Rabu, 22 April 2026

Pestapora 2025

Manggung di Pestapora 2025 Hari Ketiga, Sal Priadi Singgung Soal Kepunahan Massal Keenam

Berbeda dengan sebagian rekan musisi, Sal memilih jalur lain dengan tetap manggung serta mendonasikan fee-nya untuk mendukung penanganan krisis iklim.

Tribunnews/M Alivio Mubarak Junior
KAMPANYE PERUBAHAN IKLIM - Penyanyi Sal Priadi tampil di hari ketiga festival musik Pestapora 2025 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (7/9/2025). Dalam penampilannya, Sal membawakan deretan lagu andalannya di antaranya yakni Gala Matahari, Hi Selamat Pagi, Jelita, dan Malam-Malam, Ubud. Tak hanya itu, pada kesempatan ini ia juga menyuarakan isu krusial tentang perubahan iklim di Indonesia. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyanyi Sal Priadi tampil di hari ketiga festival musik Pestapora 2025 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (7/9/2025).

Baca juga: 7 Fakta Pestapora 2025 yang Bikin Beda dari Tahun Sebelumnya: Lebih dari Sekadar Musik

Dalam penampilannya, Sal membawakan deretan lagu andalannya di antaranya yakni Gala Matahari, Hi Selamat Pagi, Jelita, dan Malam-Malam, Ubud.

Tak hanya itu, pada kesempatan ini ia juga menyuarakan isu krusial tentang perubahan iklim di Indonesia.

Ia menyoroti peringatan Jakarta menjadi kota dengan laju penurunan tanah tercepat di dunia. 

Sal menegaskan krisis iklim berpotensi menghilangkan keindahan alam sekaligus sumber pangan yang seharusnya diwariskan kepada generasi mendatang.

Tak hanya memberi informasi, ia juga mengajak penonton tanya jawab.

"Apa yang terjadi jika suatu spesies terjebak di habitat yang tidak layak huni?" tanya Sal Priadi.

"Punah," jawab penonton.

Pesan ajakan menjaga lingkungan turut terpampang di layar, seperti memilah sampah, menggunakan transportasi publik, mengurangi plastik sekali pakai, menghemat listrik, menanam pohon, hingga berbelanja pakaian secara bijak.

Adapun data di layar besar di sisi panggung yaitu menunjukkan permukaan Laut Jawa naik 3 sampai 5 mm per tahun, sementara tanah Jakarta mengalami penurunan hingga 10 cm per tahun, yang berpotensi mempercepat tenggelamnya ibu kota.

Baca juga: The Adams Kembalikan Uang Manggung ke Pestapora 2025, Pilih Gunakan Panggung Untuk Bersuara

Layar juga menampilkan peringatan tentang kepunahan massal keenam dalam sejarah bumi. Kepunahan massal keenam atau juga dikenal sebagai Kepunahan Holosen, adalah krisis besar yang sedang berlangsung di mana tumbuhan dan hewan menghilang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, terutama disebabkan oleh aktivitas manusia seperti deforestasi, polusi, perburuan, dan perubahan iklim

Jika sebelumnya disebabkan faktor alam seperti asteroid atau letusan gunung berapi, kini penyebab utamanya adalah aktivitas manusia: deforestasi, eksploitasi sumber daya alam, dan perubahan iklim.

Sebelumnya, Sal Priadi sempat menegaskan keputusannya untuk tetap tampil di hari ketiga Pestapora, meski sejumlah musisi memilih mundur.

"Pertunjukan akan tetap terjadi, dengan alasan sederhana tapi penting; ada cerita orang-orang yang sudah beli tiket dengan usaha yang belum tentu mudah. Hal itu sangat menggerakkan aku," tulisnya di Instagram.

Berbeda dengan sebagian rekan musisi, Sal memilih jalur lain dengan tetap manggung dan mendonasikan fee-nya untuk mendukung penanganan krisis iklim.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved