Tahun 2021 akan Jadi Tahun Tercepat dalam 50 Tahun Terakhir Ini

Gesekan pasang surut dan perubahan jarak antara Bumi dan Bulan semuanya membuat variasi harian dalam kecepatan planet ini berputar pada porosnya

Editor: Eko Sutriyanto
Pexels.com
Ilustrasi Bumi dari luar angkasa. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bagaimana jika perasaan bahwa waktu berlalu begitu cepat itu benar? Memang, Bumi telah berputar sangat cepat belakangan. 

The Jerusalem Post mengutip The Telegraph melaporkan, Bumi sekarang menyelesaikan rotasinya 1,4602 milidetik lebih cepat dari rata-rata 86.400 detik.

Kecepatan rotasi Bumi bervariasi secara konstan karena gerakan kompleks inti lelehnya, lautan dan atmosfernya, serta pengaruh benda-benda angkasa seperti Bulan.

Gesekan pasang surut dan perubahan jarak antara Bumi dan Bulan semuanya membuat variasi harian dalam kecepatan planet ini berputar pada porosnya. 

Bahkan, salju yang menumpuk di pegunungan dan mencair di musim panas dapat mengeser rotasi Bumi.

Baca juga: 17 Keluarga Korban Sriwijaya Air Menyerahkan Sampel DNA

Tanggal 19 Juli 2020 tercatat sebagai hari terpendek sejak pencatatan dimulai pada 1960-an, setelah jam atom yang sangat akurat dikembangkan dan membandingkan panjang hari standar dengan bintang tetap di langit.

Hari terpendek sebelumnya tercatat pada 2005.

Tapi, sepanjang 2020, ada 28 hari lebih cepat dari rata-rata panjang hari 86.400 detik. 

Dan, tahun 2021 bisa menjadi tahun tercepat yang pernah ada, dengan rata-rata hari 0,5 milidetik lebih cepat dari biasanya.

Planet ini berputar semakin cepat sehingga jam atom harus menyelaraskan dengan benar dengan dunia yang berputar.

Ini akan menjadi yang pertama kalinya satu detik dihapus dari jam global.

Baca juga: Update Covid-19 Global: Jumlah Infeksi di Indonesia Kembali Duduki Posisi ke-20

“Memang benar, Bumi sekarang berputar lebih cepat dari kapan pun dalam 50 tahun terakhir,” kata Peter Whibberley, ilmuwan dan peneliti senior pada kelompok waktu dan frekuensi dari National Physical Laboratory, kepada The Telegraph.

“Sangat mungkin, lompatan negatif kedua akan diperlukan jika laju rotasi Bumi semakin meningkat, tetapi masih terlalu dini untuk mengatakan apakah hal ini mungkin terjadi," ujar dia.

“Ada juga diskusi internasional yang sedang berlangsung tentang masa depan detik kabisat, dan ada kemungkinan juga kebutuhan akan detik kabisat negatif dapat mendorong keputusan untuk mengakhiri detik kabisat untuk selamanya,” imbuhnya.

Pada Minggu (10/1), hari hanya berlangsung 23 jam 59 menit 59.9998927 detik. Kemudian, melambat pada Senin (11/1) menjadi sedikit lebih dari 24 jam.

Namun, pada 2021, jam atom diperkirakan akan mengakumulasi keterlambatan sekitar 19 milidetik.

Selanjutnya: Setelah 800 tahun, Jupiter dan Saturnus akan kembali terlihat seperti planet ganda. (Kontan/Jerusalem Post | Editor: S.S. Kurniawan)

Sumber: Kontan
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved