Mahasiswa UKSW Berhasil Ubah Kulit Singkong Jadi Bioplastik, Bisa Digunakan Seperti Plastik Biasa

Kesha yang sebelumnya pernah bereksperimen dengan popok bayi dari kulit singkong tersebut menyatakan proses produksi dari bioplastik

Editor: Hendra Gunawan
Istimewa
Tiga mahasiswa UKSW Salatiga menunjukkan karya hasil inovasi berupa plastik terbuat dari kulit singkong, Selasa (18/2/2020). 

TRIBUNNEWS.COM, SALATIGA - Sampah plastik menjadi salah satu sampah dengan jumlahnya yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Laporan PBB, dampak sampah plastik membunuh 1 juta burung laut, 100 ribu mamalia laut, serta ikan dan penyu yang tak terhingga jumlahnya.

Melihat fenomena krisis sampah plastik ini mendorong mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang tergabung dalam tim inovator CASPEEA mengembangkan sebuah produk bioplastik berbahan dasar kulit singkong ramah lingkungan.

Mereka ialah I Gede Kesha Aditya Kameswara, M Sulthan Arkana, mahasiswa program studi Kimia Fakultas Sains dan Matematika (FSM), serta Pambayun Pulung Manekung Stri Sinandang mahasiswi prodi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) UKSW yang berhasil mengembangkan sebuah produk bioplastik berbahan dasar kulit singkong.

Kesha Aditya mengatakan inovasi pembuatan plastik dengan bahan kulit singkong selain lebih ramah lingkungan dalam kulit singkong juga terkandung sekitar 60 persen polisakarida berupa pati yang belum banyak dimanfaatkan.

Selama ini, pati ketela hanya menjadi limbah. Sedangkan Indonesia sebagai salah satu produsen singkong terbesar di dunia dengan kapasitas produksi mencapai 21 juta ton setiap tahun.

"Maka memiliki stok kulit singkong sebagai bahan utama pembuatan bioplastik karena memiliki keberlangsungan (sustainability) yang baik," terangnya dalam rilis kepada Tribunjateng.com, Selasa (18/2/2020)

Menurut Kesha, produk inovasi yang diberi nama 'CASPEEA: A Bioplastic Made from Cassava Peel Wastage to Combat Plastic Waste Crisis Worldwide' tersebut diklaim memiliki ketahanan terhadap beban hingga mencapai 15 Mpa.

Sementara produk bioplastik lainnya hanya dapat menahan beban sebesar 9 Mpa.

Ia menambahkan, apabila plastik biasa yang diproduksi pabrik hanya dapat menahan beban berkisar 20 hingga 30 Mpa.

Kemudian, untuk kemampuan terurainya, bioplastik yang dihasilkan dapat terurai sebesar 34,56 persen selama 3 hari waktu penimbunan didalam tanah.

"Sedangkan produk kompetitor hanya sebesar 18 persen adapun plastik biasa tidak dapat terurai sama sekali.

Hal ini membuat kami yakin kalau produk bioplastik yang kami hasilkan mampu bersaing dengan plastik biasa. Kami juga menjamin bahwa produk ini food grade meskipun ada campuran bahan kimia,” katanya

Kesha yang sebelumnya pernah bereksperimen dengan popok bayi dari kulit singkong tersebut menyatakan proses produksi dari bioplastik CASPEEA ini terbilang mudah karena tidak memerlukan alat canggih.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
KOMENTAR

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved