Kamis, 9 April 2026

Menyelamatkan Cetik Lampung yang Tergerus Zaman

Banyaknya alat musik moderen, membuat alat musik tradisional seperti Gamelon Pkhing atau cetik Lampung mulai ditinggalkan

Laporan Wartawan Tribun Lampung, Bayu Saputra

TRIBUNNEWS.COM, BANDAR LAMPUNG - Banyaknya alat musik moderen, membuat alat musik tradisional seperti Gamelon Pkhing atau cetik Lampung mulai ditinggalkan

Namun, Syafril Yamin, sudi melestarikan warisan budaya asal Lampung Barat. Saat ditemui Tribun Lampung (Tribunnews.com Network) di kediamannya, Senin (21/1/2013), Syafril mengatakan bahwa seni budaya harus tetap dilestarikan, terutama alat musiknya.

Karena, unsur dari kesenian tidak terlepas dari alat musik. Bagaimanapun, alat musik cetik Lampung yang merupakan warisan budaya Lampung, harus tetap terjaga populasinya, dan wajib dilestarikan.

”Sudah lama saya berkecimpung dalam pembuatan cetik, tepatnya dari 1991, hingga mengajarkan cetik ke seluruh sekolah di Bandar Lampung," ujarnya..

"Mengapa saya bisa terjun di dunia seni cetik ini? Karena, menurut saya budaya Lampung harus tetap dijaga dan dilestarikan, sehingga tidak punah. Besar harapan saya, cetik bisa seperti alat musik anglkung dari Jawa Barat, atau gamelan dari Jawa Tengah yang telah mendunia,” harap Syafril.

Alat musik cetik, jelasnya, berasal dari Kerajaan Sekala Brak, dan sudah ada sejak abad keempat. Zaman dulu, cetik merupakan alat musik untuk mengiringi acara-acara dalam kerajaan.

Nama cetik berasal dari bilah-bilah bambu betung yang dibelah. Satu bilah berukuran sepanjang 10 sentimeter, dan lebar tujuh sentimeter. Panjang rangka 45 sentimeter, dan lebar secara keseluruhan 32 sentimeter, dengan ketinggian 15 sentimeter.

Syafril menjelaskan, perbedaan cetik dengan alat musik lainnya, terletak pada nada dasarnya. Cetik tidak punya nada fa, dengan laras pelok sebanyak enam nada.

Keunikan lain dari cetik karena memiliki tabuhan adat. Ada empat tabuhan adat yang bisa dinikmati oleh pendengarnyan yakni tabuh sambai agung, tabuh sekeli, tabuh jarang, dan tabuh labung angin.

Keempat tabuhan sering dimainkan dalam acara-acara kerajaan. Namun dengan berkembangnya zaman, cetik sudah bisa dikolaborasikan dengan alat musik lain.

Selain memproduksi cetik, Syafril juga mengajarkan bagaimana memainkan alat musik cetik kepada siswa di Bandar Lampung. Pada 2008, Syafril pernah mengikuti Surabaya Full Music, Festival Jazz 2012 di Jakarta, dan selalu mengikuti Festifal Krakatau yang dihelat Pemprov Lampung.

Syafril mengaku sudah membuat sekitar 8.000 unit cetik. Ia berharap, cetik yang ia buat bisa membuat para pemain cetik selalu melestarikan budaya Lampung, serta mampu membawa nama harum Lampung di kancah nasional dan internasional. (*)

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved