Lelang Perawan

Lelang Keperawanan Sarah Keihl Disebut Langgar Norma hingga Tak Pantas Dianggap Candaan

Sarah Keihl lelang keperawanan Rp 2 miliar, feminis muslim Sri Kusumo Habsari sebut Sarah hanya kejar viral dan tak pantas disebut candaan sarkasme.

Instagram/@sarahkeihl
Selebgram Sarah Keihl ngaku lelang keperawanan hanya bercanda. 

TRIBUNNEWS.COM - Baru-baru ini, media sosial tengah dihebohkan dengan kabar selebgram sekaligus pengusaha Sarah Keihl yang melelang keperawanannya demi membantu korban corona.

Tak lama setelah kabar itu viral, Sarah membuat klarifikasi bahwa lelang keperawanan itu hanyalah candaan yang bersifat sarkasme untuk menyindir orang-orang pelanggar aturan Covid-19.

Menanggapi hal itu, Dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dra. Sri Kusumo Habsari, M.Hum.,Ph.D. menganggap apa yang dilakukan Sarah semata hanya untuk mencari ketenaran atau mengejar viral.

Dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dra. Sri Kusumo Habsari, M.Hum.,Ph.D. yang merupakan seorang feminis muslim sekaligus pakar studi jender dan budaya.
Dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dra. Sri Kusumo Habsari, M.Hum.,Ph.D. yang merupakan seorang feminis muslim sekaligus pakar studi jender dan budaya. (dosen.fib.uns.ac.id)

Baca: Sarah Keihl Bercanda Lelang Keperawanan, Model AS Rela Jual Foto Bugil Bantu Korban Kebakaran Hutan

Habsari yang merupakan seorang feminis menyebut status Sarah sebagai influencer atau pegiat media sosial menjadi alasan utamanya untuk membuat sensasi lelang keperawanan.

Menurut Habsari, Sarah menyadari bahwa citra negatif di mata masyarakat Indonesia tak akan melekat lama.

Masyarakat Indonesia akan mudah lupa mengenai sensasi yang dibuat Sarah, sehingga nantinya martabat atau kehormatan yang tercoreng seolah bukan menjadi masalah.

"Sebagai seorang yang sangat akrab dengan media sosial, dia tahu kalau masyarakat Indonesia mengidap amnesia dalam hal pemberitaan," ujar Habsari kepada Tribunnews.com, Kamis (21/5/2020).

"Seseorang tidak perlu menjaga martabat maupun kehormatannya karena masyarakat mudah mengutuk dan kemudian berubah menjadi memuja," sambungnya.

Dari kacamata seorang feminis, melelang keperawanan adalah hak seorang wanita.

Namun, lelang keperawanan yang Sarah klaim sebagai candaan ini sudah melanggar norma sosial di masyarakat.

Sedangkan sebuah candaan tak pantas untuk disebut sebagai candaan jika sudah melanggar norma.

Halaman
1234
Penulis: Ifa Nabila
Editor: Daryono
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved