Jumat, 15 Mei 2026

Cerita Heroik Perwira AURI Saat Lakukan Serangan Udara ke Mapanget

Tiada keinginan untuk memukul saudara sendiri, mungkin inilah pertanyaan yang menggambarkan pertentangan batin sejumlah perwira AURI

Tayang:
TNI AU
P-51 Mustang. 

Sesampainya di atas Pulau Lambe, kedua kelompok pesawat pembom kemudian memisahkan diri.

Kelompok pertama terdiri dari tiga Mitchell yang dipiloti Sri Mulyono Herlambang, Soewoto Sukendar dan Soedarman yang dikawal Mustang Leo Wattimena, Dewanto dan Rusman menuju Mapanget (kini Bandara Sam Ratulangi).

Sedangkan kelompok berikutnya terdiri dari sebuah B-25 yang dipiloti Suwondo dengan pengawalan dari P-51 Narayana dan Luly Wardiman yang melaju ke Tasuka.

Saat yang mendebarkan pun tiba. Tepat pukul 07:00 waktu setempat, tanpa disadari para pemberontak Permesta, mereka pun tiba-tiba muncul dari balik gunung. Begitupun para personel yang ada di pangkalan udara Mapanget itu pun kebingungan. Begitu pula yang ada di Jailolo.

Belom sempat mereka menyiapkan sistem penangkis serangan udara (PSU) untuk meredam gempuran, gelombang pertama kuda besi Mustang berhasil melakukan straffing. Kedua pangkalan dihujani peluru senapan mesin kaliber 0.50.

Di Mapanget, tak lama setelah PSU-PSU itu dibabat, Mustang berikutnya yang dipiloti Rusman menyerang PBY-Catalina pemberontak yang diparkir di platform.

Tembakan dengan cepat dan tepat merobek-robek pesawat amfibi itu hingga hancur dan terbakar. Rusman pun bergegas mencari sasaran empuk lainnya untuk dilumpuhkan.

Sukses diberi serangan gertakan oleh Mustang, B-25 kemudian memasuki lokasi pemboman, yang diawasi Leo dari ketinggian.

Bom pembuka pun dijatuhkan oleh Mitchell yang dipiloti Sri Mulyono dengan bombardier Kapten Saleh Basarah.

Namun sayang, bom konvensional seberat 2.000 kg kurang tepat menghantam sasaran, karena jatuh hanya di tepi landasan.

Menyadari hal itu, Herlambang pun segera mengontak Soedarman sebagai eksekutor bom berikutnya, untuk melakukan low level bombing.

Cocor merah bernomor ekor M-423 yang ditunggangi Soedarman menukik dari ketinggian 3.000 kaki menuju target dari arah utara.

“Saya tahu betul dengan terbang low level kami pasti disambut tembakan senjata-senjata penangkis serangan udara. Dan ternyata memang benar. Itulah risikonya tugas,” ungkap Soedarman.

Namun Soedarman tak menghiraukan itu.  Meski dihujani peluru tajam, pesawat yang ia kemudikan tetap melaju rendah hingga ketinggian 110 kaki (35 meter). Masuk pasa final approach, Soedarman terbang dengan kecepatan penuh untuk menghindari pancaran peluru yang susul-menyusul.

“Menjelang Short final itu pula, saya arahkan vizier senjata tepat ke tengah-tengah landasan. Masuk landasan, bom pertama saya jatuhkan, namun saya tetap berkonsentrasi pada vizier untuk bom-bom berikutnya.saya tak menghiraukan bahwa kami telah masuk kubu tembakan musuh,” terangnya pada Angkasa mengenang masa itu.

Sumber: Angkasa
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved