Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Korban Tragedi KRL Bekasi Timur Asal Wonogiri Tinggalkan Anak Balita
Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman sementara keluarga berusaha tegar melepas kepergian sosok ibu yang dikenal penyayang dan pekerja keras itu.
Ringkasan Berita:
- Kini, perjalanan pulang yang biasa ia tempuh berubah menjadi perjalanan terakhir yang tak pernah kembali.
- Tak ada yang menyangka, perjalanan berikutnya justru menjadi perjalanan terakhirnya—pulang tanpa bisa kembali lagi.
- Kepergian Anita meninggalkan luka yang begitu dalam
TRIBUNNEWS.COM, WONOGIRI — Perjalanan pulang yang seharusnya menjadi rutinitas biasa justru berubah menjadi akhir yang memilukan bagi Tutik Anita Sari (31). Perempuan asal Wonogiri, Jawa Tengah itu tidak pernah sampai ke rumah setelah menjadi korban kecelakaan tragis antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi, Jawa Barat meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Baca juga: Jangan Asal Bicara ke Korban Selamat KRL Bekasi Timur, Kata yang Salah Bisa Memperparah Luka Batin
Jenazah Anita dimakamkan di pemakaman Dusun Dawe, Desa Watuagung, Kecamatan Baturetno, Wonogiri, Rabu (29/4/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman, sementara keluarga berusaha tegar melepas kepergian sosok ibu yang dikenal penyayang dan pekerja keras itu.
Sang suami, Baskoro Aji (31), masih sulit menyembunyikan kesedihannya. Dengan mata sembab, ia menceritakan detik-detik saat mulai merasa ada yang tidak beres karena sang istri tak kunjung memberi kabar.
Ia pertama kali mengetahui kabar kecelakaan dari media sosial. Sejak itu, rasa cemas langsung menghantuinya.
“Istri saya saat itu pulang kerja, biasanya sampai rumah jam 21.00 WIB. Memang biasanya pulang jam segitu,” ujarnya lirih.
Merasa ada yang janggal, Aji yang saat itu masih bekerja langsung bergegas menuju lokasi kejadian untuk mencari kepastian. Ia berharap bisa menemukan istrinya dalam keadaan selamat.
“Saya kerja. Belum ada kabar. Saya sendiri mencari informasi, kemudian mencari istri saya,” katanya.
Menurutnya, lokasi kecelakaan bukanlah tujuan akhir perjalanan Anita. Masih ada beberapa stasiun yang seharusnya dilalui sebelum tiba di rumah. Hal itu membuatnya yakin untuk langsung mencari ke lokasi setelah komunikasi terputus.
Namun harapan itu akhirnya pupus. Setelah proses identifikasi korban dilakukan, kabar duka yang tak diinginkan pun datang.
“Pastinya jam berapa saya lupa,” ucap Aji singkat, menahan emosi.
Baca juga: Crush Syndrome, Alasan Korban Kecelakaan seperti KRL Bekasi Timur Tak Boleh Langsung Dievakuasi
Kepergian Anita meninggalkan luka yang begitu dalam. Ia berpulang dengan meninggalkan suami serta dua anak yang masih membutuhkan kasih sayangnya.
Anak pertama mereka, laki-laki berusia 10 tahun, kini tinggal bersama kakek dan nenek di Wonogiri. Sementara anak kedua, seorang bayi perempuan, baru berusia 15 bulan.
“Yang pertama cowok usia 10 tahun ikut kakek dan nenek di Wonogiri. Yang kedua masih balita, cewek,” tutur Aji.
Di mata keluarga dan warga sekitar, Anita dikenal sebagai sosok yang hangat dan bertanggung jawab. Ia tak hanya menjadi ibu yang penuh kasih, tetapi juga pekerja keras demi keluarganya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Rumah-duka-korban-KRL-di-Wonogiri.jpg)