Sikap Barasuara saat Santer Isu Musisi Indonesia Ikut Cabut dari Spotify
Isu boikot terhadap platform streaming musik Spotify beredar di kalangan musisi tanah air.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fauzi Alamsyah
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Isu boikot terhadap platform streaming musik Spotify beredar di kalangan musisi tanah air.
Baru-baru ini Seringai resmi cabut dari Spotify dan menghapus semua lagu mereka dari layanan tersebut.
Baca juga: Seringai Cabut dari Spotify, Protes Investasi Daniel Ek di Industri Militer
Dua personel grup band Barasuara, Iga Masardi dan Gerald Situmorang ikut bersikap menanggapi hal tersebut.
Isu boikot terhadap Spotify yang beredar di kalangan musisi Indonesia dan internasional dipicu oleh beberapa alasan utama yang menyentuh aspek etika, finansial, dan solidaritas sosial.
Daniel Ek, CEO Spotify, dilaporkan menginvestasikan sekitar US$700 juta ke perusahaan pertahanan Jerman bernama Helsing, yang mengembangkan teknologi AI untuk pesawat tempur dan sistem militer yang diduga mendanai perang di Gaza.
Iga Massardi dan Gerald Situmorang, mengakui situasi ini menjadi dilema bagi para musisi.
“Ini memang jadi masalah yang dilematis ya. Karena banyak konflik batin di situ,” ujar Iga Massardi saat ditemui di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (14/10/2025).
Di sisi lain, Barasuara masih memikirkan para penggemarnya untuk bisa mendengarkan karya-karya mereka.
Baca juga: Spotify Diboikot, Musisi Global Kompak Tarik Karya Usai Sang CEO Diduga Danai Perang Gaza
“Kami juga memikirkan bagaimana pendengar kami bisa mengakses lagu-lagu Barasuara, dan sejauh ini Spotify masih jadi platform yang paling banyak digunakan," lanjut Iga.
Meski demikian, Iga menegaskan bahwa posisi Barasuara tetap jelas dalam menolak segala bentuk penindasan dan kekerasan terhadap kemanusiaan.
“Ini bukan berarti kami tidak mendukung Palestina. Kami tetap punya jarak yang tegas kami anti genosida, menolak keras, dan mengutuk segala bentuk penjajahan atau pemusnahan etnis,” lanjutnya.
Sementara itu, Gerald Situmorang menambahkan bahwa keberadaan karya di platform digital juga bisa menjadi bentuk "perlawanan dari dalam".
“Kayak Iga udah nulis lagu ‘Habis Gelap’. Menurut gue, justru ketika karya itu tetap ada di platform, bisa jadi bentuk serangan dari dalam juga,” kata Gerald.
Barasuara sendiri hingga kini masih mempertahankan seluruh katalog musik mereka di berbagai layanan streaming, termasuk Spotify, sambil tetap menyuarakan pesan-pesan kemanusiaan melalui karya.
Seringai Cabut Dari Spotify
Sebagai informasi, grup musik Seringai tiba-tiba tak lagi menampilkan katalog lagu-lagu mereka di platform streaming Spotify.
Pantauan Tribunnews, seluruh lagu dan album Seringai sudah tak tersedia lagi di Spotify.
Namun, nama Seringai masih bisa ditemukan dengan hanya menyisakan dua lagu soundtrack berjudul Satu Sisi dan Menyerang, serta Lencana.
Kabar tersebut pun dikonfirmasi langsung oleh manajer Seringai, Wendi Putranto.
Ia membenarkan bahwa band yang kini digawangi Arian Arifin, Sammy Bramantyo, dan Edy Khemod itu resmi menarik seluruh katalog mereka dari Spotify.
“Betul, hanya mundur dari Spotify. Tapi masih tersedia di streaming platform musik lainnya kok,” kata Wendi Putranto saat dihubungi awak media, Selasa (14/10/2025).
Menurut Wendi, keputusan Seringai ini merupakan bentuk sikap atas tindakan CEO Spotify, Daniel Ek.
“Karena Daniel Ek (CEO Spotify) terbukti melakukan investasi sebesar 600 juta Euro ke perusahaan teknologi drone & AI untuk pengembangan militer. Band members Seringai dan seluruh karya yang diciptakan oleh mereka menolak terafiliasi dengan kegiatan tersebut maupun menolak mendukung peperangan,” jelas Wendi.
Sebelumnya, grup Majelis Lidah Berduri juga menarik seluruh katalog musiknya dari Spotify sebagai bentuk protes terhadap langkah investasi kontroversial tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/spotify-premium-_.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.