Breaking News:

Misteri di Balik Kematian Marilyn Monroe

Saya segera merasa, mayat yang harus saya autopsi ini merupakan kasus istimewa, karena saat itu hadir John Miner, wakil kepala kejaksaan setempat.

Youtube
Marilyn Monroe 

Perdebatan kematian bintang film Marilyn Monroe sedikit terkuak melalui autopsi yang dilakukan oleh Dr. Thomas T. Noguchi pada bukunya Coroner to the Stars.

TRIBUNNEWS.COM - Dr. Thomas T. Noguchi, seorang ahli kedokteran forensik dari Los Angeles, adalah pengagum Marilyn Monroe.

Tanpa diduga-duga, ia mendapat tugas untuk "berkenalan" dengan sang bintang.

Sayangnya, perkenalan pribadinya itu terjadi setelah mereka menjadi mayat.

Berikut pengalamannya yang dibukukan dalam Coroner to the Stars yang ditulisnya bersama Joseph DiMona.

Tanggal 5 Agustus 1962, pukul 09.30 saya berjalan di lorong yang menuju ke ruang autopsi. Begitu pintu ruang dibuka, segera tercium bau formalin, pertanda hadirnya kematian. Di hadapan saya, diterangi cahaya lampu neon, terdapat ruang tanpa jendela. Meja-meja autopsi yang terbuat dari baja tahan karat berjejer dengan rapi. Setiap meja dilengkapi dengan selang air dan sistem pengaliran air. Selain itu masing-masing mempunyai tempat cuci tangan dan timbangan.

Ada pula tape recorder, karena dokter ahli patologi biasanya mendiktekan hasil pengamatan mereka pada alat itu sambil melakukan pekerjaannya atau sesaat setelah mulai.

Saya segera merasa, mayat yang harus saya autopsi ini merupakan kasus istimewa, karena saat itu hadir John Miner, wakil kepala kejaksaan setempat.

Jenazah di meja 1 ditutup dengan kain putih. Perlahan-lahan saya singkapkan kain itu. Tiba-tiba saja tangan saya berhenti. Wajah di balik kain itu tidak lain daripada Marilyn Monroe!

Untuk pertama kalinya dalam kehidupan profesional saya, saya merasa tergugah memandang jenazah di meja autopsi. La begitu cantik dan masih muda. la punya bakat dan semangat untuk maju, sehingga dari buruh pabrik ia menanjak menjadi wanita yang bisa berdampingan dengan para presiden. Kini semuanya itu sudah berlalu. Sayang!

Halaman
1234
Editor: Hasanudin Aco
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved