Kubik Leadership Gelar Diskusi Hadapi Perubahan Era Disruptif

Lembaga training, coaching dan consulting meluncurkan produk terbaru untuk para leader agar lebih agile dalam menghadapi perubahan di era disruptif in

Kubik Leadership Gelar Diskusi Hadapi Perubahan Era Disruptif
Istimewa
Kubik Leadership, lembaga training, coaching dan consulting meluncurkan produk terbaru untuk para leader agar lebih agile dalam menghadapi perubahan di era disruptif ini. 

Bagian otak yang dibahas adalah Prefontal Cortex (PFC) dan Sistem Limbik. PFC cenderung berpikir rasional, mengandalkan logika. Sementara Sistem Limbik atau otak emosi cenderung emosional.

Dengan mengenali 9 limbik panas dan bagaimana cara kerja PFC dan sistim limbik, peserta kini dapat lebih mudah mengendalikan emosi, tidak mudah terpancing dengan hal negatif yang tiba tiba hadir.

Bahkan pada saat saat genting sekalipun, peserta masih dapat berpikir tenang dan mengambil keputusan terbaik untuk jangka panjang organisasi. Dengan tools sederhana SLP (Smart-Limbic Prevention) Dr Amir memandu peserta langkah demi langkah menerapkan proses Accept, Redefine, dan perolehan New Mindset.

Di sesi berikutnya, Coach Aisya Yuhanida Noor mengajak peserta mengenali diri masing masing, apakah selama ini termasuk pemimpin yang fleksibel, yang mampu melihat kemungkinan kemungkinan dan menghadirkan alternatif baru atau malah cenderung kaku, rigid dan tidak mau berubah sama sekali.

Coach Aisya mengingatkan, bagi pemimpin yang kaku, selain hidupnya dipenuhi dengan kesulitan juga berdampak buruk pada kesehatan. Pemimpin yang kaku pun tidak disukai tim, rekan kerja dan lingkungan, untuk itu segeralah lakukan intervensi pada otak, dan bagian otak yang berperan untuk fleksibel adalah Gyrus Cingulatus.

Coach Aisya menyampaikan bagaimana cara kerja Cingulatus melalui permainan sederhana yang menarik sehingga peserta dapat memahami dengan mudah. Selain itu beliau pun memberikan tips yang dapat dipraktekkan di kehidupan sehari hari agar peserta semakin fleksibel.

Di hari kedua, asisten coach, Warsono Hadi Mulyono, Personal Quality Trainer,yang juga memandu peserta dari hari pertama memastikan seluruh peserta memahami semua materi yang telah di sampaikan melalui pertanyaan singkat dan tes sederhana dengan digital, sebelum masuk ke sesi berikutnya yaitu bagaimana mengambil keputusan dengan tepat dan cepat.

Ternyata banyak pemimpin yang ragu dan tidak berani mengambil keputusan, bisa jadi karena adanya pertimbangan personal (Self Interest), emosi yang mempengaruhi pengambilan keputusan (Emotional Attachment), dan memori masa lalu yang keliru dan cenderung menghambat otak (Misleading Memory). Dokter Amir kemudian menjelaskan apa yang terjadi pada otak dalam proses memilih dan memutuskan yang berkaitan dengan Hot & Cool System.

Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved