Nunung dan Kondisi Kesehatannya
Tunggu Hasil Biopsi, Nunung Srimulat Pasrah, Tapi Masih Harap Benjolan di Dada Bukan Kanker Payudara
Nunung Srimulat bilang benjolan di sekitar payudaranya sudah lama ada. Namun ia tak pernah anggap benjolan itu sebagai masalah kesehatan serius.
TRIBUNNEWS.COM - Berdasarkan diagnosis sementara, Nunung Srimulat divonis kanker payudara karena memiliki benjolan di dada yang kian membesar dan mulai mengganggu.
Namun, komedian pemilik nama Tri Retno Prayudati masih berharap benjolan di dadanya bukanlah bagian dari tanda kanker payudara.
Untuk memastikan kanker payudara atau bukan, Nunung menjalani biopsi, Selasa (31/1/2023).
Biopsi adalah salah satu tes yang biasanya dilakukan untuk mendeteksi dan memantapkan diagnosis penyakit kanker.
Hasil biopsi dijadwalkan keluar pada Sabtu (4/2/2023). Nunung mengaku sudah siap menerima apapun hasilnya.
Baca juga: Ada Benjolan di Dada dan Sakit, Nunung Srimulat Didiagnosis Kanker Payudara, Singgung Genetik
"Dua hari lalu aku biopsi, operasi kecil. Ambil sampel. Nah, sampelnya sudah ada. Nanti hasilnya hari Sabtu baru kelihatan," kata Nunung saat ditemui di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Kamis (2/2/2023).
"Aku sih masih punya keyakinan, amin Ya Allah, mudah-mudahan masih ada harapan ini cuma biasa," lanjutnya.
"Ini masih ada harapan buat saya, biopsi ini. Mudah-mudahan hanya kelenjar yang bisa ditindak. Biarpun operasi bisa diambil, tapi jangan mengarah ke situ (kanker)," ucap Nunung.
Nunung tidak memungkiri merasakan takut hingga menangis saat pertama kali mendengar vonis kankernya.
Namun, Nunung kini belajar untuk berpasrah kepada Tuhan dan menerima keadaannya.
"Aku bisanya saat itu cuma nangis. Ya manusiawi, nangis, takut. Tapi akhirnya ya sudahlah aku coba memasrahkan diri, menerima hasilnya. Apa pun nanti hasilnya aku sudah siap untuk menerima. Pasrahkan semua kepada Tuhan. Yang terbaik," ungkap Nunung.
Nunug awalnya cuek dengan benjolan di dadanya
Nunung menceritakan bahwa benjolan di sekitar payudaranya itu sudah lama ada. Namun ia tak pernah menganggap benjolan itu sebagai masalah kesehatan yang serius.
Meski sempat curiga karena ada riwayat kanker di keluarganya, Nunung sempat berpikiran positif bahwa itu hanya benjolan biasa.
"Sebetulnya udah lama aku pikir awalnya benjolan biasa aja, karena selama ini gak ganggu. Aku ada curiga karena keluarga aku ada generik cancer, ibu, bapak sama kakak dia sama kayak saya juga," ujar Nunung dikutip Tribunnews.com dari YouTube MOP Channel, Kamis (2/2/2023).
Baca juga: Didiagnosis Kanker Payudara, Nunung Srimulat: Saya Lemas, Cuma Bisa Menangis
Nunung menuturkan bahwa lama kelamaan benjolan tersebut sangat sakit dan mengganggu aktivitasnya sehari-hari.
"Awalnya saya diemin tapi ko ganggu di ketiak makin gede sampai bawa tas aja udah gak kuat," ungkap Nunung.
Sempat tak berani bicara ke keluarga khususnya suami soal benjolan itu, Nunung akhirnya jujur dan langsung dibawa ke rumah sakit oleh suaminya.
Nunung masih ingat betul, dokter yang menanganinya adalah dokter yang sama ketika menangani kakaknya yang meninggal karena kanker.
Nunung Srimulat ketika ditemui di kawasan Cawang, Jakarta Timur, Kamis (27/10/2022). (Warta Kota/Arie Puji Waluyo)
"Saya gak berani ngomong ke keluarga, akhirnya aku bilang ke suami karena aku pikir awalnya ini bukan apa-apa.
Suami nyaranin ke dokter akhirnya ke rumah sakit, kebetulan dokter yang nanganin saya dia yang nanganin kakak," beber Nunung.
"Akhirnya dokter cek terus dia curiga karena ada turunan akhirnya harus USG dan mamografi itu dulu, setelah selesai bener ini benjolan udah 2cm," ucapnya.
Ia sudah melakukan berbagai tindakan medis, dan masih terus berharap bahwa benjolan kanker itu masih dini sehingga belum menyebar kemana-mana.
"Aku juga sempet kayak rontgen gitu, semoga gak kemana-mana dan aku yakin ini masih dini, sempet diambil sample pas diambil sample aku tuh inget ini persis kayak sample kakak aku dulu," katanya.
Peluang kesembuhan pasien kanker payudara
Sebanyak 70-80 persen pasien kanker payudara terlambat mendeteksi kanker dan sudah dalam kondisi stadium lanjut.
Padahal, jika terdeteksi lebih dini, maka peluang kesembuhan melebihi 90 persen.
Dokter Spesialis Onkologi Mayapada Hospital dr. Bajuadji, Sp.B(K)Onk, MARS membenarkan bahwa pasien yang datang rata-rata sudah stadium lanjut, yakni stadium tiga atau empat.
“Sangat rendah kesadaran kita. Angka kesadaran soal cancer. Dibuktikan dengan angka kunjungan yang datang ke poli. Ini kenapa? Ada beberapa faktor penyebabnya,” jelasnya secara virtual baru-baru ini.
Menurut dr. Bajuadji, alasan pertama dikarenakan saat ini, kanker payudara sudah ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, jadi pasien berobat lebih berani dan datang ke RS, yang membuat angka kunjungan juga lebih meningkat.
Alasan kedua, pasien malu memeriksakan diri jika ada benjolan di payudara. Kemudian, pasien juga dipengaruhi oleh kesadaran, faktor pendidikan, dan faktor sosial budaya.
“Hal ini membuat pasien umumnya tak tahu ini suatu tanda-tanda keganasan, apakah tanda-tanda tumor jinak, enggak tahu sama sekali,” katanya.
Lebih lanjut, dr. Bajuadji juga menjelaskan faktor lainnya yang membuat pasien terlambat datang ke RS karena menggunakan pengobatan alternatif atau herbal, misalnya ke sinshe atau akupuntur, yang sebenarnya tidak terlalu aware dengan adanya benjolan.
Baca juga: Kanker Payudara Harus Ditangani dengan Pengobatan Medis Bukan Herbal
Guna mencegah terjadinya keparahan kanker payudara dibutuhkan deteksi sedini mungkin, misalnya sebelum memeriksakan diri secara medis, perempuan bisa mengecek sendiri dengan Sadari (periksa payudara sendiri). Sementara pemeriksaan medis bisa dilakukan dengan alat mammogram.
Deteksi dini adalah cara paling tepat untuk mencegah terjadinya penyakit tersebut. Cara mendeteksi yang paling gampang adalah dengan Sadanis (periksa payudara secara klinis), yang merupakan standar WHO dan harus menggunakan alat mammogram.
“Sebelum pemeriksaan Sadari dan Sadanis, itu kita mesti tahu dulu gejala atau keluhan pada keganasan payudara,” ujar dr. Bajuadji.
Berbicara gejalanya, 80 persen dari pasien pengidap kanker payudara mengeluh adanya benjolan. Benjolan itu bisa disertai rasa nyeri, bisa juga tidak disertai rasa nyeri atau benjolan di ketiak.
Keluar cairan dari puting susu bisa berwarna merah darah, kuning, putih atau bening, dengan bentuk puting susu masuk ke dalam.
Terdapat juga perubahan bentuk dan permukaan dari payudara, bisa ukurannya menjadi lebih besar dari payudara normal. Umumnya payudara yang sakit, lebih besar ukurannya. Kemudian ada luka di area puting susu (areola) mirip lecet atau luka biasa.
Warna kulit payudara juga menjadi kemerahan, atau seperti gambaran kulit jeruk. Jika ada luka, dr. Bajuadji menyebut paling tidak sudah mencapai stadium 2-3 lanjut.
Faktor risiko dan sederet mitos seputar kanker payudara
Banyak mitos seputar kanker payudara, yang pada umumnya diduga karena memakai bra saat tidur di malam hari. Pemakaian deodoran hingga terlalu banyak konsumsi gula juga disebut-sebut pemicu sel kanker pada payudara.
“Jadi yang tadi disebutkan, bra malam hari kawat atau deodoran atau pewangi, pemakaian bra dan gula, sama sekali tak ada hubungannya, tak ada kaitannya,” ungkap dr. Bajuadji.
Lantas, apa faktor risiko atau pemicu kanker payudara? Ada sederet penyebabnya, antara lain;
1. Penggunaan pengobatan hormon seperti KB pil, suntik, atau implan. Atau juga pengobatan hormon lainnya, bisa menjadi faktor risiko karena mengganggu keseimbangan hormon.
2. Faktor risiko lainnya misalnya pasien memiliki riwayat haid pertama kurang dari 10 tahun
3. Menopause di atas usia 50 tahun
4. Anak pertama dilahirkan ibunya usia 35 tahun
5. Wanita yang tak pernah menyusui
6. Perempuan tak pernah melahirkan atau punya anak.
7. Perempuan punya riwayat operasi payudara itu faktor keganasan juga
8. Genetik
Kanker payudara berdasarkan stadium dan peluang kesembuhan
Stadium 1: Kondisi klinis ukurannya kurang dari 2 cm tak ada penyebaran kelenjar getah bening di ketiak. Angka peluang kesembuhan di atas 90 persen.
Stadium 2: Kondisi klinis ukuran 2-4 cm. Dan sudah ada penyebaran kelenjar getah bening di ketiak. Angka peluang kesembuhan atau 70-80 persen.
Stadium 3: Kondisi klinis 4-6 cm atau sudah menyebar menembus ke otot dinding belakang. Sudah ada koreng atau borok di payudara, dan ada penyebaran kelenjar getah bening di ketiak, dan di atas ketiak, bahkan sampai ke leher bagian bawah dan atas. Itu stadium 3 A, B, dan C. Angka peluang kesembuhan 40-60 persen.
Stadium 4: Berapapun ukuran tumor, sudah ada penyebaran kelenjar getah bening di ketiak, leher bagian bawah dan atas. Dan terjadi penyebaran ke organ jauh, hati, paru dan tulang. Angka peluang kesembuhan 10-20 persen. Pasien mengalami keluhan sesak napas, batuk darah, ada cairan di paru-paru. Angka peluang kesembuhan hanya 10-20 persen.
“Misalnya kalau menyebar ke hati yang dirasakan mual muntah, berat badan turun drastis, mata kuning kulit kuning, HB turun. Lalu pasien juga terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Dalam 6 bulan pertama, dari 100 pasien hanya 10 orang yang hidup, sisanya meninggal. Karena sudah terjadi gagal organ,” ungkapnya.
Intinya, dr. Bajuadji menegaskan bahwa kanker payudara tidak bisa sembuh total, karena semua kanker pada umumnya tidak bisa sembuh 100 persen. Misalnya, kanker payudara stadium 1, angka pertumbuhannya bisa 98-99 persen, tapi masih 1-2 persen sel-sel kanker yang tidur yang sewaktu-waktu bisa tumbuh lagi dalam beberapa tahun mendatang.
Bahkan kadang tumbuh lagi di organ lainnya, bisa di otak, hati hingga tulang. Jadi pasien yang sudah melakukan pengobatan diharapkan untuk tetap bisa kontrol ke RS.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/nnungfpdsj.jpg)