Rabu, 27 Mei 2026

Komet Antarbintang 3I/Atlas Capai Titik Terdekat dengan Bumi 19 Desember

3I/ATLAS telah mencapai titik terdekatnya dengan Matahari pada 29 Oktober saat melintas di bagian dalam tata surya

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
NASA, ESA, David Jewitt (UCLA); Pemrosesan gambar: Joseph DePasquale (STScI)
KOMET 3I/ATLAS - Komet antarbintang 3I/ATLAS akan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada 19 Desember 2025. Komet berada pada jarak sekitar 270 juta kilometer dari Bumi atau hampir dua kali jarak Bumi ke Matahari. 
Ringkasan Berita:
  • Komet antarbintang 3I/Atlas akan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada 19 Desember 2025
  • Komet ini ditemukan pada 1 Juli 2025 dan disebut antarbintang karena berasal dari luar tata surya serta tidak terikat oleh gravitasi Matahari.
  • Sebelumnya, 3I/ATLAS telah mencapai titik terdekatnya dengan Matahari pada 29 Oktober saat melintas di bagian dalam tata surya.
 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komet antarbintang 3I/Atlas akan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada 19 Desember 2025.

Komet berada pada jarak sekitar 270 juta kilometer dari Bumi atau hampir dua kali jarak Bumi ke Matahari.

Namun 3I/Atlas dipastikan terlalu redup untuk dapat diamati dengan mata telanjang.

Dikutip timeanddate, komet 3I/Atlas merupakan objek antarbintang ketiga yang pernah dikonfirmasi dalam sejarah. 

Komet ini ditemukan pada 1 Juli 2025 dan disebut antarbintang karena berasal dari luar tata surya serta tidak terikat oleh gravitasi Matahari.

Sebelumnya, 3I/ATLAS telah mencapai titik terdekatnya dengan Matahari pada 29 Oktober saat melintas di bagian dalam tata surya.

Saat ini tim peneliti dari Institute of Astrophysics, Pontifical Catholic University of Chile (PUC) di Santiago, yang dipimpin Thomas Puzia  memantau perkembangan komet tersebut.

Baca juga: NASA Kehilangan Kontak dengan Wahana MAVEN di Mars, Investigasi Teknis Dimulai

Observasi menggunakan teleskop dengan teknik spektroskopi, yakni metode untuk mengidentifikasi unsur dan molekul berdasarkan pola spektrum cahaya yang dipancarkan objek langit.

Melalui analisis tersebut, para astronom menemukan indikasi keberadaan sejumlah unsur dan molekul, termasuk uap air, es, serta kemungkinan nikel.

Menariknya, keberadaan nikel terdeteksi ketika komet masih berada cukup jauh dari Matahari dan dalam kondisi sangat dingin, sebuah temuan yang tergolong tidak biasa.

Unsur serupa sebelumnya juga ditemukan pada komet antarbintang 2I/Borisov yang terdeteksi pada 2019.

“Lintasan masuk komet ke tata surya memberi gambaran kimia permukaannya, sedangkan lintasan keluar membantu kami mempelajari kimia inti,” ujar Puzia.

Ia menambahkan, proses pemanasan saat mendekati Matahari membuat para peneliti berpacu dengan waktu karena material asli komet dapat berubah menjadi gas dan menghilang.

Selain perubahan kimia, kecepatan 3I/Atlas juga mengalami dinamika signifikan.

Seperti komet pada umumnya, objek ini melaju lebih cepat saat mendekati Matahari dan melambat ketika menjauh, sehingga para astronom harus menyesuaikan perhitungan karena perubahan tersebut memengaruhi spektrum cahaya yang diamati.

Asal Usul Komet 

Hingga kini, asal-usul 3I/Atlas masih menjadi pertanyaan utama. 

Berdasarkan komposisi kimianya, komet ini diduga merupakan objek kaya es yang terbentuk di pinggiran cakram protoplanet di sekitar suatu bintang di Galaksi Bima Sakti.

Para ilmuwan berharap data lanjutan dapat membantu menentukan lokasi dan periode pembentukannya.

Ukuran 3I/Atlas sendiri masih menjadi perdebatan, dengan estimasi berkisar antara 320 meter hingga 5,6 kilometer.

Tim peneliti berencana memanfaatkan pengamatan inframerah untuk mempersempit rentang perkiraan tersebut, karena cahaya inframerah mampu menembus debu di sekitar komet.

Pengamatan terhadap 3I/Atlas melibatkan jaringan astronom global dan sejumlah instrumen antariksa, termasuk Teleskop Luar Angkasa Hubble serta wahana milik Badan Antariksa Eropa (ESA).

Peneliti berharap komet ini dapat memberikan petunjuk penting tentang keragaman kimia di galaksi, bahkan membuka kemungkinan ditemukannya unsur penting bagi kehidupan, seperti fosfor.

“Objek ini seperti pesan purba dari luar tata surya,” kata Puzia.

“Ia memberi tahu kita bahwa variasi kimia di Bima Sakti jauh lebih kaya daripada yang kita kenal di lingkungan tata surya,” katanya.  Sumber

 

 

 

 

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved