, Jalan Tun Abdul Razak, Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa pagi.

Antrean panjang kendaraan terlihat bahkan sebelum pompa resmi beroperasi, mencerminkan keresahan publik atas kabar yang belum pasti namun sudah menimbulkan dampak nyata.

Sejak pukul 06.00 Wita, jumlah mobil yang mengantre tercatat tidak pernah kurang dari 17 unit dalam waktu pengamatan sekitar 40 menit.

SPBU yang berlokasi sekitar 200 meter dari kawasan perumahan Citraland Celebes itu tampak dipadati kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Antrean motor bahkan mencapai lebih dari 20 unit di masing-masing dua lajur menuju nozzle pengisian.

Menariknya, hanya tersedia tiga nozzle untuk melayani pengisian Pertalite, yakni dua untuk sepeda motor dan satu untuk mobil. Sementara itu, nozzle untuk Pertamax dan solar terlihat sepi tanpa antrean.

Kepadatan antrean juga meluas hingga ke badan jalan poros penghubung Makassar–Gowa, bahkan sempat menutup akses masuk ke sejumlah ruko di sekitar lokasi, termasuk showroom kendaraan.

Salah satu petugas SPBU mengungkapkan bahwa antrean sudah terlihat sejak sebelum operasional dimulai. “Belum buka tadi, sudah banyak motor dan mobil menunggu,” ujarnya singkat.

Seorang pengendara motor, Naura, mengaku tetap rela mengantre demi mendapatkan Pertalite. Ia menyebut kondisi serupa terjadi di hampir semua SPBU, khususnya setelah Idulfitri.

Di sisi lain, Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi memastikan bahwa ketersediaan BBM di wilayah Makassar dan sekitarnya dalam kondisi aman.

Area Manager Communication, Relations & CSR, Lilik Hardiyanto, menjelaskan bahwa antrean terjadi akibat lonjakan kebutuhan BBM selama arus balik Lebaran.

“Peningkatan volume kendaraan dari arus balik berdampak langsung pada lonjakan kebutuhan BBM di SPBU, terutama di titik dengan trafik tinggi,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Sales Branch Manager Sulsel II Fuel, Muhammad Ridho Hasbullah. Ia menegaskan bahwa penyaluran BBM berjalan normal dan stok tetap mencukupi.

Menurutnya, antrean panjang lebih disebabkan oleh meningkatnya permintaan masyarakat, bukan karena kelangkaan pasokan.

Pertamina juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan agar distribusi tetap merata. Selain itu, koordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat kepolisian terus dilakukan untuk mengatur antrean agar tidak mengganggu arus lalu lintas.

Dengan pengawasan intensif dan optimalisasi distribusi, Pertamina berharap pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan lancar di tengah tingginya mobilitas pasca-Lebaran.

Baca juga: Isu Harga BBM Naik, Pertamina: Belum Ada Pengumuman Resmi Harga per 1 April 2026

Isu BBM Naik Picu Panic Buying di Padang

Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU Kota Padang, Sumatera Barat, terjadi akibat isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang beredar di media sosial. Kondisi ini memicu panic buying di tengah masyarakat sejak beberapa hari terakhir.

Pengawas SPBU 14251519 Sawahan, Padang Timur, Dasvid Rian, mengungkapkan antrean sudah berlangsung selama tiga hari terakhir, bahkan terjadi sejak pagi hingga malam hari.

“Kalau melihat peningkatan antrean ini, tidak terlepas dari isu yang berkembang di media sosial terkait kenaikan harga BBM,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).

Antrean didominasi kendaraan yang mengisi BBM subsidi jenis Pertalite. Pada pukul 11.30 WIB, antrean kendaraan di SPBU tersebut mencapai sekitar 50 meter, dengan sedikitnya 20 unit mobil ikut mengantre, mulai dari kendaraan pribadi hingga angkutan umum dan barang.

Meski antrean panjang terjadi, Dasvid memastikan ketersediaan BBM dalam kondisi normal. Ia menyebut stok Pertalite mencapai 32.000 kiloliter, sementara Pertamax sekitar 16.000 kiloliter.

“Jumlah itu normal, distribusi sempat terhambat cuaca, tapi sejak Lebaran pasokan masih aman,” jelasnya.

Salah satu pengendara, Arisman (45), mengaku terpaksa mencari SPBU lain karena lokasi dekat rumahnya juga dipadati antrean. Ia menyebut kondisi hari ini jauh lebih ramai dibanding biasanya.

“Awalnya saya mau isi di dekat rumah, tapi ramai. Di sini ternyata sama saja,” katanya.

Sementara itu, pengendara lain, Anton (50), mengaku sengaja mengisi penuh tangki sebagai langkah antisipasi di tengah isu kenaikan harga BBM.

“Kalau saya antisipasi saja. Soalnya ada info kenaikan harga, ditambah konflik di Timur Tengah belum mereda,” ujarnya.

Ia bahkan membawa jeriken untuk menyimpan cadangan BBM, jika diperbolehkan oleh petugas.

Di sisi lain, Pertamina menegaskan bahwa informasi mengenai kenaikan harga BBM yang beredar di media sosial tidak benar. Vice President Corporate Communication, Muhammad Baron, memastikan hingga kini belum ada keputusan resmi terkait penyesuaian harga BBM per April 2026.

Situasi ini menunjukkan bagaimana cepatnya penyebaran informasi di media sosial dapat memengaruhi perilaku masyarakat, meski belum tentu didukung fakta resmi.

Baca juga: Harga BBM Non-subsidi Berpotensi Naik, Ekonom: Kalau Bisa Naiknya Jangan Lebih dari Rp 2.000/Liter

Bahlil Buka Suara Isu BBM Naik 1 April

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akhirnya angkat bicara terkait isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang disebut-sebut akan berlaku mulai 1 April 2026.

Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tetap memprioritaskan perlindungan masyarakat kecil dalam setiap kebijakan terkait BBM subsidi. Ia juga memastikan keputusan akhir berada di tangan Presiden Prabowo Subianto.

“Insya Allah atas arahan Bapak Presiden, untuk BBM subsidi sampai dengan sekarang saya pikir Bapak Presiden punya hati untuk memperhatikan rakyat kecil. Percayalah, nanti tunggu tanggal mainnya,” ujar Bahlil, Selasa (31/3/2026).

Menurutnya, Presiden akan mengambil keputusan terbaik dengan mempertimbangkan kepentingan rakyat, bangsa, dan negara di tengah situasi ekonomi yang dinamis.

Di sisi lain, Bahlil menjelaskan bahwa dalam regulasi Kementerian ESDM terdapat dua skema penetapan harga BBM, yakni untuk sektor industri dan non-industri.

Untuk BBM industri seperti RON 95 dan RON 98, harga sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar tanpa intervensi pemerintah. Artinya, perubahan harga bisa terjadi sewaktu-waktu menyesuaikan kondisi global.

“Kalau yang industri, tanpa diumumkan pun dia terus terjadi berdasarkan harga pasar,” jelasnya.

Baca juga: Bos AirAsia Jamin Tarif Maskapainya Tetap Terjangkau meski Ada Krisis BBM

Sementara itu, BBM subsidi menjadi fokus utama pemerintah karena menyangkut kebutuhan masyarakat luas, khususnya kelompok ekonomi menengah ke bawah.

Bahlil menegaskan bahwa BBM non-subsidi umumnya dikonsumsi oleh kalangan mampu, sehingga tidak menjadi prioritas dalam kebijakan subsidi energi.

“Yang kita fokus itu adalah menyangkut subsidi. Saya yakinkan bahwa Bapak Presiden dalam membuat kebijakan selalu mempertimbangkan kondisi masyarakat,” tambahnya.

Pernyataan ini diharapkan dapat meredam kekhawatiran publik di tengah maraknya isu kenaikan harga BBM yang beredar di media sosial dalam beberapa waktu terakhir.

(TRIBUNTIMUR/KOMPAS.COM/TRIBUNNEWS)

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved